Untaian Kasih Sayang Di Hari Kelahiran
Adji Prakoso | 29 April 2013

Setiap insan pasti menginginkan nuansa istimewa di moment peringatan hari kelahirannya. Nuansa penuh ucapan selamat dan haturan doa dari orang-orang tersayang. Hari yang akan terkenang indah setiap tahunnya. Suasana lebih warna warni, jikalau ucapan selamat dan haturan doa disampaikan tanpa media penghubung, baik alat komunikasi maupun media sosial. Selain itu, peringatan hari kelahiran merupakan wahana refleksi untuk menyusun kembali langkah dalam menggapai mimpi-mimpi kehidupan. Doa jadi bumbu penambah semangatnya.

Bagi sebagian besar insan, hari istimewa harus dihabiskan bersama keluarga ataupun para sahabat, khususnya ibu dan ayah. Walaupun hanya dilewatkan sederhana, seperti makan bersama-sama masakan ibu ataupun sekedar berbagi kisah di tempat hiburan favourite keluarga. Namun khusus untuk saya, menikmati untaian doa dari ibu dan ayah melalui alat komunikasi sudah cukup membuat bahagia di hari istimewa itu. Maklum enam tahun belakangan ini, saya menggeluti kehidupan di tanah rantau. Tetapi di tahun ini, ada warna baru yang memberikan kenangan indah dalam hidup. Faktor utamanya adalah tindakan special dari jagoan-jagoan kecil, ketika peringatan hari lahirku.

Berawal dari pertanyaan mereka kapan hari kelahiranku, sejak semester awal kegiatan belajar mengajar di sekolah. “ Bapak kapan ulang tahunnya ? Ayo beritahu kami jangan diam dan senyum-senyum saja”, ujar beberapa jagoan-jagoan kecilku. Saya memang bersikeras untuk menyembunyikan hari istimewa tersebut, dan membalasnya dengan senyuman atau gurauan untuk mengalihkan pertanyaan mereka. Namun semangat jagoan-jagoan kecil untuk mendapatkan tanggal, bulan dan tahun lahirku tidak padam sampai sana. Beberapa anak dengan cerdik masuk ke kantor untuk melihat papan pengumuman yang berisi biodata singkat dewan guru di sekolah, alasannya membantu merapikan kantor di pagi hari. “Nah, ketahuan lahir di Bogor, 17 Februari 1988, tutur Anggraini salah seorang jagoanku”.

Akhirnya hari istimewa itu datang, bertepatan dengan hari Minggu. Saya tidak pernah menduga jikalau jagoan-jagoan kecil menyiapkan sajian sederhana memperingati hari kelahiranku, meskipun hari itu tidak ada aktivitas belajar mengajar kecuali murid kelas enam yang pemantapan Ujian Nasional. Sesuai jadwal yang direstui kepala sekolah, saya memberikan tambahan materi untuk kelas enam di hari itu. Sempat terkejut ketika menyaksikan ramainya jagoan-jagoan kecilku di sekolah. Bahkan ada yang rela menyebrang sungai dengan sampan untuk datang ke sekolah. Namun saya tidak menaruh kecurigaan  mendalam, karena coba fokus memberikan pemantapan materi pelajaran untuk menghadapi Ujian Nasional di awal Mei nanti.

Pasca memberikan bimbingan belajar persiapan Ujian Nasional, saya masuk ke ruang guru. Ada beberapa jagoan kecil sibuk hilir mudik menuju ruang kelas empat tanpa komando. “Apa yang terjadi di kelas empat ya ?”, ujar hati kecil. Ketika hendak melangkah ke kelas empat demi menjawab rasa penasaran. Wendi, salah satu jagoan kecilku melarangnya. “Bapak disini saja, nanti jika sudah tiba waktunya boleh ke kelas”, ujarnya sembari mengeluarkan eskpresi serius demi meyakinkanku. Dari moment itu, saya menaruh kecurigaan bahwa ada persiapan khusus memperingati hari istimewa ini. Namun bukan curiga yang membawa kewaspadaan, melainkan kebahagian batin karena semua dilandasi ketulusan dan kasih sayang.

Akhirnya bapak guru ini diperbolehkan melangkahkan kaki menuju kelas yang diampunya. Nuansa haru tumpah ruah, ketika pintu saya buka. Warna warni khiasan dinding, lagu ucapan selamat ulang tahun dan sajian makanan di atas meja guru, membuat perasaan campur aduk. Sampai sulit bibir menguntaikan sepatah kata, air mata haru ikut menggelinang di bola mata. Sulit menceritakan perasaan yang saya rasakan saat itu, apalagi layar kejadian adalah ucapan tulus yang di uraikan dalam papan tulis dan warna-warni khiasan di dinding kelas. Saya ucapkan terimakasih kepada jagoan-jagoan kecil, dengan terbata-bata. Jadi berfikir apakah sudah tepat kasih sayang mereka ke diri ini ? Sebab perasaanku berkata, semua yang diberikan kepada mereka adalah hal biasa. Bukan pencapaian luar biasa bagaikan menara-menara pencakar langit di ibukota.

Selepas lagu ucapan selamat ulang tahun berhenti, satu persatu jagoan kecil mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Saya yakin diucapan selamat mereka ada doa tulus. Kami lalu melanjutkannya dengan mencicipi makanan yang mereka persiapkan dan tidak lupa mengabadikan moment istimewa itu. Ketika perut mulai kenyang dan hendak melangkahkan kaki untuk pulang ke rumah. Seorang jagoan kecilku membawa plastik berisi tepung terigu, pestapun  dilanjutkan. Bersambung dengan merajut keakraban tanpa sekat. Mereka melempariku dengan tepung terigu, saya membalas serangan-serangan mereka. Suasana cair penuh kekeluargaan bagaikan kakak dan adik-adik bungsunya. Semua yang dilewati saat  peringatan hari kelahiranku tahun ini, akan terkenang seumur hidup dan jadi cerita inspiratif untuk anak cucu. Inilah cermin ketulusan dan kasih sayang jagoan-jagoan kecil kepada gurunya. Kalian anugerah terindah pemberian Tuhan. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran