info@indonesiamengajar.org (021) 7221570 ID | EN

Namanya Imran

Soleh Nugraha 4 Maret 2011
Namanya Imran. Hanya Imran, takada tambahan apa pun. Dia merupakan salah satu siswaku di kelas 3. Imran memang bukanlah sang juara kelas yang selalu mendapatkan nilai tertinggi dan mampu menjawab semua pertanyaanku ketika teman-teman yang lainnya masih sibuk berpikir. Imran juga bukan anak yang memiliki kebutuhan khusus karena mengidap sebuah kelainan psikologis. Imran tidak terlalu berbeda dengan anak-anak kelas tiga yang lain. Dia senang bermain-main, terkadang dia juga menangis jika ada yang menghinanya atau terpukul saat bermain-main dengan yang lain. Namun, ada sesuatu yang aku kagumi darinya. Suatu hari, aku meminta siswa kelas tiga untuk menggambar. “Gambarlah apa pun yang ingin kalian gambar!” Aku memberikan kapur kepada tiap-tiap siswa. Kemudian mempersilakan mereka untuk menggambar apa saja yang mereka mau di papan tulis. Sebelum aku selesai memberikan petunjuk, mereka sudah langsung berebut lapak menggambar di papan tulis. Karena jumlah siswa kelas tiga 15 orang, maka tidak semuanya mendapatkan tempat di papan tulis. Anak-anak yang tidak mendapatkan tempat langsung mengambil kursi, dan naiklah mereka ke atas kursi untuk menjangkau spot kosong di bagian atas papan tulis. Akhirnya semua mendapatkan tempat yang sesuai dengan yang mereka mau. Sepuluh menit sudah berlalu. Hampir semua anak mampu menyelesaikan gambarnya. Ternyata keadaannya tidak terlalu jauh berbeda dengan keadaan saya dan teman-teman saya dulu sewaktu SD. Gambarnya tidak terlalu variatif. Namun, bedanya kalau dulu saya dan teman-teman selalu menggambar sebuah pemandangan yang sama, yaitu dua buah gunung yang bersampingan, di tengah-tengahnya ada matahari, kemudian di bawahnya ada sawah yang lengkap dengan gubuknya  dan ada jalan yang membelah sawah. Semua hampir menyuguhkan gambar yang sama, orang-orang kreatif hanya menambahkan awan dan burung di bagian atas gambarnya, murid-murid saya menggambar rumah panggung dan bunga. Yang membedakan antara mereka hanyalah ada atau tidak adanya tangga di bagian bawah rumah panggung atau jumlah bunganya. “Cukup, waktu kalian habis!” Mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing. “Sekarang Bapak akan panggil satu per satu, kemudian yang dipanggil silakan maju untuk menjelaskan gambarnya!” Meski sedikit malu-malu, mereka mampu menjelaskan gambarnya di depan kelas. Semua hampir sama, menjelaskan sesuai dengan yang terlihat di gambar, misalnya “Saya menggambar rumah. Punya tiga jendela. Pintunya satu. Ada tangganya.” Atau “Saya gambar bunga. Ada empat bunganya. Bunga ini bunga matahari.” Tiba-tiba sesuatu yang megejutkan terjadi ketika Imran yang mendapat giliran. Yang dia gambar memang hampir sama dengan yang lain, yaitu sebuah pohon yang memiliki empat bunga yang tertancap di atas pot yang berisi tanah, namun cerita gambarnya yang berbeda. “Saya gambar bunga. Ada empat. Ada akarnya juga. Akarnya ada air terus airnya ke atas.” Saya langsung terkejut. Imran, yang membaca saja belum lancar, yang kemampuan berbahasa Indonesianya saja masih kurang, yang sedikit lebih cengeng dari anak-anak yang lain, mampu menjelaskan seperti itu. Dia bukan hanya menjelaskan gambar, tapi menyinggung fungsi akar. Beberapa hari sebelumnya, di Rumah Belajar Cahaya Pelita, saya memang pernah menjelaskan fungsi bagian-bagian tumbuhan kepada siswa-siswa kelas atas. Di sana memang ada Imran dan anak-anak kelas dasar yang lain. Tidak disangka Imran mampu melakukan itu. Bukan hanya itu yang Imran lakukan dan membuat saya kagum. Dia juga pernah bilang “Minta maaf ya, Pak!” saat pulpennya tidak sengaja menyentuh tangan saya ketika saya membimbing dia belajar membaca. Imran juga lah yang selalu merapikan (menaikkannya ke atas meja) kursi saya ketika jam sekolah selesai. Imran juga selalu menawari saya ketika dia memiliki makanan. “Pak, mau?” Imran juga yang singgah di rumah saya ketika mau pergi sekolah, dan dengan tersenyum dia memandang saya kemudian kasak-kusuk membuka tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dan berkata “Pak, ini maaf saya lupa.” Dia menyerahkan pensil yang dia pinjam sehari sebelumnya. Namanya Imran. Hanya Imran.

Cerita Lainnya

Lihat Semua