info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

"Aku Tidak Punya Baju Muslim, Pak.."

Adhi Rachman Prana 16 September 2012

Sudah menjadi tradisi di sekolah-sekolah untuk mengadakan pesantren kilat pada Bulan Ramadhan. Tidak terkecuali di Kabupaten Muara Enim, tempatku  ditugaskan sebagai guru. Minggu awal memasuki bulan Ramadhan, kami di SDN 3 Rambang (Kelas Jauh) melaksanakan pesantren kilat.  Hari Sabtu, sebagai wali kelas aku mengumumkan kepada anak-anak kelas IV dan kelas V tentang pesantren kilat yang akan diadakan Minggu depan.

“Jadi anak-anakku yang cerdas, mulai hari Senin selama satu minggu kita akan mengadakan pesantren kilat ya..masuk seperti biasa jam 1 siang”, kataku di depan kelas.

Anak-anak pun bersorak dan bertepuk tangan.

“Horee.. jadi pake baju muslim ya Pak?”, Cania bertanya sembari tersenyum riang

“Betul, pake baju muslim ya, yang perempuan memakai jilbab dan yang laki-laki pakai kemeja atau baju koko dan celana panjang”, Jelasku pada mereka.

“Pak, jadi [1]pakai sandal?”, tanya Angga, siswa bertubuh paling besar di kelasku.

“Jadi, laju[2] lah mau pakai sandal boleh, pakai sepatu juga boleh, basing! Yang penting kan pakaiannya  bersih dan menutup aurat”. Tegasku.

Anak-anak pun bersemangat dan langsung ribut, mereka saling bertukar cerita tentang baju yang akan mereka kenakan dengan teman sebangkunya.

Ditengah riuh rendah celotehan anak-anak itu, ada satu anak yang duduk di mejanya sendirian dengan muka sedih. Armadi namanya, panggilannya Dedet. Biasanya, ia termasuk anak yang hiperaktif. Kuhampiri ia dan kusapa dengan ramah.

 “Ngapeu[3] kamu Det ? biasanya kamu langsung semangat bile ada kegiatan baru “

Ia hanya menggelengkan kepalanya yang disandarkan pada meja. Melihat ke arah lain.

“Ayo, cerita sama Bapak, kan kita janji kalau ada masalah atau ada kabar gembira, harus diceritakan karena kita satu keluarga”, tanganku meraih pundaknya yang mungil dan kurus.

Perlahan ia mulai menatapku, dengan sedih dan perlahan ia berkata. “Aku dek ngatek [4]baju muslim Pak.. “

Aku sedikit tersentak, kupikir semua anak disini mempunyai baju muslim. Aku mulai menyadari kesalahanku yang kesekian sebagai seorang Guru. Aku tidak memperhatikan anak-anak ini dengan cermat. Padahal jumlah anak di kelasku ada 15 orang, 5 murid kelas V dan 10 murid kelas IV. Kuakui secara ekonomi, mayoritas anak-anak ini memang kelas menengah ke bawah. Namun, para orang tua biasanya cukup mampu untuk membelikan baju seragam sekolah yang biasa mereka pakai ke sekolah, bahkan batik sekolah pun mereka beli. Makanya aku berpikir semua anak-anak ini punya baju muslim, setidaknya untuk dipakai pada saat hari raya Idul Fitri.

Aku menghela napas, kulihat Dedet, rambutnya yang tidak tertata rapi dan berwarna kecoklatan, baju putihnya yang sudah bercampur dengan debu karena seringnya main bola di tanah liat dengan seragam itu. Baju putihnya pun terpaksa harus dikeluarkan untuk menutupi restleting celananya yang sudah rusak sehingga nampak lubang besar kalau aku minta dia memasukkan bajunya. Kulihat ujung kakinya yang polos tanpa alas kaki. Pikiranku akan terus mengharu biru seandainya saat itu aku tidak sadar kalau aku masih punya kewajiban lain. Ya, aku harus membesarkan hatinya.

Aku duduk di kursi yang ada di sebelah Dedet, sambil tersenyum aku berkata

 “ Dedet, pesantren kilat itu nanti kita belajar bagaimana supaya kita jadi anak yang lebih beriman dan soleh.. Tidak perlu baju muslim untuk belajar agama, cukup baju yang kamu punya saja, kalau tidak ada pun laju lah kau berseragam sekolah “

Dek gala[5] aku Pak pesantren kilat, kagi yang lain nertawakan aku”, ujarnya merengut.

“Oh, tidak. Bapak jamin kance-kance-mu itu tidak akan mengejek. Jangan Cuma gara-gara dek ngatek baju kamu jadi tidak dapat ilmu.. Kamu mau kan belajar agama?”, rayuku lagi.

“Mau Pak..”

“Ya sudah.. kalau mau, kamu pakai saja baju yang kamu punya buat hari Senin ya..”

“Tapi bajuku dek ngatek yang bersih Pak..”

“Tidak apa-apa..”

Aku pun tersenyum, Dedet pun tampak lega. Aku pun mengajaknya toss. “High five!!” teriak kami kompak.

Sementara ngobrol dengan Dedet, anak-anak lain pun  tampak penasaran.

 “Ngapeu pak Dedet?” kata Imam.

“Tidak apa-apa, jadi Bapak mau mengulang lagi pengumumannya ya.Bajunya buat hari Senin.. basing. Kalau gala pake baju muslim, lajuu.. kalau dek pacak[6] pake baju bebas saja.. Yang penting niatnya untuk belajar.”

Anak-anak pun pulang setelah mengevaluasi kegiatan belaajr hari itu. Semua anak sudah pulang, namun aku masih termenung, berefleksi atas kejadian hari ini. Aku ingin, anak-anak ini tidak lagi menganggap kekurangan sebagai penghalang untuk belajar, namun bagaimana mereka memanfaatkan keterbatasan itu untuk giat belajar, meraih impian dan kesuksesan.

                                                                                  ** *

Hari Senin, begitu masuk kelas Dedet menghampiriku, ia memakai baju koko berwarna merah jambu yang agak lusuh.  Kancing atasnya sudah terlepas sehingga tampak merosot. Agak kebesaran memang di tubuhnya yang mungil.  Mukanya berseri-seri, tampak kemerahan. Mungkin pengaruh warna bajunya yang cerah.

“Aku ade pak baju muslim bekas Kakakku..”, ujarnya riang.

“Waah ringke[7] nian!  Alhamdulillah..” ujarku sambil menepuk pundaknya.

Ooii jahat Pak, hehe “, tukasnya dengan logat melayu Rambang khas daerah sini.

“Bukan jahat[8] tidaknya Det, yang penting sekarang kamu la pacak belajar agama tanpa harus malu Ya!” , kuambilkan peniti dan  kupasangkan di tempat kancing bajunya yang lepas.

“Nah,laude[9]h sekarang. Rapi!”. Ia pun berterima kasih dan langsung bergabung bersama teman-temannya di kelas.

Armadi yang selalu periang dan bersemangat, walau terkadang semangatnya terlalu liar sehingga mengganggu teman-temannya yang butuh ketenangan. Sampai hari Sabtu, enam hari kemudian ketika penutupan pesantren kilat, ia masih memakai baju yang sama, baju koko merah jambu bekas kakaknya. Entah penitinya sudah hilang kemana, bagian atas bajunya kembali seperti semula, saat pertama kali ia menyapaku dengan baju itu. Aku tersenyum simpul, melihatnya percaya diri dan tidak malu-malu lagi. Tidak takut lagi teman-temannya mengejek. Baginya, menuntut ilmu, apapun itu, tidak perlu berbaju bagus. Yang penting niat, kemauan dan kesungguhan dalam belajar.

Aku belajar dari Armadi a.k.a Dedet. Belajar untuk sederhana dan tidak berlebihan. Belajar memilih mana yang inti dan mana yang pelengkap. Disaat Dedet berusia 10 tahun, ia tau betul bahwa belajar –lah yang utama dan baju adalah pelengkap. Sedangkan saya, berusia 22 tahun, lebih sibuk berbelanja pakaian yang akan dikenakan untuk sidang skripsi, daripada mempersiapkan dengan matang materi presentasi skripsi saya. Padahal kemeja-kemeja yang saya punya pun masih layak dipakai. Terima kasih anakku, kamu dan baju koko merah jambu itu, telah mengingatkan Bapak kembali akan pentingnya sebuah prioritas.

                                                              *****

 

Tebatrawas, 4 Agustus 2012.

Salam hangat,

Adhi Rachman Prana

 

[1]boleh

[2]Jadi, teruskan

[3]Mengapa

[4]Artinya tidak punya

[5]Tidak mau

[6]Tidak bisa

[7]bagus

[8]jelek

[9]Sudah/selesai


Cerita Lainnya

Lihat Semua