#11 Tragedi Jeramba
Agung Cahya Nugraha | 21 December 2012

 

Sore itu aku sedang mandi di jeramba belakang rumah. Dengan belakang rumah yang langsung menghadap ke sungai lalan, kau akan selalu merasa senang untuk mandi setiap sore. Pemandangan sungainya yang lebar, deretan rumah panggung dari kayu di seberang berjajar dengan hutan bakau yang hijau lembab, ditambah siluet lembayung oranye yang cantik, siapa yang tidak tergoda.

Setelah menanggalkan baju, aku mulai mengisi bak sambil bernyayi-nyanyi. Biasalah, ritual mandi setelah seharian sekolah. Dengan semua kepeningan seperti itu, tambah lagi aku sekolah siang hari dimana jam-jam itu adalah jam rawan ngantuk, siapapun akan butuh waktu rilex.

Di tengah-tengah lagu, ada sesuatu yang menarik perhatianku sedang mengambang di air. Sore ini air pasang lumayan tinggi. Oh iya, aku asli orang sini, tapi belum bisa berenang. Dengan tubuh seberat 50 kilo dan baru berumur 9 tahun, wajar kalau aku tidak bisa berenang (setidaknya itu menurutku)

Oke, balik lagi ke sesuatu yang menarik di air. Benda itu indah dan mengambang, menarik keluar rasa penasaranku. Aku berusaha meraihnya dengan ujung jariku, sayangnya benda itu mengapung terlalu jauh, jauh dari jangkauanku.

Tentu saja aku pantang menyerah, aku merebahkan tubuhku di atas papan jeramba, dengan begini jangkauanku melebar. Kemudian sesuatu hal yang tidak aku perhitungkan terjadi. Terdengar bunyi “krek” dan tubuhku dengan gemulainya melayang jatuh, terjerembab ke dalam air. Byuuur, keras memecah permukaan sungai.

Jeramba usang itu, benda itu pasti sudah bertahun-tahun ada di sana. Tidak mampu menahan tubuh gempalku. Hasilnya sekarang aku menegang dengan kaki bertahan pada tunggak (semacam kayu yang terpancang ke dalam lantai sungai, untuk tiang rumah panggung) bekas. Ada sesuatu yang membuat paha kiriku perih. Aku tak sempat meringis karena ketakutan.

Detik berukutnya aku sadar kalau aku sedang dalam masalah, kalau tunggak ini tak bisa menahan berat tubuhku, atau skenario lain—kakiku terpeleset karena tunggak tua ini berlumut—aku akan benar-benar mati. Mati tenggelam, padahal umurku baru 9 tahun.

Jantungku berdegup kencang, dengan setengah badan terendam air—air ini lebih dingin dari biasanya. Aku berusaha meraih sesuatu yang bisa aku raih. Papan jeramba terlalu tinggi, hanya rerumputan liar yang bisa kupegang untuk penahan, walau aku yakin mahluk hijau tak berdosa itu tak akan benar-benar mampu menahan berat badanku.

Aku berteriak keras-keras, ”IBUUUU, IBUUUUU, IBUUUUUU!!!!” sekencang-kencangnya hingga tenggorokan serasa mau robek.

Kemudian sosok itu datang dari dalam rumah, setelah beberapa kali terdengar suara langkah kaki mengiitari rumah. Aku mengeraskan suaraku lagi (kali ini tenggorokanku benar-benar serasa pecah) barulah ia keluar dari arah pintu belakang. Ia berlari dengan wajah panik, nampaknya baru sadar kalau sumber suara berasal dari tempat mematikan ini.

Melihatku sudah terendam air, ibu langsung lompat, membenamkan badannya, memelukku erat-erat. Perasaan aman luar biasa meresapi sekujur tubuhku. Aku baru selamat dari gerbang kematian. Aku lalu mengucapkan kata-kata pujian, bersyukur dengat sangat serius.

“Kau ini ngapain Rizkiii!!!” suara ibuku bergetar, aku tidak yakin apakah marah atau sedih, matanya  basah.

Detik berikutnya, mungkin karena keributan yang kami hasilkan, seseorang menyembulkan kepalanya dari pintu belakang rumah sebelah.

“Pak agung, tolong pak, aku juga tidak bisa berenang!!!” teriak ibuku. Kalimati itu menyambar ubun-ubunku. Aku belum lolos dari gerbang kematian!

Laki-laki yang dipanggil pak Agung tadi terlihat hendak melompat ke dalam air, tapi urung. Berkelebatan dia menghilang kembali ke dalam. Aku benar-benar sudah menangis sejak tadi. Musik kematian terus bergema di dalam tempurung kepalaku.

Ada semacam aroma malaikat maut menggantung pekat di atas ubun-ubunku, mirip aroma maut di rumah sakit. Belum lagi rasa perih di sekitar paha kiriku. Kalau bukan karena pelukan ibu, mungkin aku sudah pingsan.

Laki-laki itu belari dengan cepat menuju kami, tubuhnya yang tinggi menggetarkan jeramba, ia bergerak dengan gesit. Merebahkan tubuhnya, lalu meraih tubuhku naik ke atas jeramba. Dengan sedikit usaha ekstra akhirnya tubuhku terangkat. Aku masih menangis, mengerAng-ngerang karena shock dan ketakutan.

Detik berikutnya pak Bambang, polisi desa kami yang tinggal di rumah sebelah datang, menyelamatkan ibuku. Bapak itu memapah ibu dalam air hingga bisa menggapai daratan kolong rumah.

Pak agung merebakan tubuhku dengan sangat hati-hati. Setelah terduduk aku baru sadar kalau paha kiri bagian dalamku telah tergores, mungkin 10 cm, dengan daging merah pucat menganga. Rasanya pedih minta ampun. Rasa sakit paling sakit seumur hidupku.

Beberapa orang mulai berdatangan. Pak Agung segera berlari lagi, aku tak tahu kemana, tetapi beberapa saat berikutnya ia sudah membawa peralatan P3K di tangannya. Ia mengeluarkan cairan kuning di botol, lalu membasahi sehelai kapas dengan itu. Detik berikutnya lukaku mengendut di tempeli kapas kuning, makin sakit. Aku mengerang kejang.

Aku tahu kalau Pak Agung sedang membersihkan lukaku. Mungkin ada serpihan kayu lapuk yang masih tertinggal di dalam, tapi tetap saja rasanya perih

“Ini bapak bersihin dulu ya, biar ngga infeksi” katanya, suaranya tedengar sangat tenang, menentramkan hatiku.

Ibuku muncul lagi di beranda dapur belakang. Wajahnya terlihat kelelahan dengan pakaiannya yang basah kuyup terlihat kacau.

“Bu segera panggil bidan,” seru pak Agung.

“Iya pak, kage (nanti) ini aku telpon,” tanganya segera meraih hape, lalu mendekatkan benda kecil itu ke telinganya.

“Pak sakit paak,” kataku berteriak, air mata sudah bercucuran sejak tadi. Cairan kuning itu benar-benar meresap dan membuat lukaku terasa makin perih saja.

“Ada luka lain ngga, Ki?” kata Pak Agung.

“Nda ada pak,” kataku sambil menangis, aku sudah tak peduli lagi kalau umurku sudah sembilan tahun dan kelas 4 SD. Rasa perih di luka ini benar-benar menyakitkan. Belum lagi daging merah pucat yang menganga di salah-satu bagian tubuhku, membuatku mual dan pening.

 “Pindahin dulu bu, dibersihin dulu badan Rizkinya, kasian kotor,” salah seorang tetangga sebelah yang sudah mulai berkerumun memberi saran.

“Iya pak, tolong bantuin Rizki pindah,” kata ibunya, suaranya bergetar.

Pak Agung membantuku berdiri. Saat tubuhku tegak luka sobek ini makin perih saja, aku meraung kesakitan.

“Sini, pelan-pelan jalannya. Kaki kirinya jangan digoyangin,” kata pak Agung. Pak Agung memapah tubuhku bersama dengan ibu ku.

Di dalam, tubuhku dilap ibu. Setelah bersih, tubuhku direbahkan di ruang tamu. Makin banyak orang-orang yang menonton, aku malu (karena talanjang) dan kepanasan.

“Sudah dihubungi bu, bidannya?” kata pak Agung. Pak guru ini masih sibuk membersihkan lukaku, nampaknya darah masih mengalir dari sana. Dan makin lama, rasanya makin perih saja.

“Lagi ke sini pak,” kata ibuku. “Diamlah kau rizki, jangan nangis terus!” Bentak ibuku. Walau nada suaranya tinggi, Ia masih terlihat shock dan khawatir.

Setelah itu bidan maya tiba, jarak rumahnya hanya 100 meter dari rumah kami.

“Baru dikasih revanol bu tadi, “ kata pak Agung.

Bidan Maya memeriksa lukaku, yang ternyata lebih besar dari yang aku bayangkan. Sejujurnya aku takut melihat dagingku sendiri menganga segar seperti itu.

Ia membersihkan lukaku, lebih cekatan dari pak agung.

“Ini harus di jahit Ki, kalau nda, sembuhnya bisa berbulan-bulan,” kata bunda maya.

Aku menjerit, jelas-jelas menolak di jahit. Aku tidak mau ada jarum tajam  yang keluar masuk kulitku!

“JANGAN DI JAIT BU MAYAAAA!!!” Aku meraung sejadi-jadinya! Aku pernah melihat adik sepupuku dijahit waktu ia terluka di pipinya kerena jatuh dari sepeda.

Para penonton kami tertawa, bahkan Bu Maya dan Pak Agung. Aku yakin hanya ibu yang memasang tampang seram.

Bu maya mengeluarkan sebuah alat suntik, memasukan cairan bening ke dalam benda itu, lalu menekan tuasnya, cairan itu keluar dari ujung jarumnya yang tajam di depan hidungku. Bu maya menjentikkan jemarinya di batang jarum suuntik dengan santainya.

Efeknya tubuhku bergetar hebat dan raunganku makin keras. Tingkahku makin menghibur penonton, padahal aku serius sedang sangat ketakutan.

Seperti kebanyakan orang gempal lainnya, kami takut jarum suntik.

Aku masih memohon-mohon sambil menangis agar bu Maya mengurungkan niatnya.

“Pak tolong pegangin pak” kata bu Maya santai.

Detik berikutnya pak Agung dan beberapa orang memegang seluruh tangan dan kakiku. Tubuhku terkunci tak bisa bergerak. Aku hanya bisa meraung makin keras, mereka tak peduli tenggorokannku sudah sangat sakit.

“Ibu ba-al dulu ya” katanya.

Berikutnya serasa seperti ada tawon raksasa yang menggigit pahaku. Bu maya rupanya menusukkan jarum tadi ke dekat lukaku, rasanya sakit minta ampun. Rasa sakitnya bertambah berkali lipat saat cairan itu masuk menembus daging di bawah kulit luka itu. Aku meraung-raung kesakitan.

Berikutnya Aku tidak terlalu ingat, yang jelas, benda seperti pancing besar untuk ikan hiu menembus kulitku sepuluh kali, meninggalkan lima jaitan. Belum lagi suntikan tetanusnya, tepat di pantatku yang gemuk ini.

Setelah semuanya selesai, aku baru bisa menata nafas dan berfikir jernih.

Betapa beruntungnya aku tinggal di desa Karang Agung. Begitu banyak orang-orang yang peduli padaku. Mulai dari ibu, pak Agung, bu Maya, dan tetangga yang setia menonton prosesi pengobatanku hingga akhir.

Sekarang aku di sini terbaring, walau lemas, dengan paha kiri masih berkedut sakit,  aku masih bisa bersyukur karena aku masih bisa melanjutkan hari esok.

Walau masih sakit, malam ini aku masih bisa tidur dengan wajah tersenyum. []

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran