Apr
20

Satu-satunya kekhawatiran saya ketika pengumuman penempatan ialah sentimen kedaerahan. Ketika diumumkan bahwa daerah penempatan saya Kalimantan Selatan (HSS), maka yang tergambar di benak saya adalah suku Dayak. Maklum, bagi perempuan berdarah Madura asli seperti saya, mendengar kata “dayak” masih menjadi hal yang mencekam ketika itu. Bulan April 2016, saya diminta untuk menuliskan kekhawatiran sebelum keberangkatan menuju lokasi bertugas. Saya tulis di selembar kertas “Suku Dayak”. Ya, saya tidak sanggup membayangkan tantangan seperti apa  yang akan saya jalani jika tinggal bersama suku Dayak. 

 

Saya pernah mendengar kisah dari kawan jika suku Dayak bisa mendeteksi keberadaan orang Madura hanya dari baunya. Jika ketahuan, maka langsung di "…." (tangan membelah leher. hiks). Inilah gambaran yang terlintas di benak saya saat itu. Pandangan yang dibentuk dari pengetahuan 'katanya..katanya..'. Saya memang takut, namun, di sisi lain, ada rasa penasaran mennggelantung di sudut hati dan pikiran saya: benarkah suku Dayak demikian? Seperti apa tampilan orang Dayak? Entah kenapa pikiran saya membuat gambaran seperti film apocalypto.

 

Takdir berkata lain. Saya bertugas di kawasan suku Banjar, bukan Dayak. Keseharian saya bersama masyarakat Islam. Dalam hati saya, keinginan untuk mengetahui bagaimana suku Dayak masih membara. Hingga pada suatu hari libur bulan Januari 2017, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di kampung dayak.

 

 

Perjalanan dari desa saya bertugas dimulai dengan menaiki longboat/kapal guru selama +- 1 jam. Lalu, dilanjutkan naik kendaraan bermotor ke Kandangan selama +- 1 jam. Kemudian dari kota Kandangan menuju Loksado selama +- 1 jam. Dari Loksado, saya dan kawan yang bertugas di kampung dayak, Anita namanya, berjalan kaki menuju desa Loklahung yang berjarak kurang lebih 20-30 menit. Maka, kini tibalah saya di kampung dayak Meratus, Desa Loklahung, Kecamatan Loksado.

 

Saya datang ketika beberapa pemuda berkumpul di tengah jalan. Ada apa gerangan? Ternyata, seekor ular melintas di kawasan manusia. Pemuda tersebut dengan sigap menangkap sang ular, memukulnya dengan kayu bersama pemuda lainnya lalu menendangnya ke arah hutan. Wow! Pemandangan yang tak biasa bagi saya. Semakin gemetarlah badan saya. Saya pun semakin mendekat ke Anita, bertanya perihal apa yang terjadi. Ia bercerita jika kejadian tersebut lumrah disini. Jika ada ular atau anjing gila, maka orang-orang dengan sigap menyingkirkan mereka agar tidak mengganggu manusia lainnya. Saya pun terdiam dan hanya bisa terpana, gemetar, takut, terpukau sekaligus kagum dalam waktu bersamaan.

 

Kami pun tiba di rumah pembakal (kepala desa) Loklahung yang juga orang tua angkat Anita. Keluarganya mempersilahkan saya masuk dan kami pun mulai berbincang. Anak-anak mereka mendatangi saya dan tak perlu waktu lama suasana mulai mencair. Anak-anak meminta saya membuat gambar di buku tulisnya. Antusias anak-anak tak ubahnya di desa saya ketika awal mula kedatangan. Tak ada percakapan-percakapan yang bernada kasar karena saya berdarah Madura. Saya diterima layaknya mereka menerima kawan saya.

 

Ternyata, tak seperti apa yang saya khawatirkan. Pandangan, asumsi dan beragam hal negatif di kepala saya luntur dengan sendirinya. Apalagi di hari-hari berikutnya saya diperkenankan ikut masuk ke Balai adat Malaris (tempat sakral bagi mereka) dan ikut serta membantu membuat masakan untuk acara adat. Sungguh, saya tak menyangka bisa berbaur hingga demikian.

 

Tampilan mereka pun jauh dari bayangan saya. Saya kira suku Dayak itu begini dan begitu. Ternyata, banyak dari mereka berwajah cantik menarik dan berpakaian sopan. Mereka menaiki kendaraan bermotor untuk menyusuri jalan-jalan gunung. Beberapa rumah dibangun dari campuran kayu dan semen, hampir sama seperti di kota. Kebanyakan rumah lainnya murni dari kayu yang ditebang sendiri di hutan. Jelas, persepsi saya tak terkonfirmasi kenyataan di lapangan. Astaga!

 

Hal menarik lainnya ialah, untuk pertama kalinya saya melihat langsung babi hutan berwarna hitam dengan berbagai ukuran dan anjing berbagai rupa berkeliaran layaknya kucing di desa. Bagi saya yang muslim, pengalaman ini tidak akan terlupakan. Jika dulu saya tak pernah membayangkan babi menjilati sandal saya, saat ini saya tahu. Hanya tinggal menyucikannya dengan air tujuh kali salah satunya dengan debu. Bukankah agama telah mengajarkan cara terbaik untuk hidup berdampingan dengan semua makhluk-Nya? Mengenai hal ini, saya sangat salut dengan cara Anita berinteraksi dengan warga sekitar. Ia membuktikan bahwa perbedaan ajaran agama tidak menghalangi hubungan sosial dengan siapa pun.

 

Di hari-hari saya menginap disana, tak henti-hentinya saya mensyukuri pengalaman bisa berkunjung dan tinggal di kampung dayak ini. Saya orang Madura dan saya pernah tinggal di lingkungan suku Dayak yang ramah menyambut kehadiran para pendatang.

 

"Benarlah jika dinyatakan bahwa buku membuka pengetahuan kita, namun pengalaman membuat kita memahami kenyataan" (Asri, 2017)

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!