Hitungan ekonomi diantara harapan, bangunan dan kapal
Hardy Oktasawira | 18 September 2012

 

Gledis, salah satu murid di kelas 5 di mana saya menjadi wali kelasnya.  Perawakannya kecil, rambutnya selalu terikat kebelakangdan yang saya suka sorot matanya yang lebar dan selalu menyala. Bagi saya, mata melengkapi pernyataan seseorang selain dari yang dia ucapkan. Gadis kecil ini selalu aktif di dalam kelas dan terkadang menjadi penegak peraturan, meskipun dia bukan ketua kelas. Anak ini bercita-cita bisa berkuliah di salah satu universitas terbaik di Pulau Jawa. Dia merupakan tetangga saya, sehingga seringkali saya mengobrol dengan keluarganya.

Dia adalah anak dari seorang pekerja di tambangan, kuli bangunan di kampung, dan pencari ikan. Tambangan adalah sebutan untuk kapal kecil yang menjemput kapal berukuran sedang yang secara rutin mengantar penumpang dari pulauku ke Tahuna. Setiap penumpang dikenakan biaya Rp. 5.000, bukan jumlah yang besar mengingat pegawai tambangan cukup banyak dan kapal tersebut menyewa. Kedua pekerjaan lain dari Ayah Gledis dilakukan jika ada yang mengajak. Jadi tiga pekerjaan Ayahnya di atas bukanlah pekerjaan yang bisa menjanjikan kehidupan yang baik. Sedangkan Ibunya merupakan Ibu rumah tangga.

Saya pernah bekerja di perusahaan. Saya belajar bahwa semua tujuan besar perusahaan harus bisa diterjemahkan ke dalam aksi nyata dan tentunya hitungan-hitungan. Pada akhirnya semua tujuan itu terlihat rasional untuk dicapai. Penghasilan orang tua Gledis kalau saya hitung dalam satu bulan tidak lebih dari Rp. 500.000, jadi pendapatan setahun adalah Rp.6.000.000 . Asumsikan saja 40% nya dapat tertabung, maka dalam setahun ia akan memiliki tabungan sebesar Rp. 2.400.000 . Gledis akan mencapai bangku kuliah dalam waktu 7 tahun lagi. Maka tabungan per tahun tadi dikali dengan 7, sehingga berjumlah Rp. 16.800.000. Jumlah yang terlihat menjanjikan!

Tetapi, ada gambaran lain yang harus dihadapi nominal di atas :

  • Gledis memiliki seorang kakak yang juga ingin berkuliah dalam 5 tahun lagi
  • Semakin mahalnya biaya hidup karena inflasi
  • Pada akhir tahun dermaga pulau sudah jadi, sehingga tambangan tidak diperlukan

Masih banyak asumsi lainnya yang bisa saya sebutkan, tetapi 3 di atas sudah cukup untuk mengatakan bahwa perjalanan menuju bangku kuliah tidak mudah.

Beruntung ada program BOS. Sebelum saya sampai di SDN Inpres para, yang saya tau tentang BOS selalu terkait dengan penyelewengan dan ketidak jelasan. Ternyata tidak di Kampung Para, BOS membuat kampung ini memiliki 2 SD dan 1 SLTP.  Dengan BOS mereka tidak perlu membayar apapun ke sekolah. Kita harus berterimakasih kepada pemerintah atas terselenggaranya program BOS.

Cerita tentang Gledis mewakili keadaan dari sebagian besar murid yang saya ajar. Mereka berani bermimpi tinggi, tapi hitung-hitungan ekonomis membuat semuanya terlihat tidak mungkin. Mungkin inilah kisah mayoritas Pengajar Muda di penempatan, melihat harapan yang samar-samar tertutup oleh akal finansial. Dalam setahun ini saya akan selalu mendidik murid untuk tidak kehilangan harapan. Dengan harapan mereka akan belajar membuat kemungkinan-kemungkinan sebagai penyambung jalannya kelak. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran