Saya Ingin Menjadi Seperti Bapak
Diah Setiawaty | 25 November 2010

Hari senin minggu ini adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di SD 018 di Rantau Panjang. SD ini terletak di paling ujung desa rantau panjang. Setelah SD ini tidak ada lagi SD lain hanya ada jalan setapak menuju hutan yang dihuni beberapa penduduk desa. SD Kami ini satu atap dengan SMP negeri yang tadinya merupakan SMP terbuka. Bangunan SD kami sudah cukup baik untuk kategori SD-SD yang terdapat di daerah terpencil. Dengan enam ruangan kelas yang cukup luas, bersih, dan rapih. Setiapruangnya berkapasitas sekitar 40 orang, walaupun sehari-hari hanya 15-20 siswa yang belajar di dalamnya. Selanjutnya. Berbeda dengan SD-SD yang terdapat di Jawa dan kota-kota besar lainnya yang biasanya justru kelebihan murid. Di SD tempat saya praktik mengajar dulu jumlah siswa di setiap ruangan bahkan ada yang mencapai 70 orang. Beberapa kelas bahkan ada yang masuk hanya dua minggu sekali karena harus bergantian ruangan dengan kelas lain.

Kepala sekolah kami Bapak H.Ishak Al-Kindi berjuang keras mengembangkan sekolah ini hingga bisa berhasil berdiri tegak seperti sekarang. Sebelumnya SD 018 tidak punya lapangan sekolah. Seluruh lapangannya merupakan rawa-rawa sehingga sulit bagi murid-murid beraktivitas, melakukan olahraga, terlebih lagi upacara. Setiap harinya kaki-kaki kecil itu bergulat menuju sekolah tanpa alas kaki atau hanya dengan sandal, karena selain ekonomi yang sulit tanah becek di sekolah juga sangat memungkinkan untuk merusak atau mengotori alas kaki mereka. Dapat dibayangkan anak-anak yang penuh semangat itu menempuh berkilo-kilometer bahkan harus menyebrang sungai dengan sampan untuk sampai ke sekolah tanpa alas kaki. Berkat perjuangan dan kemauan keras Bapak Ishak akhirnya sekolah ini menerima bantuan dana untuk menguruk tanah sehingga bisa menjadi lapangan upacara. Selain itu dengan jerih payahnya juga Bapak Ishak juga berhasil mendapatkan dana untuk memugar sekolah, memperbaiki kelas, membuat perpustakaan, dan ruang UKS . Di bawah kepemimpinannya yang tegas dan berwibawa Bapak Ishak pernah menerima tiga kepala sekolah yang dimutasi dan menjadi guru di SD 018. Saat ini mantan kepala sekolah SD Labuang Kalo juga menjadi guru di SD ini. Yang membuat saya sangat kagum dan hormat kepada kepala sekolah saya adalah adalah dedikasinya di bidang pendidikan.

Mendengar ceritanya membuat batang tenggorokan saya tercekat dan mata saya berkaca-kaca menahan air mata. Sulit dipercaya bahwa beliau pernah mengajar selama 18 tahun di daerah terpencil, sebuah desa bernama Kerang, di Kecamatan Batu Engau beberapa kilometer setelah Tanjung Aru, seperti desa saya anda mungkin tidak akan dapat menemukan namanya di google map. Daerah dimana penduduk asli Passer tinggal di rumah-rumah Lamin yang tinggi dengan jarak yang jauh satu sama lain. Dengan hanya bermodalkan keikhlasan dan kecintaan kepada pekerjaannya Bapak Ishak rela hidup serba berkekurangan, berjuang mengajar di tengah belantara hutan yang penuh dengan semak belukar Kalimantan selama belasan tahun. Gaji yang diperoleh tentu nya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup dan sekolah anak-anak beliau walau demikian tidak menyurutkan semangat dan gairah Bapak Ishak untuk mengajar tunas-tunas bangsa dari pedalaman yang kelak mungkin akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa dan dunia.”Saya hanya berharap murid-murid dapat membawa sesuatu ketika pulang dari sekolah, tidak kosong, meskipun itu hanya 10% dari apa yang diajarkan guru.” Ujarnya ketika menjelaskan harapannya terhadap murid-murid dan guru-guru yang mengajar. Demi memenuhi kebutuhan keluarga Bapak melakukan apa saja selepas mengajar, bekerja bersama-sama masyarakat, bahkan ikut merotan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alhamdulillah berkat kerja keras, kegigihan, dan semangat pantang mundur saat ini usahanya berhasil dan beliau sudah memiliki lahan-lahan yang dikelola dan kios-kios di kota. Anak-anaknya pun beberapa ada yang menjadi pengusaha. Ketika hidup di pedalaman Bapak juga aktif di masyarakat dan selau berusaha membantu masyarakat.

Saking diseganinya bahkan tugas dan fungsi beliau saat itu sudah seperti kepala desa. Beliau memberdayakan masyarakat dengan membuat satuan pemukiman yang dihuni kurang lebih 100 kepala keluarga, yaitu kompleks pemukiman sendiri bagi masyarakat asli Passer yang biasa hidup berpindah-pindah dengan cara membuka hutan sehingga mereka dapat lebih mapan dan mudah dalam melakukan berbagai hal sehari-hari. “Ketika saya pindah dari sana, saya tidak membawa apapun kecuali apa yang melekat di tubuh.” cerita Bapak kepada saya, menambah kekaguman saya kepada Bapak. Di SD 018 ini Bapak Ishak membebaskan seluruh murid dari biaya apapun. “Bahkan biaya cetak dan laminating ijazah di tutupi oleh guru.” Ujarnya dengan antusias. Bapak Ishak mengusahakan gaji seluruh guru terbayar dengan baik tanpa sedikitpun meminta iuran terhadap anak murid. Seluruh siswa dibebaskan dari biaya buku karena semua buku diperpustakaan boleh dipinjam oleh murid-murid. Hanya saja jumlah buku di perpustakaan ini belum begitu banyak sehingga walaupun murid sedikit tetapi tidak semua murid dapat memegang buku. Walaupun begitu Bapak Ishak mengakui bahwa penghargaan yang diberikan oleh pemerintah sangat rendah.

Alhamdulillah Bapak Ishak saat ini sudah mendapat sertifikasi guru sehingga mendapat priviledge gaji dan tunjangan yang lebih besar dari guru-guru yang lain. Berbeda dengan guru-guru lain yang belum mendapat sertifikasi, gaji guru honorer bahkan hanya sebesar Rp.7500/jam yang setiap minggunya hanya mengajar kurang lebih hanya 24 jam saja. Bagi masyarakat desa jumlah tersebut mungkin cukup, tetapi saya sebagai manusia yang lama hidup di kota tercekat mendengar jumlah ini. Paradoks! Karena dengan jumlah sekian dan biaya yang harus ditanggung Bapak beserta dewan guru masih beritikad memberikan saya honor dari sekolah “Ini kesepakatan kami” tegasnya dengan senyum terkembang. Saya menangkupkan tangan di wajah sambil menahan haru. “Maaf Pak, terimakasih. Bukannya saya menolak hanya saya sudah berjanji tidak akan menerima apapun” tanggap saya. Detik itu saya tahu keikhlasan akan mengalahkan segalanya. Bahkan mengalahkan logika diagram Maslow bahwa sebelum segala sesuatunya basic needs (sandang, pangan, papan) harus terpenuhi lebih dulu. Saya menahan tangis saya di depan Bapak Ishak kala beliau menceritakan semua ini kemarin siang. Di tengah hujan deras yang turun tiba-tiba ketika kami hendak pulang. Hanya ada Beliau, saya, dan satu pengajar muda lain (Zaki) yang kebetulan berkunjung karena sekolahnya susah libur. Ruangan itu menjadi saksi bisu akan tuturan inspirasi yang mengalir dari cerita-cerita Bapak Ishak. Cerita yang membuat saya tercengang, kagum sekaligus bangga terhadap sebuah fakta bahwa saat ini saya di pedalaman Kalimantan Timur, mengajar di sebuah sekolah gratis.

Di saat saya skeptis dengan jargon-jargon sekolah gratis.

Di saat guru-guru SD di kota mengatakan bahwa yang gratis hanya iuran per bulan tetapi tetap ada uang buku, uang masuk, dll.

Di saat guru SD saya sendiri mengakui bahwa sekolah gratis hanya label semata.

Di saat cita-cita terbesar saya adalah membuat sekolah gratis yang layak dan bertaraf internasional


Maka dengan mata berkaca-kaca saya berkata kepada Bapak Ishak, bahwa “Cita-cita saya ingin menjadi Bapak” terngiang sebuah lagu di ujung sana...

Engkau bagaikan pelita dalam kegelapan

Engkau patriot pahlawan bangsa Tanpa tanda jasa

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran