info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

Menjelang Idul Adha

Adeline Susanto 4 Desember 2010
16 november 2010 Beradaptasi dengan daerah baru memang tidak semudah itu. Seorang dengan fisik yang berbeda bisa jadi sangat menimbulkan prasangka yang tidak selalu benar. Ditambah lagi faktor kepercayaan berbeda di tengah dominansi kepercayaan lain. Belum lagi mengingat faktor penting dalam komunikasi, yaitu bahasa. Seorang perempuan, keturunan tionghoa, Kristen, dan sering kurang percaya diri bertugas menjadi guru di Majene, dengan bahasa komunikasi  dan budaya Mandar serta penduduk desa 100% Islam. Bisa jadi terlihat berat. Bisa juga terlihat biasa saja atau bahkan ringan. Ukuran berat dalam hal ini hanyalah persoalan sudut pandang. Sudut pandang yang bertitik berat pada perbedaan atau pada tujuan besar yang ingin dicapai. Untukku saat ini, bahasa merupakan titik paling berat yang kualami dalam proses adaptasi ini. Bagaimana cara mengajar kalau anak-anak yang hendak kuajar tidak paham Bahasa Indonesia? Sebagai pribadi, aku belum menjadi orang yang memiliki sejuta topik pembicaraan, segudang ide dan inovasi kreatif, atau sekelumit lelucon dalam setiap momen bersosialisasi. Bisa dikatakan aku lebih banyak diam dengan bermodalkan senyum dan nyengir kuda. For some people, it works. But obviously, not for kids. Hari ini aku dikerjai oleh salah seorang guru. Aku datang ke sekolah di pagi hari dan menunggu di ruang guru sampai bel masuk pelajaran berbunyi.  Agendaku hari ini adalah mengamati siswa dan guru kelas 6 selama pelajaran. Seorang anak datang kepadaku dan menanyakan tentang pelajaran olahraga. Anak itu kelas 6 juga rupanya. Saya bilang tunggu Ibu Hasmuni (ka Uni) sebentar sambil bermain bebas. Mereka lantas jawab bahwa kata Bu Muni, hari ini kelas olahraga saya yang pegang. Gubrak! Wah, kurang ajar. Dia sudah meliburkan diri ke Makasar untuk lebaran besok. Dengan tanpa persiapan  aku kumpulkan anak- anak itu membentuk lingkaran. Bermain untuk membentuk kelompok dan mengajak mereka membuat satu gerakan pemanasan per kelompok bergantian. Selesai pemanasan, aku memberikan pilihan untuk olah raga apa yang ingin mereka lakukan. Sepak bola katanya. Baiklah, kita bermain sepak bola saja. Kuambil bola dari ruang guru dan kubagi mereka ke dalam kelompok yang dicampur laki-laki dan perempuan. Keputusan yang salah memang. Sebelum permainan dimulai, seorang anak perempuan, sebut saja Ramlah tidak sengaja menendang temannya, Ilham. Ilham pun menangis dan tidak ingin mengikuti permainan. Dibujuk bagaimanapun dia lebih memilih menangis, mencabuti rumput di depannya, di pojok lapangan. Ya sudah, kubiarkan saja dia bergelut antara marah, gengsi, dan keinginan bermain. Persoalan berikutnya datang, seorang perempuan tertendang saat bermain dan menangis kesakitan. Kenapa ya anak-anak itu pikir semua masalah selesai dengan menangis? Waktu pun berlalu, dan waktunya untuk masuk kelas. Mata pelajaran hari ini adalah muatan lokal, Seni Budaya dan Kesenian (SBK), serta Pendidikan Agama Islam. Lalalala.. besok Idul Adha, sehingga guru yang datang sangat sedikit, lebih tepatnya tidak satupun dari guru mata pelajaran tersebut. Hadirlah kemudian pahlawanku hari itu, Ibu Mulianty yang merupakan wali kelas kelas 6. Beliau mengganti SBK dengan matematika. Aku duduk di belakang dan mengobservasi. Anak-anak di SD ini cukup membuatku tercengang. Umumnya mereka antusias belajar, dan kemampuan matematika mereka bisa dikatakan cukup baik. Memang ada juga anak-anak yang tidak peduli. Sepertinya mereka juga menaruh hormat pada guru tersebut. Pelajaran berjalan dengan lancar tanpa kulihat banyak kendala. Guru hanya duduk di depan, sesekali maju dan memberi contoh soal, lalu meminta anak menyelesaikan satu soal di depan kelas. Selanjutnya, anak-anak diberikan latihan soal dan dikumpulkan sebelum istirahat. Tampak sederhana. Pelajaran selanjutnya adalah mulok yang seharusnya adalah Bahasa Inggris. Bu Muli memintaku menggantikan. Ya baiklah, aku ajarkan saja mereka bernyanyi lagu-lagu warna dalam bahasa Inggris buatan Mansyur dkk waktu pelatihan. Beberapa semangat belajar. Saya senang. Masalahnya hanya satu, dan lagi-lagi masalah yang sama. Mereka tidak lancar berbahasa Indonesia,  lisan apalagi tulisan, sehingga jauh lebih banyak berkata-kata dengan Bahasa Mandar. Saya tidak paham apa yang dikatakan seorang anak yang catatannya dituliskan oleh temannya yang lain. Saya meminta dia mencatat sendiri lalu dia marah. Saya baru sadar kemudian bahwa sepertinya dia tidak jelas melihat tulisan di papan tulis sehingga minta tolong temannya itu. Mungkin hal macam ini akan sering terjadi.. Semoga saya lekas bisa berbahasa Mandar daerah ini (karena beda-beda logat dan kata di tiap lokasi). Pelajaran kuhentikan setelah Bahasa Inggris karena rupanya sebagian besar guru yang datang (yang juga tidak sampai setengah jumlah guru yang tertulis di papan kantor guru) sudah pulang. Setelah berdoa, anak- anak kuizinkan pulang. Demikian halnya denganku. Aku pulang, membantu Ibu menyiapkan makanan untuk besok. Sebisa mungkin, aku ingin terlibat dalam kehidupan Ibu. Sesederhana karena ibu ini tidak punya anak sehingga mungkin adanya perbaikan pendidikan bukan menjadi hal yang menarik baginya. Semoga hal-hal kecil yang kulakukan ini bisa memberi manfaat untuk ibu. Memang aku tidak ikut masak, dan selalu dilarang untuk mencuci piring. Tapi ibu tidak menolak kalau aku menyapu atau bantu-bantu hal lain seperti memijat pundaknya. Kemarin-kemarin Ibu membuat bermacam-macam kue. Kande-kande Mandar sebutannya. Ada banyak sekali kue, salah duanya adalah kue kenari rasa jeruk dan bolu gulung Belanda (sepertinya diturunkan saat jaman penjajahan dulu). Semalam aku menganyam ketupat dengan arahan dari bapak. Katanya, itu adalah cara menganyam jenis ketupat yang paling gampang sedunia. Setelah berusaha keras dan merusak beberapa daun, akhirnya aku bisa menganyamnya. Hore! Hari ini ibu membuat gogos. Beras ketan yang telah ditanak dicampurkan dengan santan bercampur minyak goreng. Selanjutnya, beras ini dimasukkan ke potongan pipa PVC supaya membentuk tabung kecil dan kemudian dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya, gogos ini disatukan menjadi tiga memanjang lalu dibungkus kembali dengan daun pisang. Tampak seperti batang hijau jadinya. Setelah selesai, gogos ini dibakar. Rasanya cukup enak, apalagi kalau ada ikan di dalamnya. Nyam nyam nyam.. Malam ini adalah malam sebelum idul Adha, tapi sepi sekali keadaanya. Tidak terdengar takbiran. Semoga besok ramai dan aku bisa berbincang-bincang dengan banyak orang.

Cerita Lainnya

Lihat Semua