Jan
05

"A day without laughter is a day wasted." Charlie Chaplin

Langit Azurra, demikian Roy (rekan PM saya yang ditempatkan di desa Muara basung) menyebut kecamatan Pinggir karena langitnya yang selalu cerah sehingga saat malam tiba, ratusan bintang-bintang ikut menerangi malam bersamaan deru mesin diesel ditiap rumah warga.

Malam yang cerah ini, saya diajak keluarga untuk berkunjung ke sanak keluarga yang tinggal di Pinggir. Jarak antar Tengganau dan Pinggir memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan kendaraan.

Mobil melaju perlahan dijalan gelap antara pepohonan sawit kemudian melaju ditengah-tengah ramainya lalu lintas jalan raya Duri – Pinggir - Pekanbaru. Melaju diantar truk-truk barang dan bus-bus lintas antar propinsi di Sumatra, terutama bus lintas Medan dan Sumatra Barat.

Sesampainya kami di Pinggir, ternyata seluruh keluarga berkumpul dalam acara makan malam menyambut hari raya kurban. Ada sekitar kurang lebih dua puluh orang termasuk anak-anak mereka. Saya disambut oleh hidangan makanan sederhana namun mampu membuat air liur menetes deras dan perut kosong keroncongan. Namun, niat saya untuk makan banyak-banyak dan menikmati tiap suap nasinya terurungkan setelah membandingkan banyaknya porsi makanan dengan jumlah orang yang ada.

Saya teringat dirumah saya, dua porsi kupat tahu dibagi untuk lima orang akan menyebabkan pertengkaran dan perdebatan. Tidak bisa dibagi sama rata. Pasti akan ada yang merasa kurang namun hanya mampu marah dalam diam.

Malam ini terhidangkan satu mangkok kecil gulai sapi, satu mangkok kecil rendang sapi, dua mangkok kecil gulai ayam, dua piring lalapan (daun pepaya), satu mangkok kecil sambal Jambal atau sambal melayu, dua piring ikan asin, dua bakul nasi, dan satu toples kerupuk.

Hampir saya tidak ikut makan, tidak tega melihat porsi makanan yang menurut saya sangat kurang dengan perbandingan jumlah orang nya, namun melihat mereka melahap dengan lezat dan mampu berbagi, sungguh saya tidak bisa menahan diri.

Saya mencicipi gulai ayam yang nikmat dan sangat pedas, hingga mereka menawarkan sambal Jambal yang merupakan sambal khas Melayu. Cukup dengan nasi, sambal jambal, ikan asin, dan lalapan daun pepaya, saya pun makan dalam diam. Dalam hati saya berkata ‘Ampuuuun, help,,, ini sih enak buangeet, sumpah,,, pengen nambah tapi malu,,, duuuh,,, tahan-tahan,,,’ begitulah rintihan hati saya saat makan malam :D sangat menikmati hidangan yang tersedia namun masih malu-malu untuk menambah makanannya.

Malam itu adalah makan malam paling nikmat seumur hidup saya. Makan sederhana dengan nasi, ikan asin, sambal jambal, dan lalapan daun pepaya rebus... ditambah kebersamaan dan saling berbagi...

Dalam perjalanan pulang, saya berdoa dalam hati semoga bisa makan sambal jambal lagi...

Berikut resep membuat sambal Jambal atau sambal Melayu... silakan dicoba, dan padukan dengan ikan asin dan lalapan (lalap daun pepaya yang direbus akan lebih nikmat). Harus-harus dicoba, or you’ll regret this.

Sambal Jambal Sambal Khas Melayu

Bahan:

Bawang merah secukupnya

Cabe hijau secukupnya

Cabe merah dua biji

Garam secukupnya

Tomat asam

Terasi

Penyedap rasa

Cara membuat: haluskan semua bahan dan siap dihidangkan.

Padukan dengan nasi hangat, ikan asin, dan lalapan (daun pepaya rebus) dan voila... hidangan khas Melayu pun ada dirumah anda.

Selamat menikmati :D

PS: Maaf. Foto belum bisa ditampilkan. Akan menyusul ketika sinyal sudah okeh.

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!