Mengeja Gelap Demi Sebuah Mimpi
Mohamad Arif Luthfi | 23 October 2011

 

Aku terus berjalan membopong laptop, kamera, dan ponselku. Pada sibukknya kesepuluh jariku, disela-selanya masih aku selipkan sebatang senter yang aku jepit antara jari dan punggung laptopku. Aku susuri jalan-jalan setapak pulau ini dengan hanya penerangan lampu senter. Dengan memburu aku langkahkan kakiku untuk meraih satu tempat agar seluruh gadgetku terisi baterai. Saat ini sudah lebih dari dua bulan aku menghuni pulau ini. Dan setiap hari pikiranku selalu berputar memikirkan, “dirumah siapakah esok malam aku akan menumpang untuk charge gadget ku lagi”?

Pulau ini sangat kecil dan terpencil. Aku pernah mengelilingi pulau ini, saat awal kedatanganku dulu, keseluruhannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. 

“Ayo langkahnya dipercepat lagi!” Bisik hatiku.

Gelap sekali. Dua pupil mataku terbelalak mengamati jalanan yang sempit, menanjak dan berliku. Mungkin retina mataku terbuka dan tertutup mengatur cahaya yang tidak konstan. Aku hanya dapat melihat sebidang luas yang terang oleh cahaya senter. Selebihnya, kakiku harus tekun meraba-raba antara jalan dan lubang.

“Sampai kapan pulau ini gulita dalam malam? Kapankah doa anak-anak kecil itu dikabulkan akan adanya listrik masuk pulau ini? Padahal, hampir setiap hari mereka panjatkan doanya yang agung itu? Doa itu terpanjat ke atas langit senantiasa lewat tangis karena ketakutannya pada pekat malam, lewat jerit pekiknya akibat kalajengking yang menyengatnya dalam gelap, lewat rintihan tersebab menahan sakitnya telapak kaki yang tertembus paku dan beling, lewat teriak kencangnya karena tubuh terperosok pada sadisnya jurang, lewat..., ah aku tak tega untuk terus menyebut rentet doa mulia mereka yang entah kapan akan dikabulkan.”

Nafasku terus memburu. Jantungku terpacu cepat. Aku segera ingin sampai pada rumah berjenset itu. Tiap hari aku gantungkan setengah harapan kecilku pada rumah berjenset itu. Seluruh gadget milikku tidak akan mempunyai arti tanpa keramahan pemilik rumah berjenset itu. Meski jenset hanya menyala kurang lebih dua jam, tapi durasi itu sangat memiliki arti. Ia seolah palu seorang hakim yang sangat mempunyai dampak besar ketika palu itu dijatuh pukulkan oleh hakim: bisa menyenangkan dan sangat sering menyakitkan, tidak sesuai kenyataan adil.

“Permisi, maaf mau numpang charge!” Izinku pada si empunya rumah.

Sudah banyak sekali kerumunan orang tengah asyik melihat sinetron. Balita, anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, opa, oma, semuanya ada. Susah sekali aku untuk memisah sesak padat itu. Sungguh berjubel. Tak karuan.

“Maaf, Mas. Terminalnya sudah penuh!” Seru orang-orang itu.

Panas kupingku mendengar kalimat itu. Terasa hampar rasanya dalam gendang telingaku. Bajuku yang sudah dirembesi keringat, seolah kian tersulut api yang menyala. 

“Kurang cepat kamu tadi dalam berjalan.” Lirih hatiku.

Padahal aku tadi sudah tidak menyempatkan minum barang setegukpun seusai dari masjid. Aku takut kalau aku minum, maka aku akan tidak kebagian jatah terminal listrik. Jalanku tadi juga sudah setengah lari. Baju taqwaku ini sudah cukup hebat meyerap air keringatku yang deras keluar. Dahsyat sekali orang-orang disini kecepatan langkahnya saat mengetahui mesin jenset sudah dinyalakan. Terminal induk listrik itu hampir dipenuhi kabel-kabel terminal yang pada membuat cabang-cabang baru. Sehingga yang terlihat adalah deretan terminal-terminal yang tak karuan. 

Aku berbalik langkah. Aku susuri pekat malam yang larut. Gesekan-gesekan dedauanan akibat angin itu menjadi irama yang meng-amin-i bisik hatiku: “Ya Allah, ridhoilah setiap jengkal langkah hamba-Mu ini dalam memamah setiap peristiwa. Jadikan perih irisan hati ini menjadi semangat yang terus menyala dalam memaknai arti sebuah kesabaran yang terus dicari”. Dan air mataku menitik seiring bisikan itu.

Aku terus melangkah. Dalam remang-remang mata memandang aku temui cahaya kecil yang tengah menyala dalam gulita. Aku dekati cahaya itu. Semakin tampak jelas dalam gelap. Aku lihat cahaya kecil itu tepat berada disamping rumah tua yang tak berdinding itu. Aku menyaksikan seperti ada dua murid kecilku di dekat lampu tempel itu. Semakin aku mendekat, aku temui benar keduanya adalah muridku. Aku dapati keduanya tengah serius meng-eja alfabet dalam pekatnya malam; a-k-u s-e-n-a-n-g b-e-r-b-a-h-a-s-a I-n-d-o-n-e-s-i-a. Langkahku terhenti dan air mataku menitik.

“Pak guru!” Pekiknya menegurku dalam tangis yang mengharu. []

Lipang, Selasa 16 Agustus 2011

17:47:31 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran