SNOBAKH Tanimbar
Bartolomeus Bagus Praba Kuncara | 28 July 2012

31 Desember 2011

“Dimanapun Tuhan lebih senang manusia hidup berdampingan dengan damai”

-Bartolomeus B-

SNOBAKH

 

                Secangkir SOPI merah diletakkan di atas meja yang dikelilingi para tetua tanah. Di bawah secangkir anggur kelapa itu diletakkan sejumlah uang. Nominalnya tergantung kondisi ekonomi seseorang. Aku dan Dedi duduk di depan meja yang di atasnya ada segelas SOPI, ditemani pak Camat Molu Maru. Setelah itu seorang pimpinan batu adat mulai mengucapkan doa pada UBU RATU (Pujaan pada Yang Esa).

                Beberapa menit doa dinaikkan, yang aku sama sekali tidak mengerti bahasanya. Mendengar juga baru kali ini setelah 22 tahun hidup. Bahasanya mirip di film-film bersetiing Afrika kalau dilagukan, mirip sama sekali.

Aku yang sejak pertama akan datang ke Molu Maru selalu mendengar tentang kuatnya ilmu hitam di Molu, hanya berdoa dalam hati agar ini semua tidak  ujung-ujungnya berikatan dengan “yang gelap-gelap”. Prosesi ini harus dilalui bagi warga baru, karena kalau tidak, masyarakat Molu percaya kalau para datuk yang pekerjaannya “menjaga” pulau akan marah.

                Selesai berdoa, SOPI dituang sedikit ke tanah lalu diedarkan ke para tetua adat. Kami semua minum SOPI dari 1 gelas yang sama. Rasanya seperti Legen kalau orang Jawa bilang, hanya ini ada kesan alkohol yang kuat. Anget se ke badan rasanya.... J. Selanjutnya kami berdua disalami para tetua adat dan dinyatakan secara sah menjadi penduduk Molu. Kami secara adat sudah diijinkan untuk ngebolang kemanapun. Mau di gunung, mau di laut, mau di rumah juga boleh.

                Prosesi ini kami lakukan sebanyak 5 kali, karena ada 5 desa yang kami datangi. Bahkan saat di Wadankou, ada prosesi tambahan buatku yang saat itu baru saja sakit Malaria. Bung Absalom Rahansirang yang dulu pernah kena guna-guna menempelkan pasir ke keningku begitu kakiku pertama menginjak pantai Wadankou. Ya....aku se no problem. Prosesi ini namanya SNOBAKH.

                Prosesi penerimaan penduduk baru ini sudah tidak ada di Saumlaki, yang menjadi ibukota kabupaten. Ya mungkin aku salah, mungkin saja masih ada pada beberapa desa, tapi yang pasti selama di Saumlaki belum pernah ketemu, kecuali prosesi adat penerimaan warga Molu yang akan menari Tnabarilaa (lihat blog Dedi Kusuma Wijaya tentang Tnabarilaa) oleh Kepala Desa Olilit Baru. Perkembangan zaman ternyata sekali lagi menggeser bentuk-bentuk budaya.

                Tidak terlalu banyak pendapat tentang pergeseran tersebut, namun yang perlu dicermati adalah nilai luhur budaya SNOBAKH. Bagi penduduk baru yang sudah di SNOBAKH harus mengerti makna dari budaya ini yaitu “Kedamaian Bermasyarakat”.  Anda datang dan diterima dengan tangan terbuka, jadi Anda hiduplah dengan itikad baik dan menjadi bagian masayarakat dengan damai.

                Ada seorang guru yang berhasil memaknai budaya ini dengan luar biasa. Nama beliau adalah Bachtiar. Beliau dipanggil dengan sebutan Bapak Bachtiar. Seorang guru Matematika di SMP yang kala itu masih bernama SMPN 7 Wuarlabobar (kini jadi SMPN 1 Molu Maru). Seorang Muslim Makasar. Terhitung pada tahun 2008 mengabdi selama + 16 tahun di Molu Maru. Saat dia pertama datang, orang-orang Adodo bercerita kalau Molu masih gelap, orang masih nyebrang pulau menggunakan perahu layar. Sama sekali tanpa listrik dan yang paling penting....tidak ada MCK sama sekali.  Datang dengan istri seorang muslim taat (berjilbab man....). Tidak ada jaminan hidup nyaman di sana. Seperti lagunya Raffi dan Yuni Sara....”Meski Minimarket datang 50 tahun lagi, ku akan tetap mencintaimu”.

                Beliau tidak kabur dari tugas, meski masa itu beliau tidak tahu sampai kapan ada di daerah yang mirip kampungnya George The Jungle dan ternyata masih Indonesia. Beliau justru terlibat aktif di kegiatan masyarakat. Beliau seorang muslim, namun terlibat aktif di kegiatan-kegiatan masyarakat yang 100% kristen protestan. Menjadi pemimpin ibadah unit, pemimpin acara natal, bahkan aktif di ibadah-ibadah minggu. Namun beliau tetap sholat 5 waktu. Perbedaan falsafah hidup tidak membuat beliau sekeluarga kemudian mengambil jarak terhadap masyarakat yang telah terbuka menerima mereka, apalagi berpikiran jahat. Rupanya Pancasila dan semangat Keindonesiaan sudah jadi kepribadian beliau.

                Ketika kerusuhan Ambon pecah pada tahun 1999, terdapat kabar bahwa salah satu anak warga Adodo Molu mati dibakar hidup-hidup. Berita itu sampai di Molu pada malam hari. Seketika itu juga tetua adat dan kepala desa segera membawa keluarga Bachtiar ke rumah kepala desa dan memberitahukan kondisi yang terjadi. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, maka para tetua adat dan kepala desa melarikan Pak Bacthtiar ke Larat (1 malam dari Adodo) untuk sementara pergi ke Makassar. Para pemangku desa sepertinya sudah mencintai keluarga muslim ini.

                Setelah kerusuhan Ambon reda, keluarga Bachtiar tetap kembali ke Molu. Setelah genap 16 tahun, Pak Bupati berkunjung ke pulau Molu. Pak Bachtiar yang sudah berhasil memiliki 4 anak sejak di Molu memberanikan diri untuk mengajukan permohonan pindah ke Makassar. Pak Bupati yang baru mengetahui tentang pak Bachtiar memberi kelancaran proses pemindahan dan memberikan kenaikan pangkat khusus karena pengabdiannya. Keluarga yang datang hanya berdua kini kembali dengan berenam.

                Mereka datang dan melewati prosesi SNOBAKH, mereka berbeda namun diterima dengan terbuka. Mereka berbada namun tidak membuat pembedaan dalam hati mereka. Pengabdian selama 16 tahun di daerah yang masa itu istilahnya PM Fak-Fak Arif “Untauchable Village”, membuktikan nilai budaya SNOBAKH mereka pahami dengan baik.

                Kini IM datang di desa yang pemerintah sudah “men-tauch-nya, jauh lebih mendingan daripada zamannya pak Bachtiar. Seandainya, nilai luhur SNOBAKH dalam keluarga Bachtiar dimiliki semua penduduk Indonesia, sepertinya Indonesia  damai bisa lebih cepat terjadi.

 

Hidup di rumah yang damai sepertinya lebih menyenangkan daripada masing-masing ngotot dengan pandangannya... J

               

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran