Panen Kebaikan

Oleh: Aditya Erlangga Putra (Angkatan XV) | 29-11-2018
Apa yang kita tanam, itulah nanti yang kita tuai. Tak terasa sudah satu tahun berada di Danau Bungara, Aceh Singkil. Membersamai dan belajar menempa diri dengan anak-anak SDN Lentong Baru. Ketika hari yang dinanti itu tiba, berpisah untuk sementara karena Pak Gurunya harus pulang ke Jawa. Perasaan yang campur aduk memang, senang akan kembali ke rumah dan kampung halaman. Tapi juga haru biru karena begitu banyak pihak dan sosok yang terasa berat melepaskan. Dimulai dengan kebaikan para guru yang mengadakan perpisahan ke Tapak Tuan. Menerobos jalan pintas yang bisa dilewati sehingga sampai tujuan. Bahkan yang bikin terenyuh ialah ketika salah satu guru, yaitu Pak Hamzah ku tanya sudah berapa kali ke Tapak Tuan, dan jawabannya ialah, "ia baru kali ini kami ke (objek wisata) Tapak Tuan. Kalau bukan karena Pak Adit gak bisa saya kesini." Rasanya sudah berbunga-bunga dipuji seperti itu. Belum lagi setiap guru memberikan makanan untuk disantap setiap saat sehingga perut ini kekenyangan. Pun dari perpisahan tersebut saya bisa mengenal sosok lain dari para guru yang juga menjadi Ayah dan Ibu bagi anak-anaknya. Selain dari para guru, para pemuda dan Mamak Rustam juga mengajak untuk perpisahan dengan bakar manuk (ayam). Tak tanggung-tanggung tiga ayam langsung dibakar dan diolah untuk kami makan. Belum lagi keseruan dan kehebohan selama proses pembakaran karena ditengah-tengahnya ada lampu mati. Bahkan seseorang nyeletuk bahwa "ini tandanya apes Pak Adit, gak diijinkan Pak Adit perpisahan. Karena lampu mati dan gak bisa nanak nasi." Namun akhirnya lampu menyala dan kami melanjutkan menyantap masakan dan ayam bakar Mamak. Momen yang sangat indah dan dilengkapi dengan orang-orang yang memang perduli selama aku di desa. Masih banyak sekali AHA momen yang ku dapati saat akan pergi meninggalkan desa. Misalnya anak-anak yang tak rela ditinggal pergi. Ataupun para guru yang juga ikut sibuk mencarikan hadiah perpisahan, hingga Mamak yang baper dan semakin overprotective hampir setiap malam menelpon. Tapi salah satu kebanggaan ialah ketika dari para ibu atau orang tua wali murid bilang ke PM penerusku "sering main kesini ya Pak, dulu Pak Adit sering kali main sini" Dari ungkapan tersebut saya merasa sangat lega dan puas. Karena ternyata kehadiranku selama ini memang benar-benar di apresiasi, baik dari guru maupun orangtua wali murid. Tentu perjalanan selama dua belas purnama yang penuh dinamika. Namun sarat akan makna setiap momennya. Terimakasih Danau Bungara, Terimakasih SDN Lentong Baru. Terimakasih semesta.