Aku Ingin Malam Cepat Berganti Pagi
Adji Prakoso | 26 August 2012

Ketika pagi datang menjemput. Jiwa tidak sabar untuk secepat mungkin mengayunkan kaki menuju sekolah. Embun tebal yang mengelilingi sungai, bukan menjadi penghalang. Meskipun tidak jarang embun pagi menggerogoti, ketika menjalankan ritual pembersihan tubuh di pinggir sungai setiap harinya. Saat dingin menjemput, saya mensugestikan hati bahwa dingin hanya perasaan Jendral. Jikalau mampu membunuh perasaan itu, udara dingin akan kalah dengan semangat yang bergelora. Terbukti perasaan dingin selalu mengalami kekalahan.

Semangat menggebu berasal dari hati yang ingin segera bertemu murid-murid tercinta. Senyum dan perilaku lugu mereka, selalu saya nantikan kehadirannya. Penantian demi berbagi dan menghabiskan waktu bersama, sejak matahari mulai memancarkan sinarnya hingga berganti terangnya cahaya rembulan. Setiap paginya, tubuh-tubuh mungil sudah bersahutan manja memanggil nama ini di serambi rumah. Mereka rela meluangkan waktunya beberapa menit untuk menunggu kehadiran gurunya keluar dari rumah. Saya langsung bergegas mempercepat langkah menuju jalanan depan rumah.

Saat wajah ini muncul dihadapan tunas-tunas kecil, pinggir sungai Lalan. Mereka langsung berekspresi gembira dan spontan memberikan salam pagi. “Selamat pagi bapak Adji”, ucapan salam yang mewarnai pagi terurai lepas dari mulut mereka. Saya membalasnya dengan, “Selamat pagi anak-anak bapak yang ganteng dan cantik-cantik, bagaimana kabarnya hari ini? Mereka menjawab kompak, “ Sehat, bapak bagaimana kabarnya ? Allhamdulilah sehat”, ucapku

Langkah kaki mulai diayunkan, anak-anak langsung berebut menggandeng tangan ini. Tidak jarang perkelahian mulut mewarnai suasana pagi, karena ingin menggandeng tangan bapak gurunya. Satu tangan juga tidak digandeng satu anak saja, bisa dua sampai tiga anak menggandeng tangan ini. Setelah diagandeng ada tunas-tunas kecil yang menyambut dengan ciuman mesra ditangan besarku. Mencium tangan sembari memancarkan ekspresi ketulusan kasih sayang. Jantung langsung berdegup kencang, ketika tunas-tunas kecil memancarkan kasih sayangnya lewat eratnya genggaman dan mesranya kecupan di tangan ini.

Perjalanan menuju sekolah diwarnai suara tunas-tunas kecil yang menyanyikan beberapa lagu anak hasil modifikasiku. Nyanyian mereka menunjukan suasana riang dan antusiasmu tinggi menjemput ilmu pengetahuan di sekolah. Lagu favourite mereka adalah lagu tentang 10 malaikat ciptaan Allah yang liriknya diambil dari Ampar-Ampar Pisang. Beberapa anak juga meminta saya mengajar kelasnya, meskipun mereka sudah mengetahui saya adalah walikelas empat. Permintaan itu selalu diiringi kata permohonan yang lembut. Sungguh romantisme sudah di jalin tunas-tunas kecil, jauh sebelum matahari memancarkan cahayanya menerangi bumi.

Ayunan langkah kaki juga berhenti di rumah beberapa murid yang kami lintasi. Mereka minta ditunggu untuk berangkat bersama menuju sekolah. Sebagian besar mereka minta ditunggu, karena sedang memakai sepatu. Bahkan beberapa diantaranya sudah menunggu rapih di serambi rumahnya, namun enggan berangkat ke sekolah jikalau tidak bersama kami. Siswa yang bergabung belakangan dalam barisan kami menuju sekolah, juga mencoba merebut gandengan tangan ini. Mereka tidak lupa mencium tangan dan memancarkan senyum penuh kegembiraan kepada bapak gurunya. Kegembiraan yang sama dengan tunas-tunas kecil desa lainnya, demi menjemput masa depan gemilang di masa depan.

Terimakasih tuhan engkau berikan kesempatan untuk merasakan percikan-percikan kasih sayang tulus dari senyuman, gandengan tangan dan kecupan mesra tunas-tunas kecil.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran