Red, Fish, Sports and The Village
Neti Arianti | 28 October 2011

Ada hubungan apa antara Red dan fish?

Pertama, Red berzodiak Pisces yang bersimbol ikan. Kedua, walaupun baru masuk dalam daftar scuba diver namun Red sudah sangat mengidolakan ikan-ikan di lautan. Ketiga, Red lebih memilih ikan untuk dikonsumsi seandainya di meja  makan tersedia daging ayam atau sapi. Hubungan tersebut bertambah erat dengan ditempatkannya Red di desa Nanga Lauk, kecamatan Embaloh Hilir, kabupatan Kapuas Hulu. Desa Nanga Lauk terkenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan. Nama Nanga Lauk pun bermula dari sebutan orang-orang pada tempat yang banyak menghasilkan lauk (ikan). Sebut saja ikan Biawan, Runtu, Toman, Bauk, Belida, Tapah, Patik, Somah, Langkong, Kaloi, Jelawat, Tengadak, Baong, Lais, Buntal dan masih banyak jenis lainnya. Ikan tersebut biasa diolah menjadi ikan asin, salai (pengawetan dengan cara diasap), jukot (diasamkan dengan bubuhan nasi dan didiamkan selama beberapa hari) atau dibuat kerupuk basah (makanan khas Kapuas Hulu dari ikan yang digiling/dicacah, dicampur sagu, dibentuk kemudian dikukus dan dihidangkan dengan sambal, yang pasti maknyus rasanya!).

Nanga Lauk, desa yang hanya bisa ditempuh dengan jalur sungai ini terbagi ke dalam dua dusun yaitu Lauk Kanan dan Lauk Kiri. Dua dusun ini dipisahkan oleh sungai kecil yang sering disebut Palin. Jadi, dahulu untuk menyebrang ke dusun sebelah harus menggunakan sampan (perahu). Namun, sejak awal tahun 2011 sudah dioperasikan sebuah jembatan gantung dari kayu yang memudahkan warga dalam mobilisasi antar dusun. Pun jembatan ini memiliki fungsi lain, yaitu sebagai sarana mencari sinyal. Yeah, sinyal merupakan barang langka di desa ini. Red harus menggunakan antena untuk menangkap sinyal atau mencari spot-spot tertentu, misalnya di jembatan atau menempel di tembok beberapa rumah warga. Mendadak, mencari sinyal menjadi satu aktivitas seru dan menarik. Hohoho... Selain jembatan, sarana yang tersedia di awal tahun adalah listrik desa yang diusahakan oleh PNPM (digerakkan oleh generator). Listrik akan menyala pada pukul 5.30 sore dan padam jam 11 malam. Ya... Cukuplah untuk mengisi ulang laptop, kamera atau handphone. Sekarang sedang dibangun sarana desa yang juga diusahakan oleh PNPM, yaitu gedung serbaguna yang rencananya dioperasikan tahun 2012.

Komunitas desa merupakan suku Melayu dan seluruhnya beragama Islam. Sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai nelayan, sisanya sebagai penoreh karet, dan sebagian kecil lain berladang atau pengambil madu. Red tiba di desa saat keadaan air sungai sedang surut, saat-saat inilah yang digunakan para nelayan untuk mencari ikan di danau. Pulang dari danau mereka bisa membawa ikan sampai berkarung-karung. Jadi, saat-saat musim seperti ini, jalan desa biasa dipenuhi dengan jemuran ikan asin yang menghampar. Sampai-sampai untuk berjalan pun seperti berperan sebagai atlit olahraga halang rintang dengan ikan asin sebagai rintangannya. Mereka menggunakan peralatan sederhana seperti jala, pukat (jala yang dipasang dan didiamkan di suatu tempat), bubu (terbuat dari rotan), penilar (berbahan kayu yang disusun menggunakan tali), dan jermal(jala dengan sistem tuas) untuk menangkap ikan di danau yang berwaktu tempuh sekitar 1 jam dari desa. Selain menghasilkan ikan, danau juga dijadikan objek wisata oleh warga sekitar. Di sana terdapat dua danau (danau kanan dan kiri) dengan hamparan hutan dan bukit di sekitarnya.

Bercerita tentang sungai, mungkin banyak orang mengira daerah aliran sungai tidak sepanas pesisir. Ternyata, W.O.W... Perkiraan itu salah besar! Desa Nanga Lauk sama menyengatnya dengan pesisir. Tak salah banyak sekali penduduk yang berjualan es kantong. Beruntung Red sudah berkulit gelap a.k.a hitam, jadi tidak akan terlihat jelas peningkatan kadar melaninnya di jaringan kulit. Tidak seperti Laskar Borneo lain yang jelas menghitam dari sebelum keberangkatan. Hahaha... Kondisi tersebut berlawanan dengan suhu yang menurun di malam hari sampai menjelang pagi. Bila tidur tidak menggunakan selimut, dijamin sekujur tubuh akan menggigil kedinginan. Bahkan saat ini Red selalu tidur menggunakan sleeping bag. Tidak mengherankan, setiap pagi desa dibalut tebalnya kabut dan sejuknya udara.

Berhubungan dengan panasnya udara di siang hari, penduduk memiliki kebiasaan mandi dengan frekuensi minimal 3x sehari. Mereka akan mandi di pagi hari, tengah hari, dan sore hari. Red yang hanya biasa mandi 2x dalam sehari sulit untuk menyesuaikan hal itu, tetap dengan keyakinan bahwa frekuensi 2x mandi itu sudah cukup. Jadi ingat saat-saat pelatihan, waktu itu Red adalah orang paling rajin mandi diantara teman-teman sekamar. Namun sekarang, Red menjadi orang paling malas mandi sedesa. Suatu perbandingan yang mengkhawatirkan bukan!

Satu lagi kebiasaan masyarakat desa yang positif, mereka sangat menyukai aktivitas olahraga. Permainan yang dilakukan antara lain: bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis. Hampir setiap sore atau malam, mereka pasti berduyun-duyun memenuhi lapangan-lapangan kosong yang menunggu untuk dihiasi berbagai pertandingan. Red sebagai lulusan mahasiswi olahraga pastinya amat senang dengan kondisi seperti ini, walaupun tak jarang menjadi bulan-bulanan para warga saat bertanding. Malu? Oh, Red tidak pernah merasa seperti itu. Justru hal itu dijadikan motivasi dan pembelajaran bagaimana cara mengalahkan mereka di pertandingan selanjutnya. Hahaha...

“Ikan” dan “olahraga” menjadi dua kata kunci yang menyatukan Red dengan desa Nanga Lauk. Ditambah penerimaan masyarakat dan semangat belajar yang tinggi dari siswa siswi makin membulatkan tekad red untuk memberi yang terbaik pada desa ini. \(^_^)/

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran