Kasih sayang itu bernama kesempatan

Lana Alfiyana 15 Maret 2014
Beri aku waktu sebentar untuk mengingat kapan kejadian bersejarah ini terjadi. Tunggu. Masih di bulan yang kata sebagian banyak orang adalah bulan kasih sayang. Dan kami merasakan kasih sayang Tuhan yang begitu besar. Kasih sayang itu bernama KESEMPATAN.   Jumat 14 Februari Hari sudah malam, saat aku hendak merebahkan diri untuk beristirahat setelah dua hari mengajar di kelas jauh. Teleponku berdering, salah seorang temanku menelepon, tidak seperti biasanya karena ini sudah malam, sepertinya sesuatu yang penting. Dan benar, kabar yang aku dapat sangatlah PENTING.   "Lan, ada berapa anakmu yang ikut seleksi smart ekselensia?" "Kemarin daftar 4 anak mbak, harusnya bulan ini ya pengumuman seleksi administrasinya?" "iya, ini aku dapat telpon Pak Indra, nama-nama ini muridmu bukan Lan?" Kemudian Mbak Diah menyebutkan keempat jagoanku dari Kananga Ipul, Azi, Arian, dan Indra. 4 nama itu membuat nafasku terhenti sejenak seakan tak percaya kalau murid-muridku akan mendapatkan keseempatan ini. Kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari smart ekselensia dan melanjutkan sekolahnya di Jawa, Ya!! Jawa itu cita-cita mereka.   Mulanya aku tidak mengira keempat berkas yang aku kirimkan dapat lolos seleksi administrasi, bisa meloloskan 2 saja sudah cukup membahagiakan, tapi ini lolos 4! Tuhan memang baik, ini kado istimewa di bulan penuh kasih sayang.Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur, terlalu senang, masih tidak percaya, dan sibuk merangkai kata bagaimana nantinya aku akan menyampaikan kabar bahagia ini, kepada guru-guru, kepada murid-murid dan orang tua mereka. Apalagi kabar selanjutnya yang aku terima sungguh mendadak, karena 2 hari kemudian anak-anak sudah harus mengikuti tes tertulis di Kabupaten Dompu. Sungguh aku cemas bersemangat.   Sabtu Pagi, aku begitu bersemangat berangkat sekolah, ingin segera mengabarkan berita bahagia ini kepada mereka. Hari Sabtu yang biasanya menjadi hari yang paling sepi entah kenapa di hari itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Berita bahagia ini membahagiakan semua guru, mereka ikut senang anak didiknya diberikan kesempatan untuk memperoleh beasiswa. Lalu bagaimana dengan respon anak-anak? hahaha bagian ini yang masih aku ingat, muka  kaget mereka lucu, seolah tak percaya mereka bisa lolos, apalagi dari Kecamatan Tambora hanya 4 orang dari SD 01 Labuan Kananga yang lolos. Ada kebanggan tersendiri bagi para guru dan muridku tentunya.    "Ibu kita berangkat siang ini?" Tanya salah satu muridku. YA.    Ditemani oleh salah satu guru, kami berangkat menuju Kota Dompu, lokasi terdekat untuk melakukan tes. Ya secara geografis kecamatan Tambora ini memang lebih dekat dengan Kota Dompu walaupun termasuk dari bagian Kabupaten Bima.   Ini juga menjadi pengalaman pertamaku mengajak anak-anak menggunkan alat transportasi umum,bersama orang dewasa akan lebih mudah.Anak-anak pasti penuh kejutan, baru beberapa menit perjalanan celoteh-celoteh mereka berhamburan. Imajinasi mereka tenatang tes ini dan apa yang akan terjadi apabila mereka lolos diungkapkan disepanjang perjalanan. Lelah berceloteh anak-anak ini minta diisi perutnya. Ya.. mereka minta jajan. Hahahaha. Aksi berebut makanan pun terjadi -namanya juga anak-anak-. Tingkah polah anak-anak ini tidak sampai situ saja. Bayangkan apa yang terjadi ketika perut mereka sudah terisi? /ngantuk?/ Tepat sekali. Mengantuk. Huft! pose dan pola yang mereka terapkan saat tidur di dalam transportasi umum sungguh sangat ajaib. Bagaimana bisa mereka menganggap kursi-kursi dalam bis itu adalah kasur di rumahnya. Tidur berselonjor kaki berdempet-dempetan, bersdesakan dan ketika supir bis menginjak rem, mereka berjatuhan dari kursinya,bukan sesuatu yang membahayakan tapi cukup menggelikan melihat bagaimana mereka berguling dan akhirnya terjatuh. Sebagian lain dari mereka yang belum tertidur dan tidak jatuh saling menertawakan. Oke aku pun ikut tertawa.   Anak-anak penuh dengan kejutan. sepertinya aku sudah menuliskannya tadi. Momen keberangkatan kami menuju Kota Dompu akan menjadi kejutan bagi salah satu muridku yang ikut dalam rombongan ini. Arian a.k.a Kacui (si Burung) karena dia sering berkicau alias cerewet adalah anak dari keluarga broken home. Anak pertama dari tiga bersaudara, satu-satunya lelaki di rumah yang  dia tinggali bersama ibu dan dua adik perempuannya. Sang ibu telah memberi tahu saya bahwa ayah Kacui akan menunggu di Cabang Banggo sebelum Kota Dompu, kata beliau ayah Kacui akan memberikan uang saku untuk anaknya. Wajar. Bukankah seorang ayah masih teap harus menafkahi anaknya walaupun sudah berpisah dengan istrinya. Tepat di Cabang Banggo saat bis berhenti sejenak untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, seseorang menelpon ke handphone saya, ternyata ayah Cui, beliau sedang mencari bis kami untuk menemui Cui. Sesuatu yang menakjubkan yang tak pernah aku lihat dalam adegan film keluarga yang paling mengharukan sebelumnya, saat ayah dan anak bertemu (kembali). Pertemuan singkat itu sangat mengharukan, usapan  halus di kepala Cui dan cium tangan di tangan ayah kacui menambah keharuan yang aku rasakan , Cui hampir atau bahkan sudah meneteskan air matanya, tak pasti ku lihat hanya mata yang berkaca-kaca atau sisa air mata yang sudah disekanya. Ya Allah, kalau tidak ada kesemptan ini entah kapan Cui dapat bertemu ayahnya, karena sepengetahuanku ayahnya tidak pernah menjengguknya di Tambora, dan Ibunya tak pernah mengajaknya pergi ke Dompu. Disini aku kembali percaya bahwa Allah memberikan kasih sayang kepada setiap umatNya. Kali ini kasih sayang yang diterima Kacui berupa kesempatan. Kesemptan untuk bertemu dengan ayahnya.   *** Sesampainya di Kota Dompu, aku berniat untuk memberikan sedikit hadiah hiburan bagi mereka dengan mengajak mereka makan di salah satu tempat makan cepat saji, yang pastinya tidak ada di Tambora, sesekali  saja anggaplah sebagai penghargaan dan penyemangat mereka untuk tes besok. Di tempat makan itu tak kuasa aku menahan senyum geli akan tingkah polah mereka, dimulai dari bingung memilih pesanan. Mereka mungkin sering melihat di televisi bagaimana bentuk fried chicken atau ayam goreng tepung yang ada di iklan, tapi untuk memakannya secara langsung mungkin belum, jadi melihat bentuk ayam yang diolah secara 'aneh' mereka pun bertanya ikan apakah yang akan mereka makan itu.. hihihi. belum lagi saat Ipul salah satu anak cerdasku melihat gambar burger, yang dikenalnya sebagai krabby patties dari animasi sponge bob . "Ibu, boleh saya pesan krabby patties?" "Boleh, tapi dihabiskan ya.." kataku sebelum memesankan, tiba-tiba Azi dan Indra menyela dan bilang isian krabby patties itu mentah hanya dari sebuah gambar dinding yang menunjukkan gambar tomat dan lecctuce segar. OKE tawa saya hampir meledak. Ipul terpengaruh oleh kedua temannya antara penasaran tapi takut tidak bisa menghabiskan. Padahal niatku juga memesankan satu untuk mereka berempat agar bisa saling mencicipi bagaimana sih rasa burger. Tapi mereka terlanjur takut makan makanan mentah. Akhirnya aku memesankan kentang goreng sebagai menu tambahan mereka, ya lagi-lagi ini hanya sesekali. ketika pesanan kentang gireng datang, lagi-lagi ipul berceloteh seteah merasakan rasanya. "Ibu, ini ubi ya?' saya "..............................*ketawa miris*'   *** Episode makan memakan sudah selesai, kini kami bertolak menuju rumah salah satu guru yang ada di Dompu, Bu Yuni. Disana kami disambut oleh adik Bu Yuni, namanya Deskri. Murid-Muridku memanggilnya Baba* Deskri. apasih yang bisa mengakrabkan para lelaki cilik ini dengan seseorang yang baru saja mereka temui? Dan bahkan Azi pun langsung mengidolakannya. Si Deskri ini ternyata pemain bola. Sepak bola adalah olah raga favorit para jagoan cilik ini. Kabar buruknya adalah malam hari yang harusnya kami pakai persiapan test teralihkan oleh obrolan seputar bola. -_-" dan anak-anak tidak henti-hentinya mengoceh sepanjang malam, bahkan saat mereka harusnya sudah beristirahat. Mungkin inilah kasih sayang yang berupa kesempatan, Azi berkesempatan mengenal dan mengidolakan Deskri. Keesokan harinya saat tes tertulis bahasa Indonesia, Azi menceritakan tentang Deskri padahal tema yang diberikan adalah anak soleh.   *** Lain cerita dengan si Indra. SI Jagoan ini ternyata sanagt amat merindukan rumah. Padahal setelah sampai di Dompu dan makan Ayam Goreng dia bilang untuk tambah sehari lagi di sini, biar bisa jalan-jalan dan makan enak lagi. Tapi itu hanya sebentar. Saat perhatiannya teralih Indra teringat akan orang tuanya apalagi setelah ayahnya menelpon. Keesokan harinya dia merasa sakit dan ingin segera pulang. Begitu pula dengan Cui, setelah bertemu dengan ayahnya dia ingin tinggal lebih lama di Dompu agar bisa bertemu dengan ayahnya dulu, tapi ketika teringat Ibunya di rumah dia merasa harus segera pulang. Saat itu aku tersadar, bahwa mereka tetaplah anak-anak walaupun terkadang mereka berandai-andai sekolah di Jawa dan berani hidup jauh dari orang tua, mereka tetaplah anak-anak yang masih butuh perhatian orang tua dan perlu mulai diajarkan hidup mandiri.   Kondisi semakin memburuk ketika tes dimulai. Indra benar-benar sakit begitu pula Cui, mungkin mereka masuk angin karena semalam tidur terlalu larut. Aku melihat langsung bagaimana solidaritas anak-anak ini tumbuh begitu kuat, saling menguatkan satu sama lain. Ketika Indra hendak muntah Azi langsung membantunya dan saat Cui merasa sangat pusing Ipul memijit kepala dan pundak Cui. Ipul pun memberi sedikit hiburan konyol ketika minyak telon yang aku berikan untuk memijit Cui, ditumpahkan ke telapak tangan Ipul dan diusapkan ke rambut layaknya minyak rambut -_- dan setelah itu Cui menirukan hal konyol dengan tindakan lain yaitu menumpakan minyak telon ketelapak tangan untuk membasuh mukanya. *Waduuuhh* Untung saja tidak ada satu pun dari mereka yang ingin meminum minyak telon itu :p   *** Penghargaan untuk mereka yang telah menempuh tes, aku dan Bu Yuni mengajak mereka ke pasar, niatnya jalan-jalan, makan siang, sekaligus membeli oleh-oleh. Ada satu permintaan mereka yang dari kemarin selalu digumamkan. 'pengen es magnum' anak-anak korban iklan. hahahaha. saat aku beritahu kalau harga satu es magnum bisa untuk beli lebih banyak es krim yang lain mereka mulai berpikir. Tapi dasar udah ngidam lama dan penasaran, mereka tetap memilih es magnum kecuali Cui yang yang berubah pikiran ketika melihat es krim cone. Cui dan Indra yang tadinya sakit karena kangen rumah akhirnya terlihat lebih sehat, tapi ketika es nya habis terlihat sakit lagi -_-   Aku yakin pengalaman mereka pergi ke Dompu ini akan mereka ceritakan kepada orang tuanya dan teman-temannya. Entah hasil apa yang mereka dapat nanti, kesempata untuk mengikuti seleksi ini akan membekas di benak mereka. Dan aku yakin akan ada kasih sayang Allah yang akan diberikan kepada mereka pada kesempatan-kesempatan yang lain.   *Satu bulan setelah tes tertulis, pengumuman hasil seleksi di keluarkan, tidak ada satu pun muridku yang lolos. Sedih. PASTI. tapi dari sanalah kami belajar untuk mengatasi kekecewaan dan bersiap menghadapi kesempatan yang baru.

Cerita Lainnya

Lihat Semua