Hari Pendidikan Nasional (part II-End)
Diah Setiawaty | 14 May 2011

Pada pagi hari tanggal 2 mei, tak lama setelah saya sampai di sekolah anak-anak kelas empat menjemput saya di kantor dan meminta saya masuk ke kelas.

“Bu, bisakah masuk ke kelas kami sebentar?” kata salah seorang perwakilan

“Ada apakah?” kata saya

“Ada kejutan untuk Ibu” hati saya terenyuh melihat wajah-wajah riang mereka.

Begitu masuk kelas saya melihat ada sebuah kardus kecil berselaput kertas berwarna kuning emas di atas meja guru. Diatasnya ada sebuah pita kecil yang berwarna kuning. Diatas pita kuning itu ada segaris pita merah. Disebelah kotak kardus kecil itu disediakan gunting. Saya terkaget, begitu kreatif anak-anak ini. Bahkan dari kemasannya saja saya sudah mencintai hadiah tersebut. Saya adalah tipe orang yang begitu memperhatikan kemasan dari hadiah yang akan diberikan kepada orang lain. Terkadang saya bahkan tidak begitu mempermasalahkan apapun isinya. Bagi saya mau memberikan hadiah saja itu sudah sesuatu yang luar biasa,  niat baik dan ketulusan itu lebih berharga. Tetapi ketika seseorang mau repot-repot membingkis hadiah dengan kemasan yang indah tentunya kerja keras itu perlu dihargai lebih.

Anak-anak segera meminta saya untuk memotong pita merah tersebut dengan pita merah yang disediakan. Saya merasa seperti meresmikan sesuatu, yang jelas meresmikan meningkatnya level hubungan saya anak-anak tersebut. Tidak berarti saya tidak merasakan hal ini dengan anak-anak kelas lainnya tetapi kelas IV adalah kelas pertama yang memberikan hadiah kepada saya dengan simbolis. Betul-betul tidak diduga dan mengharukan.

[gallery]

Tidak lama setelah itu saya kami mengadakan upacara, tiba saat ketika protokol mengatakan “Pembina upacara memasuki lapangan upacara!” guru-guru secara sepihak menunjuk saya untuk memberikan pidato dalam rangka Hardiknas! What the...???! saya tidak menyiapkan apapun karena saya cukup yakin kepala sekolah yang akan memberikan pidato, tetapi ternyata saat itu kepala sekolah datang terlambat. Akhirnya saya memberikan pidato hardiknas, saya mengambil kesempatan itu untuk  membahas tentang pentingnya kejujuran sebagai bekal kesuksesan bagi anak-anak saya. Dihadapan mereka saya katakan nilai bagus dan segudang prestasi tidak akan memberikan apapun jika tidak diiimbangi dengan akhlak yang baik. Serta mengingatkan anak-anak kelas dari kelas I-VI atas butir-butir janji siswa yang sering mereka katakan diantaranya,

Selanjutnya tiba saatnya saya melakukan penjurian terhadap lomba dekorasi kelas. Saya membantu kepala sekolah dan salah seorang guru untuk melakukan tugas penjurian tersebut. Kreativitas anak-anak saya benar-benar tinggi dan saya bangga akan hal tersebut. Ada beberapa balon yang digantung di langit-langit bersama kertas karton berbentuk mobil-mobilan, bulan, dan bintang. Serasa hiasan lampion di Pecinan. Saya berkata kepada mereka,

“Andai saja disini ada listrik, jika kita tambahkan lampu hiasan atapmu ini bisa menjadi lampion” mereka hanya menatap saya bingung lalu melanjutkan membersihkan kelas dan merias kelas tersebut. Bahkan guru kelas kecil seperti guru kelas dua pun mengerahkan segala tenaga dan kreativitasnya untuk mendekor kelasnya.

Tapi tiba-tiba salah beberapa orang dari kelas lima berkata mereka akan melakukan demo jika kelas dua menang. Alasannya: dekorasi kelas dua dibikinkan oleh gurunya. Begitu pula ketika saya mengunjungi anak-anak kelas enam, mereka juga melakukan hal yang sama. Rupanya demokrasi sudah tertanam jelas di benak anak-anak ini, bahkan proses melalui demonstrasi. Saya salut dengan guru-guru yang mengajarkan hal ini sebelumnya kepada anak-anak walaupun belum pernah ada sejarahnya demonstrasi di sekolah ini. Saya kemudian teringat ketika melakukan demonstrasi di kampus dulu, untuk menuntut keringanan biaya pendidikan salah seorang teman saya bahkan menginisiasi aksi melempari lambang kampus dengan jaket almamater “some of the good old days”.

Akhirnya saya memberikan penjelasan kepada mereka bahwa walau bagaimanapun kelas dua muridnya masih kecil-kecil sehingga wajar jika gurunya membantu mereka, biar bagaimanapun kelas dua juga berusaha seperti kalian.

Tidak lama setelah itu tiba saat penghitungan hasil penjurian , juara pertama dimenangkan secara mutlak oleh kelas enam. Tetapi ternyata untuk juara duanya kelas lima dan kelas dua mendapatkan skor yang sama. Setelah berdiskusi dengan kepala sekolah, beliau akhirnya memberikan kebijaksanaan untuk menyerahkan gelar juara dua kepada kelas lima karena anak-anak sudah bekerja keras dengan kreativitas mereka sendiri. Kelas dua menjadi juara tiga dengan tetap menghormati kerja keras sang wali kelas yang sudah banyak berkorban untuk anak-anak.

Keesokan harinya kami mengumumkan semua dan memberikan hadiah berupa piala dan foto kelas. Saya memberikan foto kelas tersebut kepada seluruh perwakilan kelas lima sampai kelas enam. Karena walaupun bagaimana mereka semua telah berpartisipasi menyemarakkan perlombaan dalam rangka hari pendidikan nasional. Dan saya sangat menghargai seluruh kerja keras anak-anak dan seluruh guru-guru tersebut.

Sayangnya ketika pengumuman juara tiga, walikelas dua tampak tidak terima keputusan bahwa kelasnya menjadi juara tiga, dengan segala usaha, perjuangan keras, dan keindahan yang dia presentasikan. Dia kemudian tidak mau foto dengan anak-anak bahkan berteriak di hadapan seluruh anak-anak dan guru-guru lain “Culas! Anak kelas dua kan tidak bisa mendekor!”. O’O.....here’s the drama begin... Ketika saya memberikan selamat dia tertawa sinis sembari berkata “Sia-sia deh!” speachless saya masuk ke ruang guru, seorang guru lainnya yang kerap kali memprovokatori anak-anak agar berdemonstrasi jika kelas dua menang tiba-tiba menatap saya dengan benci dan juga berteriak, “Gara-gara Mbak Diah sih!” whoops, well what did I do?? I really don’t get it? Is it the competition that’s wrong? Belakangan saya tahu guru tersebut yang diteriaki oleh wali kelas dua. Lalu mulai ada back sound bersliweran...saya tidak begitu mendengar apa-apa saat itu karena berbagai suara mulai bergema di kepala saya, saya ingat situasi begitu chaos. Untungnya saya di selamatkan oleh wakil kepala sekolah yang menarik tangan saya untuk pulang. “Sudah Bu, kalau tetap disini tambah sakit hati kamu”.

Keesokan harinya, yep inilah yang betul-betul menyakitkan hati saya selain segala drama itu. Foto yang saya berikan dikembalikan di meja saya, sedangkan pialanya ada di meja lain. Fuiih...saya tidak pernah berharap apapun ketika memberikannya, apalagi berharap dikembalikan. Akhirnya saya kembalikan lagi kemeja tersebut. Pagi itu adalah pagi dimana saya begitu sedih sekaligus marah. Dua perasaan yang sangat ingin saya hindari karena saya sangat tidak ingin membenci orang lain. Saya mulai berdoa agar menghilangkan semua perasaan negatif terutama kebencian dari diri saya. Tolong Tuhan saya akan lakukan apa saja agar kebencian ini bisa hilang. Perasaan tidak suka kembali menohok ketika saya diberikan pesan oleh sang guru tersebut agar mengisi kelas tiga karena gurunya baru datang siang akibat keperluan lain. Padahal saat itu saya sedang memberikan pendalaman materi di kelas enam karena guru matematika juga belum datang. Saya rasa mengisi kelas enam yang akan UASBN lebih penting, apa lagi saya lihat di kelas tiga sudah ada guru pengganti. Yang lebih menyakitkan adalah cara menyampaikan pesan untuk mengisi kelas tiga yang begitu dingin, sinis, dan terkesan memerintah. Setelah saya sampaikan bahwa saya sedang mengisi kelas enam saya kembali mengajar. Tak lama kemudian saya mengisi kelas tiga karena kelas enam sudah datang. Hati saya terus berdoa agar menghilangkan perasaan negatif ini.

Tiba-tiba keajaiban terjadi. Ketika saya keluar, saya melihat guru ini tersenyum kepada saya begitu tulus. Semua kejadian seperti menguap, rasa sedih dan sakit hati saya hilang sama sekali begitu saya membalas senyumnya. Sedetik kemudian saya baru tahu dia tidak tersenyum kepada saya tetapi kepada guru lain tetapi tidak sengaja matanya bertemu mata saya. Hahaha...I know I look like a fool at that time. Tetapi saya bersyukur dan saya yakin tidak lagi ada masalah di antara kita. Betul saja ketika saya ke ruang guru, foto sudah terletak di mejanya dan piala juga sudah diterimanya. Saya benar-benar bersyukur, minggu itu setelah ritual shalawatan setiap jumat pagi-dua minggu sekali saya mengatakan kepadanya

“Mohon maaf lahir batin ya Bu”

dan Ibu itu membalasnya dengan sebuah pernyataan yang sangat melegakan

“Iya sama-sama Bu Diah.”

Overall saya merasa perayaan hari pendidikan nasional di sekolah saya begitu berkesan. Sebelumnya tidak pernah ada perayaan apapun. Selain itu bekasnya masih terasa sampai sekarang, meskipun balon-balon sudah banyak yang pecah. Tetapi tidak satupun dekorasi diturunkan. Kelas-kelas kami seperti kelas yang baru saja disewa untuk merayakan hari ulang tahun. Lebih meriah dan berwarna. Tidak diduga padahal sejujurnya inilah kali pertama saya merayakan hari pendidikan nasional. Seriously, sepanjang riwayat saya duduk di bangku sekolah saya tidak pernah  sekalipun merayakan hari pendidikan nasional. Tidak pernah ada perayaan atas kerja keras para founding father and mother di bidang pendidikan di Indonesia, kecuali perayaan hari Kartini yang saya ikuti terakhir kalinya pada saat saya TK. Itupun bukan sebagai tokoh pendidikan tetapi lebih sebagai tokoh emansipasi wanita. Sebuah kata yang sekarang banyak mengandung pro dan kontra dan dimaknai secara sempit oleh orang-orang yang tidak setuju akan kesetaraan gender atau yang mengetahui isu tersebut secara parsial dan tidak perduli. Ok whatever. There I finish what I promised. This is one of the best event in my school so far

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran