Nov
10

Sebagai guru pengganti untuk kelas 5 dan 6 SDN Lalomerui, kali ini saya mengajak mereka untuk berlayar. Kami membuat sebuah cerita pelayaran menggunakan kapal cita-cita. Anak laki-laki saya tugaskan untuk mencari kotak bekas, kemudian anak perempuan membantu saya menyiapkan hiasannya. Setelah selesai instalasi Kapal Cita-Cita, pelayaran pun di mulai!

Semua anak saya minta untuk duduk di kursinya, dan pelan-pelan memejamkan kedua matanya.

“Anak-anak, pelayaran kita sudah dimulai! Bayangkan saat ini kita sedang berada di sebuah kapal yang siap untuk memulai sebuah pelayaran”

“Kapal ini akan berlayar menuju Pulau Impian”

“Sekarang bayangkan impian kalian di masa depan. Kemudian sebut nama dan impianmu. Yakinlah bahwa Allah akan kabulkan meski banyak rintangan yang harus dilewati selama pelayaran ini berlangsung”

Entah kenapa saat berkata demikian, hatiku bergetar dan sangat berharap bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa mereka.

“Dalam pelayaran ini, kita tidak melalui lautan yang tenang, bayangkan ada ombak besar di hadapan kalian, bayangkan ada kilat yang menyambar di depan mata perahu kalian, bayangkan bahwa kapal ini harus menghantam deburan ombak dan batu karang untuk bisa terus melaju ke Pulau Impian”.

“Kalian tau, bagaimana caranya agar bisa sampai di tujuan pelayaran?”

“Yak! Dalam pelayaran ini kita harus percaya pada teman berlayar kita. Kita bisa sampai pada akhir tujuan apabila bekerja sama, saling membantu, saling mengingatkan dan saling menguatkan.Percaya pada satu sama lain. Pelayaran ini tidak mudah. Karena butuh perjuangan dan pengorbanan untuk dapat sampai di Pulau Impian.”

“Sekarang, bayangkanlah kalian semakin dekat dengan impian kalian. Bayangkan kalian mengenakan baju sesuai cita-cita kalian. Percaya pada Allah SWT bahwa impian kalian akan diwujudkan. Dalam hitungan ketiga silahkan sebut nama dan cita-cita kalian lalu baca Al Fatihah dalam hati. Ingat! Hati kalian harus berdoa sungguh-sungguh dan percaya kepada Allah SWT.  Satu…. Dua…. Tiga… Sebutkan!”

Seketika ruang kelas terasa hening, aku merasakan ada energy positif dari mimpi dan doa-doa yang sedang mereka panjatkan. Diam-diam aku juga komat-kamit membaca doa agar Allah SWT benar-benar memberikan jalan agar mereka bisa sampai pada apa yang di cita-citakan. Sunguh! Hati ini ikut bergetar.

“Berjanjilah mulai hari ini kalian berangkat ke sekolah agar bisa mewujudkan cita-cita kalian” Kalau kalian lihat teman kalian mulai tidak bersemangat belajar, kirimkan surat penyemangat lewat kotak mimpi yang sudah kita pasang. Ingat, kapal ini bisa sampai ke Pulau Impian kalau semua yang ada di dalam kapal bekerjasama”.

“Nah sekarang buka mata kalian perlahan-lahan.”

Tanpa menunggu lama, mereka bercerita tentang keadaan keluarga dan mengeluhkan apakah mimpi-mimpi tadi bisa tercapai? Berapa biaya untuk menjadi seorang Polisi, Brimob, Astronot, Polwan, TNI AU? Mungkinkah orang kampung seperti kami bisa sampai ke cita-cita kami? Karena lihat Unaaha (Ibu Kota Kabupaten Konawe) saja tidak pernah, apalagi liat Kendari. Bercermin dari pekerjaan orang tua mereka yang hanya seorang buruh kelapa sawit membuat mereka merasa tidak akan pernah sampai kepada mimpinya.

“Kalian tau, anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia? Kita punya yang namanya akal. Akal ini digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau akal kalian di pakai untuk mencari ilmu, inshaAllah mau kemana saja, mau apa saja ilmu itu akan membantu kalian untuk mendapatkan apa yang kalian impikan. Orang yang punya uang belum tentu ber-ilmu tapi orang yang punya ilmu sudah pasti bisa menghasilkan uang. Asal kalian mau belajar sungguh-sungguh, bekerja keras dan tidak berpangku tangan, percayalah kalian akan sampai pada mimpi kalian.”

“Bu Guru, Kalau jadi Polwan, berapakah gajinya? Banyak kah uangnya”

“Jangan pikirkan itu, kalau cita-cita kita tercapai pasti kita akan sangat bangga. Berapapun uang yang dibutuhkan, kita bisa mulai cari. Jangan pikirkan berapa gaji yang akan di dapat, tapi bagaimana cara kita bisa sampai ke cita-cita kita pasti itu lebih berharga daripada sekedar memikirkan uang ah!” Sahut Rijal.

 

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!