Soleh Nugraha

Soleh Ahmad Nugraha lahir di Bandung pada tanggal 18 Oktober 1987. Anak kelima dari enam bersaudara. Ia mengawali pendidikan di TK Pertiwi, kemudian melanjutkan ke SDN Coblong III Bandung, SMPN dan SMAN 19 Bandung. Setelah tamat SMA, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran. Saat di kampus, ia pernah menjabat sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Gelanggang Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia dan ketua Sastra FC (UKM sepakbola dan futsal Fakultas Sastra).

Selain aktif di organisasi kampus, ia juga aktif menjalin hubungan baik dengan pihak kampus (dosen-dosen Sastra Indonesia Unpad). Hubungan baik tersebut berbuah manis ketika ia dipercaya untuk menjadi asisten bagi beberapa dosen. Ia dipercaya untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa tingkat dasar di beberapa fakultas di Unpad dan juga di beberapa kampus di Bandung, yaitu Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) dan Universitas Langlangbuana pada mata kuliah Bahasa Indonesia dan Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Kegiatan menjadi asisten dosen itu ia mulai sejak tahun 2009 sampai dengan 2010.

Pengalamannya mengajar selama menjadi asisten dosen pun membuat dia jatuh cinta terhadap dunia pendidikan (lebih tepatnya pengajaran). Akhirnya pada tahun 2010 ia memberanikan diri bergabung menjadi Pengajar Muda, Gerakan Indonesia Mengajar. Ia mendapatkan kehormatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar Desa Lombang, Kec. Malunda, Kab. Majene, Sulawesi Barat. Satu tahun tinggal di Tanah Mandar, ia merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan, kesederhanaan, kekeluargaan, persahabatan, dan ketulusan.

Hal yang paling berkesan adalah ketika hari terakhir bertugas di Lombang. Hampir seluruh masyarakat –mulai dari anak-anak sampai orang tua- rela mengantarnya “turun gunung” dengan berjalan kaki. Kejadian itu selalu berbekas dalam benaknya. Kejadian itu pun selalu dia jadikan sebagai jawaban ketika ada orang yang bertanya, “Apakah penghargaan terbesar yang pernah kamu dapatkan dalam hidupmu?”

Setelah menyelesaikan masa tugas satu tahun sebagai Pengajar Muda, ia bergabung bersama Edutech Consultant –sebuah lembaga konsultan pendidikan sebagai HR Manajer. Program yang dijalankan adalah “Pendampingan Nusantara: Fasilitasi Beasiswa Bidik Misi 2012”, yaitu sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan angka partisipasi kuliah terutama dari kalangan kurang mampu dengan cara menyebarkan informasi ke daerah-daerah yang minim informasi tentang kuliah dan beasiswa kuliah (terutama beasiswa Bidik Misi). Program ini dilaksanakan di 40 kota/kabupaten se-Indonesia. Khusus di Jawa Barat, program ini dilanjutkan dengan Learning Camp, yaitu program pendampingan belajar intensif berbasis karantina untuk siswa-siswi kurang mampu namun berprestasi yang lolos seleksi guna menyiapkan diri agar dapat lolos ke PTN-PTN favorit di Indonesia.

Selain di Edutech Consultant, di waktu yang bersamaan dia juga diberikan amanat oleh RExa Education Center (induk perusahaan dari Edutech Consultant) sebagai Pemimpin Program Learning Camp dan RExa Smart Camp 2012.

Komitmennya untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan tetap dijaga. Setelah menyelesaikan tugasnya di Edutech Consultant dan RExa Education Center, pada bulan Juli 2012 ia harus berangkat ke Lampung untuk bergabung bersama Sugar Group Schools. Di sekolah yang dibentuk oleh Sugar Group Company (produsen “Gulaku”) itu ia menjadi staf pengajar di tingkat SMA. Di sekolah yang berada jauh di tengah-tengah hutan tebu ini dia berharap dapat menyumbangkan sedikit manisnya dunia pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

Bersama istrinya yang merupakan seorang bidan, ia bermimpi untuk bisa berkeliling ke daerah-daerah pedalaman di Indonesia untuk berbagi ilmu dan menyumbangkan pengetahuannya di dunia pendidikan dan kesehatan.


Cerita PM:


Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran