Indonesia Mengajar

Publikasi Media

Bercita-cita Jadi Menteri Pendidikan, Gadis Wakatobi Ini Menjadi Relawan Pendidikan di Pelosok Negeri

Mon, 15 June 2020

Adalah Agustia (27) seorang gadis asal wakatobi yang memilih merantau untuk menjadi relawan pendidikan di pelosok negeri ini.

Alumni Universitas Haluoleo jurusan pendidikan biologi itu, sebelumnya hampir tidak dapat melanjutkan pendidikannya untuk masuk ke perguruan tinggi. Hal itu di sebabkan karna ayahnya meninggal pada saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA dan ibu hanya seorang penjual kasoami di terminal pasar sentral wakatobi yang hanya bisa memenuhi kebutuhan dapur.

Untuk itu keluarga memutuskan agar mengubur dalam-dalam harapannya untuk masuk ke perguruan tinggi,karna perekonomian keluarganya saat itu sangat lemah.

Agustia menceritakan bagaimana ia berjuang demi menempuh pendidikannya, berkat tekad dan kemauannya, Ia berhasil meraih gelarnya melalui beasiswa Bidikmisi saat itu.

“Walaupun keluarga berkata bahwa saya tidak akan bisa kuliah, saya tetap berusaha dan membuktikannya dengan hasil yang saya lakukan,Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa bidik misi,” cerita Agustia.

Dengan gelar yang ia miliki saat ini, Agustia memilih menjadi relawan pendidikan di pelosok Indonesia.

“Di kabupaten Bima, NTB, saya mengabdi selama satu tahun pada 2018-2019 yang lalu untuk membimbing dan membina siswa-siswi yang ada di daerah itu agar menjadi anak-anak yang cerdas dan memiliki karakter yang luar biasa,” katanya.

Selain itu, lanjut Agustia, dirinya juga menjadi konsultan pendidikan, seorang trainer, coach, Fasilitator.

“Mentraining guru-guru dan mencoaching kepala sekolah dan pihak-pihak yang berwenang di daerah Bima agar pendidikan di Kab. Bima menjadi lebih baik, dan sekolahnya lebih bagus performanya,” tambahnya.

Atas kerja kerasnya menjadi relawan pendidikan ia mendapatkan penghargaan: Konsultan relawan pendidikan sekolah literasi Indonesia kab. bima NTB dari dompet dhuafa tahun 2018-2019.

Saat ini, Ia menjadi pengajar muda angkatan XIX di yayasan Indonesia mengajar penempatan Kab. Aceh Singkil, Provinsi Aceh.

“Jadi bukan hanya sebagai guru tapi sebagai fasilitator untuk mengubah pendidikan di Aceh Singkil supaya kelak Aceh singkil menjadi Kabupaten yang performanya bagus dalam hal pendidikannya dan pemerintah daerah bisa mandiri memajukan pendidikan didaerahnya,” katanya.

Anak ke 4 dari Alm.La muhusia dan Ibu wakunu yang bercita-cita ingin jadi Mentreri pendidikan ini juga menyampaikan harapanya untuk generasi Wakatobi kedepan.

“Pemuda Wakatobi sudah saatnya menjadi penggerak-penggerak dalam bidang apapun yang disukai. sebab sudah banyak daerah diluar Wakatobi yang pemudanya aktif membangun daerahnya dan hal tersebut membantu pemerintah untuk lebih mengembangkan daerah kita,” harapnya.

“Jangan takut tidak diterima. Mulai dari sekarang, melakukan pergerakan-pergerakan dan terobosan baru sebab jika tidak seperti itu maka daerah Wakatobi akan menjadi Kabupaten yang sumber daya alamnya melimpah tapi kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas,”pungkasnya.

Penulis : Emen

Ikut Iuran
Ikut terlibat dalam pendanaan Program Pengiriman Pengajar Muda ke berbagai titik di Indonesia.

Newsletter
Ingin mendapatkan pemberitahuan terkait kabar-kabar dari Indonesia Mengajar?

Berlangganan
Publikasi Lainnya

Bercita-cita Jadi Menteri Pendidikan, Gadis Wakatobi Ini Menjadi Relawan Pendidikan di Pelosok Negeri
15 June 2020
Sekretaris Dinas Pendidikan Buka Olimpiade Sains Kuark 2020
15 June 2020
Seluruh Publikasi