Mendefinisi Ulang
Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana | 24 November 2016

 Udara di daerah perbukitan ini sepertinya masih sama saja. Masih tetap dingin dan berkabut. Sesekali dapat kulihat cahaya matahari itu menembus celah-celah lubang awan. Terlihat seperti cahaya yang meneduhkan dan menenangkan. Juga ketika matahari mulai terbit dan tenggelam. Setiap hari akan terlihat dan susunan horizon yang berbeda kalau kita sering memperhatikannya disini. Malam juga sama saja, sama-sama menjadi misteri yang sulit untuk dimengerti. Terkadang malam sangat indah dengan kumpulan bintangnya bak tampilan galaksi milky way. Bisa terlihat juga awan-awan putih yang beriringan dengan bintang-bintang. Semua memang tidak bisa ditebak hingga tidak jarang pula langit malam sangat gelap dan penuh kabut seperti hari itu. Hari ketika cerita ini dimulai dan hari ketika semua ketakutan, kesabaran dan keberanian akan terdefinisi ulang artinya.

                Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin aku akan sedikit bercerita tentang kondisi tentang desa penempatanku dulu. Terhitung sudah hampir 5 bulan aku tinggal di sebuah desa yang letaknya paling ujung hingga batas terakhir desaku adalah sebuah hutan lindung yang langsung berbatasan dengan Bengkulu. Sesekali ketika aku sedang berdiam diri di desa kulihat bukit barisan seakan mengurungku di desa ini. Penuh dengan dingin, ketakutan dan segala harapan yang ada. Nama desaku adalah Danau Gerak. Entah kenapa diberikan nama itu karena yang pasti saya belum pernah melihat Danau disana. Desaku tidak ada tranportasi umum. Kalau ingin ke pusat Kabupaten Muara Enim maka mau tidak mau harus pergi ke desa yang berada di bukit sebelah desa yang berjarak sekitar 1 jam jalan kaki. Ya, di desa Cahaya Alam itulah kendaraan umum berhenti karena jalan ke Desaku masih cukup terjal hingga jarang orang yang mau melewatinya. Kendaraan umum tersebut biasa kita sebut Taksi. Sebutan yang cukup keren bagiku, tapi sekali lagi tidak sebanyak taksi yang ada di perkotaan sana. Kalau tidak salah hanya ada segelintir armada taksi di desa terdekat tersebut. Diantara segelintir orang itu aku hanya mengetahui bahwa hanya ada dua waktu keberangkatan. Pertama jam 4 Pagi sebelum subuh, kedua jam 10-11 siang.

                Jarak antara desa Danau Gerak dan Cahaya Alam yang lumayan jauh terkadang membuat warga di kedua desa tersebut memakai berbagai cara untuk melintasinya. Kalau pagi hari cuaca sedang bersahabat maka tidak sering aku melihat sekumpulan orang berjalan dari desa Cahaya Alam menuju Danau Gerak. Karena jumlah motor yang masih belum cukup banyak maka sepertinya jumlah orang yang berjalan kaki lebih banyak ketimbang motor yang melewati jalan tersebut. Aktivitas di kedua desa biasanya dimulai ketika sebelum subuh dan berakhir setelah magrib. Setelah itu desa akan terasa sangat sepi. Orang-orang sudah mulai memakai selimut untuk melindungi dari hawa dingin yang menusuk hingga tidur adalah satu-satunya hal yang paling sering dilakukan. Tapi malam itu aku tidak melakukannya.

                Malam itu setelah selesai sholat berjamaah di Masjid desa aku sudah kembali bersiap untuk melakukan perjalan ke desa sebelah. Hari itu mungkin akan kuingat dalam seluruh hidupku ketika aku berada di desa hanya dalam hitungan jam saja. Sebenarnya sepertiga malam pada hari itu aku masih berada di pusat Kabupaten.  Sekian waktu yang cukup lama akhirnya kuputuskan bahwa sebelum subuh aku harus naik ke Desa karena kata Kepala Desa ada acara yang penting hingga aku disuruh naik. Jam 3 pagi aku sudah bersiap. Rompi dan tas ransel warna coklat itu sudah kususun secara rapi. Akhirnya akupun naik ke desa dan waktu itu jam 11 baru sampai di desa. Kalau dijelsakan secara mendetail sebenarnya hari itu tidak ada taksi yang akan ke arah Cahaya Alam, taksi itu mengarah ke ujung bukit seberang lagi hingga akhirnya aku menelfon anak muda di desa untuk menjemputku.

                Setelah sampai di desa akhirnya aku sudah semangat untuk melakukan kegiatan yang katanya penting itu. Kucari Pak Kepala Desa untuk menanyakan kelanjutan acaranya. Dan Ternyata. Untuk sekian waktu yang cukup lama aku terdiam di pinggir desa. “Ahh, aku dikerjain sama Pak Kades ini” Gumamku dalam hati. Bagaimana tidak, ternyata itu cuma acara arisan. Sebenarnya kalau saya sedang tidak ada acara di Kabupaten tidak menjadi begitu masalah, tapi sebenarnya besok ada acara besar di Kabupaten dimana kita para Pengajar Muda XII Muara Enim sedang mengdakan acara forum kolaborasi Pemuda Muara Enim.

                Langit masih saja cerah ketika aku mulai memikirkan caraku untuk turun ke Muara Enim besok. Seingatku acara tersebut dimulai sekitar jam 8 pagi. Kalau ingin mengejar jam tersebut maka mau tidak mau, suka dan tidak suka aku harus naik taksi jam 4 pagi. Selesai ? haha, tentu saja belum. Lalu siapa yang mau mengantarku untuk ke desa di bukit sebelah. Karena hal itu, akhirnya aku menghubungi salah satu datuk untuk mengantarkanku ke desa sebelah. Dia setuju, tapi setelah isya katanya. Hah ?? aku sedikit kaget karena jarang sekali aku melihat warga melakukan aktivitas setelah magrib, juga kondisi jalan yang masih belum ada listriknya. Saya kembali bernegosiasi kepada datuk agar mengantarku ketika hari masih terang karena alasan kondisi jalan yang terjal bisa membahayakan ketika gelap. Rupanya aku gagal bernegosiasi hingga akhirnya aku menyetujui idenya. Hitung-hitung sebagai pengalaman melakukan perjalanan ke bukit sebelah ketika malam hari.

                Setelah sholat isya aku berpamitan kepada keluarga di rumah, mengatakan bahwa akan ke desa Cahaya Alam karena besok pagi aku harus turun lagi ke Muara Enim. “ Diantar siapa ?” Tanya kakakku. “Diantar datuk kak” jawabku. Setelah berpamitan akhirnya aku perlahan berjalan menyusuri jalan desa malam itu. Membawa tas ransel besar di punggung, tas slempang kecil hingga rompi hijau lusuh itu sudah kupakai. Dari kejauhan terlihat datuk sudah mengeluarkan motornya. Pemandangan yang melegakan. Semakin mendekat aku semakin suatu kejanggalan. Ternyata datuk masih memakai pakaian ketika menjadi imam di masjid. Masih memakai sarung, peci dan baju kokonya. Kenapa itu ganjil ? Karena biasanya ketika orang mau pergi ke desa sebelah pasti akan mengenakan jaket tebal hingga celana dan sepatu boot. Ternyata kejanggalan itu terjawab.

                Malam itu sepertinya malam dimana keberanian dan kesabaran akan benar-benar terdefinsi ulang. Datuk tidak berani mengantar ke bukit sebelah rupanya karena gelap dan dingin. Memang benar sih, daritadi tanganku masih berada di ketiak untuk mencari kehangatan. Juga tentang alasan gelapnya, bahkan akupun masih tidak bisa melihat secara jelas kondisi jalan. Ahh, kenapa tidak ada bulan malam ini ? “ Pak Adit berani motoran sendirian ?” Tanya datuk. Haha, tanpa cukup lama akhirnya aku mengiyakan dengan kuiringi suara tawaku. Sebenarnya aku tidak pernah berani untuk naik motor melintasi desaku ke desa sebelah. Seketika ras ketakutan itu menjulur merasuki tubuhku. Menguasai semua isi kepalaku. Menakutkan kalau terjadi hal-hal yang tidak terduga. “ I have no choice” pikirku. Aku sudah di depan motor tinggal menghadapi ketakutan itu untuk menuju ke desa sebelah. Masih teringat dengan jelas given rules yang telah kita buat di awal penempatan mengenai skala prioritas. Bagaiamanpun kondisinya kegiatan di Kabuapaten akan menjadi prioritas.

                Tanpa pikir panjang akhirnya kubawa motor datuk tersebut. Menembus angin dingin yang menusuk kedua tangan dan wajahku. Terkadang kabut juga iseng menggoda melewati depan motorku itu, menembus cahaya lampu redup yang kadang nyala kadang mati dari motor yang kubawa. Maklumlah, karena sebagian motor hanya digunakan ketika siang hari. Beberapa detik berlalu, perlahan kutinggalkan desa itu. Aku tidak tahu apa yang merasukiku malam itu, tiba-tiba aku berhenti di batas terujung desa. Didepanku ada jalan terjal, gelap dan berkelok. Aku menoleh kebelakang sejenak, terlihat sebinar lampu warna kuning yang redup. Aku terdiam disitu. Mesin motor kumatikan. Pandanganku kuarahkan ke ujung desa yang jauh disana. Kulihat di ujung atas bukit itu berjejer lampu-lampu warna kuning. “ Ahh, itu dia.. Aku harus kesana” gumamku dalam hati.

                Sekali lagi, untuk sekian waktu yang cukup lama aku masih terdiam di batas terakhir ujung desa. Ketakutan itu kembali merasukiku. Apalagi beberapa hari ini ada rumor yang mengatakan bahwa di desa sekitar sedang terjadi penyerangan beruang. Beruang tersebut lapar hingga menyerang rumah yang ada di desa untuk memakan ternaknya. Ketakutan itu semakin bertambah ketika tanpa kusadari bahwa daritadi ternyata tanganku masih memegang setir motor hingga aku sendiri kesulitan menggerakkannya. Kedua tanganku tremor dengan sendirinya. Aku mulai menggigil kedinginan. Malam itu dinginnya hingga menusuk tulang. Sepertinya dingin dan gelap itu saling bersekongkol untuk membuatku menyerah. “Lebih baik aku balik aja ke desa sekarang” pikiranku muncul. Sudah hampir setengah jam aku berkonflik dengan pikiranku. Hingga di akhir perdebatan batin itu kulihat rompi hijau lusuh Indonesia Mengajar yang kupakai.

                Melihat rompi itu seketika pikiranku melayang ke masa sebelum penempatan. Ternyata jauh sebelum aku disini, di desa ini, Indonesia Mengajar telah mempercayakan kepada kita para Pengajar Muda bahwa kita akan mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Belajar bertahan hidup di hutan selam beberapa hari telah kulewati, belajar fisik dan mental bersama salah satu pasukan elite Tentara juga sudah. Lalu apa lagi yang membuatmu takut dit ? mungkin itulah pertanyaan di akhir perdebatan batin antara diriku dan aku. Baiklah akhirnya malam itu kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke bukit sebelah. Apapun yang terjadi aku sudah pasrah. Mungkin ini memang waktunya aku menjadi seorang yang berani melakukan hal yang jarang dilakukan. Melewati jalan terjal dan sunyi di pelosok negeri yang mungkin jarang dilewati oleh orang. Bissmillah.

                Singkat cerita aku sampai di desa Cahaya Alam dengan selamat dan menginap di rumah sopir taksi yang baik. Pak Lakun namanya. Keesokan paginya aku sudah kembali bersiap lagi. Melawan hawa dingin itu, aargh. Terkadang aku sangat bosan dengan dingin itu. Menusuk ke tulang dan tenggorokanku. Sekali lagi. Perjalanan menuruni bukit barisan ini rupanya lebih panjang, aku berangkat sebelum fajar hingga fajar sudah terbit.

                Setelah sekian jam berjalan, rupanya taksi yang kunaiki melewati daerah perkebunan karet. Kulihat kiri dan kanan hanya ada rumah-rumah kayu sederhana. Tidak lama kemudian kulihat ke arah depan sudah ada sekumpulan anak-anak kecil yang berdiri di tepi jalan untuk bersiap naik taksi tersebut turun. Sekolah Dasar terdekat ternyata jaraknya lumayan jauh, Naik taksi dengan kecepatan 70 km/ jam bisa lebih dari 10 menit. “Hmmm, anak-anak ini” kataku dalam hati. Sembari tersenyum untuk mereka aku menyapa mereka yang naik bergelantungan di belakang taksi ini. Terlalu banyak anak yang ingin pergi ke sekolah di ilir bukit sehingga beberapa anak yang lebih besar mengalah untuk bergelantungan di belakang taksi ini. Pagi itu masih jam 06.00, tapi anak-anak ini sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Detik itu pandanganku teralihkan oleh salah satu anak kecil yang sedang duduk disampingku. Kulihat tangan mungilnya saling mengepal dan berikatan satu sama lain. Sesekali bahkan dia meniup tangan mungilnya agar terasa hangat. Sudah cukup lama rupanya aku melihat anak itu dan bahkan sesekali kedua tangan kecilnya tremor dengan sendirinya karena kedinginan.

                Baju pramuka yang dikenakannya rupanya tidak cukup tebal untuk menahan hawa dingin di pagi itu. Akhirnya setelah sekian menit, anak itu rupanya tahu kalau aku memperhatikannya. Matanya melihat ke arahku. Tepat setelahnya aku hanya bisa menunduk malu melihat matanya, sepertinya diriku yang ada di kepala ini mulai menangis melihat mata anak kecil itu. Sangat tulus dan sangat polos. Bahkan aku bisa melihat pandangan kesabaran dan ketabahan dari anak kecil itu. Kedua tangannya kemudian diturunkan, namun itu tidak membawa perubahan apapun. Kedua tangan anak kecil tersebut masih bergetar dengan sendirinya.

                Ada pilu yang tercampur bersama haru di pagi itu. Segala definisi yang telah kita buat selama ini rupanya rumus-rumus tidak jelas semata. Kita selalu mengatakan tentang Ketakutan, Harapan dan cita-cita. Keberanian, kesabaran dan ketabahan. Lalu apakah kita benar-benar telah melakukannya. Hari itu lagi-lagi saya belajar dari perjalanan yang saya lakukan menuju Kabupaten. Sebagai Pengajar Muda Terakhir di Kabupaten Muara Enim maka tidak jarang saya akan sering melakukan perjalanan seperti itu. Sebelum kami diberangkatkan ke daerah penempatan, saya masih ingat salah satu kalimat. Katanya ketika di salah satu titik di negeri ini masih ada anaki-anak, maka disitulah masih ada harapan. Benar juga. Dengan atau tanpa kita, anak-anak tersebut masih melakukan rutinitas untuk melawan segala rasa ketakutannya hanya untuk mengejar harapan dan cita-cita. Kelak harapan dan cita-cita itulah yang akan senatiasa membuat negeri ini tetap berjalan. Kalau saja anak sekecil itu berani melawan rasa dingin yang menusuk itu hanya untuk pergi ke sekolah yang jaraknya cukup jauh, lalu kenapa terkadang kita menjadi orang yang lemah, menyalahkan keadaan hingga berdiam diri dan berharap semua akan baik-baik saja.

                Rupanya beginilah hidup yang diajarkan kepadaku oleh anak kecil di dalam taksi tersebut. Aku belajar bahwa kita harus tetap bergerak agar tidak mati kedinginan nantinya. Juga diajarkan agar melakukan hal terbaik apa yang menjadi tanggung jawab kita. Hari itu saja masih jam 6 pagi, Tapi beberapa anak itu sudah bersiap dengan seragam pramukanya. Semoga bisa menjadi banyak pembelajaran dan manfaat bagi kita semua. Salam hangat dari Muara Enim, tempat dimana segala hal akan terdefinisi ulang.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran