Merlin Imut
Khaerul Umur | 16 January 2013

“Merlin, dapat surat balasan dari Ibu Dika, Ibu Vivin, dan Pak Andi!” ucapku pada Merlin yang saat itu sedang berkumpul dengan teman-temannya, saling bertukar kertas binder yang beraneka ragam bentuk, warna, dan gambarnya. Dan apa reaksi Merlin? Dia langsung meraupkan kedua tangan ke mukanya sendiri, seperti gerakan orang yang selesai berdoa. Kemudian ku lihat senyum mengembang sedetik di wajahnya dan kembali sibuk dengan binder dan teman-temannya, tanpa sepatah katapun terucap.

Merlin adalah seorang anak dengan sedikit kata yang keluar dari mulutnya. Tetapi dia adalah anak yang periang dengan berjuta kata saat menuliskan surat kepada semua orang yang saya kenalkan padanya. Nama pena-nya adalah Merlin Imut. Begitu, dia memperkenalkan dirinya kepada semua orang di dalam suratnya. Awalnya, Merlin dan teman-teman menyuratiku di sekolah di hari pertama aku datang. Kemudian surat menyurat kami pun berlanjut, sampai pada akhirnya hanya Merlin saja yang tetap konsisten membalas suratku.

Merlin mempunyai jasa surat super kilat pribadi. Karena sesaat setelah dia mendapat surat, beberapa menit kemudian dia mengantarkan balasan surat itu. Kami hanya saling bercerita hal-hal ringan saja. Seperti kegiatan sehari-hari, teman-teman, dan apa yang kami suka dan tidak kami suka. Dalam surat-surat itulah aku bercerita kepada Merlin tentang Rara dan Sinta teman sepenugasanku di Kecamatan Longkali ini. Kepada Merlin juga aku ceritakan tentang Andi yang kugantikan tugasnya di Desa Muara Telake, dan tentang Pak Camat dan Pak Polisi yang kutemui saat lapor diri ketika baru pertaman datang di Kabupaten Paser ini. Semua nama yang aku sebutkan di dalam surat, tidak luput dari sasaran surat Merlin. Sampai pernah sekali kirim, Merlin memberikan kepada saya delapan surat untuk delapan orang yang berbeda.

Di dalam surat balasan pertamanya, Merlin berkata bahwa surat balasanku adalah surat balasan pertama yang pernah ia terima. Di suratnya juga Merlin pernah bercerita tentang kesedihannya kehilangan guru tercintanya, Dika, PM yang ku gantikan. Di surat lain, Merlin bercerita bahwa betapa senangnya dia berkirim surat, karena dia kesepian di desa ujung sungai ini dan ingin mendapatkan banyak teman.

Terkadang aku merasa bersalah kepada Merlin karena tak kunjung memberikan surat balasan dari orang yang disuratinya. Setiap saat dia bertanya, “pak, mana balasan dari...?” Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin Merlin berpikir setiap orang yang dia surati hanya duduk di atas meja sepanjang siang dan malam dengan kertas dan pulpen di tangan siap untuk membaca dan membalas langsung surat darinya.

Biasanya, jika orang yang disurati Merlin berada sangat jauh (di luar Pulau Kalimantan), saya menuliskan ulang kata-kata dalam surat Merlin di Whatsapp atau email dan meminta balasannya melalui media yang sama. Kemudian balasan itu aku ketik kembali dan mencetakkannya untuk Merlin. Dan suatu hari, HP saya tercebur ke dalam sungai sedalam dua meter dan berlumpur. Padahal di dalam HP itu terdapat beberapa surat untuk Merlin yang belum sempat saya ketik ulang dan memberikan kepadanya.

Untunglah, di malam yang penuh dengan kejadian aneh (another long story) itu, setelah satu bulan, HP saya kembali menyala lengkap dengan surat balasan untuk Merlin. Padahal beberapa tukang service HP telah mendiagnosa bahwa HP itu tidak bisa terselamatkan lagi.

Jadi, siapa yang mau mendengar kisah sehari-hari Merlin Imut? Ayo! Mari berkirim surat dengan Merlin Imut dan mendapat balasannya, langsung dibalas dan ditulis oleh tangan Merlin sendiri, lho... (;

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran