Satu-satu aku sayang pak gendut
Adji Prakoso | 11 August 2012

Senyum manis itu akan selalu terkenang. Senyum tanpa dua gigi utama di bagian depan. Apalagi senyum manis diringi tingkah laku menggemaskan, membuat diri ini terbuai didekatnya. Tingkah laku menggemaskan penuh kejutan selalu dilakoninya. Sosok bocah lucu itu bernama Danu, murid kelas 1 di SDN Kepayang. Selain memiliki senyum manis menghangatkan.Tunas kecil ini terkenal murid yang aktif bergerak. Hampir setiap waktunya dihabiskan dengan kegiatan yang membutuhkan tenaga berlebih. Seakan Danu mempunyai simpanan tenaga dibandingkan teman-teman seusianya.

Hari-hari saya banyak dihabiskan bersamanya. Dihabiskan penuh kegembiraan dan canda tawa. Pagi hari ketika langkah hendak diayunkan menuju sekolah. Danu selalu jadi salah satu murid yang setia menunggu di gerbang rumah orang tua angkatku. Menunggu untuk melangkah bersama menuju tempat menggali ilmu dan menggapai secercah harapan di masa depan. Setelah keluar rumah, tangan mungilnya langsung menggapai tanganku. Tidak luput senyum manis dan uraian tegur sapa keluar dari mulutnya. Tangannya tidak berhenti menggandeng tanganku, hingga kaki menginjak gedung sekolah. Jika ada murid lain yang hendak merebut gandengan tangannya. Suasana ribut kecil tidak terelakan. Danu pasti akan berkeras mempertahankan gandengan tangannya.

Aktivitas lepas pulang sekolah juga selalu diwarnai senyumnya. Danu tidak pernah absen menonton film pendidikan yang saya putarkan disekolah atau menggambar di serambi rumah tinggalku. Sore harinya, ketika hendak mandi bersama dengan murid-murid lainnya di sungai. Danu jarang sekali absen dalam rombongan tersebut, meskipun dirinya hanya bermain busa dari sabun mandi dipinggir sungai. Maklum Danu belum mampu berenang secara baik. Begitu juga ketika permainan sore hari dipindahkan ke areal ladang sawit dan karet belakang desa. Danu pasti ikut mengayunkan kaki, meskipun perjalanan tersebut banyak diwarnai murid-murid kelas besar, 4 sampai 6 SDN Kepayang. Dikarenakan perjalanan menuju hutan sawit dan karet belakang desa terbilang jauh. Bahkan dapat berubah menjadi kubangan air berwarna coklat, jikalau musim penghujan datang.

Suatu ketika saat bermain air bersama dipinggir sungai. Saya coba mengajarkannya lagu “Satu-satu aku sayang ibu” dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Namun ada satu kejadian mengejutkan dan jadi kenangan indah dalam kalbu. Danu mengubah lirik lagu satu-satu aku sayang ibu, dengan “ Satu-satu aku sayang pak gendut”. Saat ditanya siapa pak gendut dalam lirik lagu ciptaannya. Danu menjawabnya penuh senyum, pak gendut ya kau! Bapak adji, sembari menunjuk ke arah diriku. Saya membalasnya dengan senyum girang dan rasa takjub luar biasa. Kreatifitas sudah ditunjukan bocah yang baru tahun ini menginjakan kaki disekolah.

Ketika tunas kecil itu, diminta melanjutkan dua-dua aku sayang ayah. Danu kembali merubahnya dengan, “dua-dua aku sayang pak gendut, tiga-tiga juga sayang pak gendut”. Setelah itu menutupnya dengan “satu-dua-tiga sayang bapak gendut”, dikhiasi senyum manis ciri khasnya. Sejuk rasanya dan terharu mendengarkan ungkapan perasaan sayang yang tulus dari mulut tunas kecil ini. Saya merasa belum memberikan banyak hal kepada tunas-tunas kecil pinggir sungai Musi. Namun Danu menjadi salah satu contoh tunas kecil yang memberikan penghargaan luar biasa atas kehadiranku.

Lagu “satu-satu aku sayang pak gendut” versi Danu , murid kelas 1 SDN Kepayang acapkali dinyanyikan jika kami menghabiskan waktu bersama. Lirik ciptaan Danu, “satu-satu aku sayang pak gendut” jadi obat penghibur lara, ketika tantangan sosial yang datang bagaikan gelombang dilautan. Hampir sebelum mata di istirahatkan malam hari, saya selalu mengenang lirik lagu ciptaan Danu. Terimakasih tuhan engkau tunjukan kejutan dan kasih sayang tulus di salah satu wilayah terpencil Nusantara, yang sering jadi anak tiri pembangunan.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran