Kami Tidak Sendiri untuk Pendidikan Dasar Rote Ndao
Khaerul Umur | 31 March 2012

Pengajar muda Rote Ndao baru saja menyelesaikan kegiatan yang sangat melelahkan. Tetapi rasa lelah yang kami rasakan begitu terobati karena mimpi kami menjadi nyata. Pelatihan 1000 guru Rote Ndao benar-benar nyata terlaksana. Bukan lagi sekedar mimpi dan angan-angan kami. Cerita sedih, harap, cemas, gundah gulana telah melebur ke dalam senang, riang, haru, tawa, dan bahagia. Entah apa yang dirasakan orang-orang yang melihat. Tapi itulah yang saya rasakan.

 

Kami hanya mempunyai ide dan gagasan kala itu, dan tidak ada lagi yang kami miliki. Bekal delapan bulan kami berada di sekolah penempatan masing-masing adalah sumber utama gagasan kami, Sedangkan mengumpulkan seluruh guru se-Kabupaten Rote Ndao bukanlah hal kecil. Memang kabupaten ini tak semeriah kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa. Tetapi sekali lagi saya katakan, mengumpulkan seluruh guru sekolah dasar Rote Ndao tidaklah semudah membasahi tangan dengan air. Dengan bermodalkan keyakinan dan usaha yang nyata kami mencoba mewujudkan mimpi yang hanya angan-angan semata.

 

Bukan kehendak kami untuk melaksanakan pelatihan seorang diri. Apalah arti keberadaan kami di Rote yang hanya satu tahun ini. Yang kami inginkan kegiatan ini bukan hanya eventual semata, tetapi lebih kepada sebuah gerakan yang dilakukan juga oleh pelaku utama pendidikan di Rote Ndao sendiri. Kami merangkul Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Rote Ndao sebagai naungan pendidikan di kabupaten ini sebagai penyelenggara. Kami hanya berperan sebagai penyumbang ide dan pembantu lapangan dalam pelaksanaannya. Dan bagaikan menyalakan percikan api di padang ilalang dalam musim kemarau panjang, kami bertemu dengan putra daerah Rote Ndao yang baru saja pulang dari Universitas Negeri Surabaya setelah mendapatkan pendidikan guru sekolah dasar. Alumni UNESA, pengajar muda Indonesia Mengajar, dan Dinas PPO bagaikan 3 Reliku kematian dalam flm Harry Potter yang tidak bisa terkalahkan untuk mewujudkan pelatihan ini.

 

Sesuatu tidak akan berkesan mendalam jika berjalan mulus-mulus saja. Begitulah yang terjadi di dalam penyelenggaraan pelatihan ini. Sampai menit-menit menjelang kegiatan terlaksana, bahkan kami belum mendapatkan dana yang kami butuhkan. Termasuk pemateri juga demikian. Idealnya sebulan sebelum hajat dimulai, kami sudah mendapatkan nama pasti siapa yang bersedia berbagi pencerahan untuk kami para pengajar sekoah dasar di ujung paling selatan Negara ini. Untungnya tidak semua inspirator terlalu sibuk dengan hajatan tetangganya. Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, begitu mendengar permintaan kami untuk memberikan keynote speech yang akan didengar oleh seluruh guru SD Rote Ndao langsung mengiyakan, tidak hanya berpidato, bahkan beliau memberikan sesuatu melebihi dari apa yang kami harapkan.

 

Dan sepertinya pandangan miring tentang segala sesuatu hampir tidak pernah terlewatkan, karena kami pun mendapatkannya. Niat tulus ikhlas bukan berarti akan mudah diterima semua orang. Terkadang jalur informasi yang tidak begitu mulus – apalagi di daerah low coverage area – membuat berita begitu mudahnya dibelokkan. Dan kami pun manusia biasa, saat niat ikhlas dalam kondisi tubuh yang lelah dituduh sebagai hal yang merugikan pihak lain, kami pun merasa sakit. Tetapi bukan PM namanya kalau tidak memiliki positive mind. Kami hanya terus berjalan untuk membuktikan bahwa di ujung daratan ada laut.

 

Oke, saya melewati lima paragraf begitu serius. Dengarlah sedikit lelucon kami. Untuk membicarakan pelatihan ini, kami PM Rote menyewa kamar kos di kota kabupaten untuk ditempati selama persiapan pelatihan. Tiap akhir pekan kami “turun gunung” untuk nyicil kerjaan mulai dari surat-menyurat, publikasi, sampai mengepul rongsokan. Ya, kami persis seperti pengepul rongsokan. Di depan kamar kos yang kami tempati bersepuluh tampak tumpukan botol bekas air mineral berdus-dus, biji buah lontar (saboak), pasir pantai, kardus karton, lidi daun kelapa, dan barang-barang lain yang bahkan penduduk lokal pun tidak berminat untuk menyimpannya. Kami sangat mengganggu pemukiman kosan yang hampir seluruhnya di huni oleh aparat polisi yang kos juga. Ditambah, setiap kami berkumpul dipastikan obrolan bervolume tinggi dari topik penting sampai obrolan sampah akan terjadi. Dan – pura-pura – tanpa kami sadari itu sudah menjadi kebiasaan yang terjadwal sampai-sampai kami mendapat bisikan dari perwira tinggi polisi yang sudah dekat dengan kami.

Agar cerita lebih lucu, saya buat langsung ke dalam dialog;

PM: “Bapak, mohon maaf keberadaan kami selalu bikin ribut,”

Polisi: “enggak, kalian nggak ribut. Kalian sangat ribut. Kalian kalo ngomong aja sampe rebutan, saya dulu! Saya dulu!”

Hahahaha (PM dan Polisi tertawa)

Polisi melanjutkan, “bahkan anak buah saya sudah hafal jam tayang kalian. Mereka memohon maaf kepada saya atas ketidaknyamanan kosan mereka dimulai dari hari Sabtu pukul 16.00 sampai dini hari.”

Hahahaha (PM dan Polisi tertawa lagi)

 

Dan di tengah-tengah berlangsungnya pelatihan yang bertepatan juga dengan sisa kontrak kos kami yang akan habis dua bulan, ibu kos meminta kami untuk berbincang-bincang. Bagaikan mimpi buruk yang sudah kami sangka akan terjadi, ibu kos berkata, “adek, mohon maaf bulan depan kamarnya sudah ada yang mau pakai…” DUARRR!!! Siapapun pasti tahu apa arti kalimat itu. We are fired! [DRAMATIC SCENE MODE: ON WITH CLASSIC MELLOW INSTRUMENT] Kami mengepak rongsokan-rongsokan pengganggu lingkungan kos yang tidak lain dan tidak bukan adalah media-media alternatif yang kami gunakan untuk pelatihan pembelajaran kreatif untuk 1000 guru Rote Ndao.

 

Tapi, bagaikan kehilangan besi mendapatkan emas. Kami mendapatkan kosan baru yang ternyata jauh lebih kami rasakan homy. Di kosan baru malah kami mendapatkan dua kamar. Kami tidak lagi berjejal tidur bersepuluh, berebut oksigen di malam hari, kaki sejajar dengan kepala, dan badan yang terkadang tertindih bagian badan manusia lain. Tentunya kami sedikit berhati-hati, karena sekarang kami tidak lagi bertetangga dengan para perwira polisi. Lebih parah, kami bertetangga dengan salon kecantikan, tempat dokter umum dan dokter mata praktek, ditambah langsung bersebelahan dengan ibu kos. :hammer

 

Pagi hari kami siap melaju dengan sepeda motor yang sudah penuh dengan botol bekas air mineral dan teman-temanya untuk menuju lokasi pelatihan dan kembali ke kosan petang dengan rambut lepek muka kusam dan berbadan lengket. Jika lokasi kecamatan pelatihan terlalu jauh untuk dijangkau pulang-pergi, kami memilih untuk singgah di salah satu rumah penempatan PM Rote. Begitulah pelatihan 1000 guru rote terlaksana dari tanggal 12-27 Maret 2012.

 

Terimakasih kepada para pemateri yang sudah berbagi pencerahan kepada kami pengajar sekolah dasar Rote Ndao, dan semua instansi atau perorangan yang tidak kalah pentingnya dalam terselenggaranya pelatihan ini. Kami tidak bisa maju sendiri. Kita semua telah bergerak untuk mencoba membuat pendidikan dasar Rote Ndao menjadi lebih baik. Tuhan tahu apa sebenarnya niat dan maksud kita. Dan Tuhan akan membalas setiap titik keringat yang kita keluarkan untuk semua ini. Terima kasih, semoga Tuhan selalu memberkati kita semua.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran