Mei
15

Rumah saya adalah rumah singgah. Tempat puluhan orang silih berganti singgah untuk sementara waktu. Ada yang bertahun-tahun, berbulan-bulan, berhari-hari, namun ada juga yang hanya beberapa menit. Kedatangan mereka membuat saya sedikit demi sedikit mengalami perubahan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa rumah tempat saya tinggal sekarang adalah rumah singgah. Dan saya juga tidak menyangka bahwa ternyata saya adalah orang yang kesekian kali singgah dan tinggal di rumah ini. Jika dilihat bangunannya, rumah ini memang tidak begitu besar, cukup sederhana, terbuat dari papan, dan jauh dari kemewahan. Kalau pun dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya mungkin “belum” layak untuk dijadikan tempat singgah. Aneh. Pasti ada sesuatu yang lain dari rumah ini yang membuat orang dari luar daerah kami selalu singgah jika tidak punya sanak saudara di dusun kami. Ya, jawaban itu saya temukan dan rasakan sendiri setelah kurang lebih 5 bulan 7 hari tinggal di sini, di rumah pak Syarif.

Jawaban itu tidak saya temukan secara instan. Semua melalui proses yang tidak sebentar. Dari berbagai pertemuan saya dengan beberapa orang yang singgah di rumah kami, maka jawabannya terletak pada pelayanan sang tuan rumah. Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “bapak”, sudah saya singgung sedikit bahwa sala satu karakter bapak yang saya kagumi adalah beliau sangat memuliakan setiap tamu yang datang ke rumah kami. Jika dalam dunia usaha dikenal konsumen adalah raja, maka di rumah kami tamu adalah raja. Hampi setiap tamu yang datang dilayani begitu hangat dan ikhlas. Tanpa mengenal status, kelamin, kekayaan, profesi, ataupun jabatan, bagi kami semua tamu adalah prioritas. Tidak berlebihan jika saya mengatakan pelayanan di rumah kami mungkin lebih profesional daripada di hotel. Meski kami tidak melayani dengan berbagai kemewahan dan fasilitas, tapi kami melayani dengan hati, cinta dan empati.  Tiga campuran zat yang sedang saya pelajari.

Bapak dan mamak mengajarkan kami untuk menganggap tamu yang datang ke rumah sebagai keluarga. Pada awalnya saya sangat sulit menerima etika ini. Saya tidak bisa menafikkan bahwa saya masih selalu menyimpan curiga jika berhadapan dengan orang baru. Jujur, lebih banyak ke arah negatif daripada positif. Apalagi penampilan luar masih mendominasi pikiran saya ketika menilai orang. Di sisi lain dan paling penting karena saya juga harus berbagi tempat tidur dengan mereka. Jika anda mengikuti cerita saya di awal pasti langsung paham apa yang saya maksud. Oke, jadi di rumah ini kami para lelaki muda apalagi yang masih bujang tidak mengenal istilah kamar. Singkat cerita, kamar hanya untuk kaum perempuan. Adapun kamar untuk lelaki hanya difungsikan sebagai ruang ganti dan menyimpan barang. Di beberapa bulan awal saya sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Saya kehilangan ruang privasi. Namun lambat laun saya mulai terbiasa bahkan sudah mulai merasa nyaman. Memang benar kata orang bijak, bisa karena biasa.

Orang yang singgah ke rumah kami begitu beragam, rata-rata mereka adalah pedagang dari Jawa. Namun pernah ada juga dokter dan guru. Setiap orang yang menyisakan ceritanya masing-masing. Ada seorang pedagang rongsok besi sekaligus mainan dari Demak yang merantau karena sudah tidak punya ladang di kampungnya, ada juga penjual kasur dari cirebon yang harus rela berjalan puluhan kilometer dari satu desa ke desa lain untuk membiayai anaknya yang kuliah, ada penjual tempura dari bogor yang mengaku menjadi langganan anak-anak SD terkenal di Kota Dumai, ada juga penjual dandang nasi (yang menurut saya lebih mirip dandang untuk bakpao) dari bandung yang barang jualannya tidak terbeli satu pun. Diantara orang-orang tersebut, ada juga yang berani mencuri. Benar-benar tidak tahu diuntung. Bahkan yang paling memilukan jauh sebelum ini, ada yang tinggal di rumah ini sampai mati. Tabiat merekapun juga berbeda-beda—selama tinggal bersama kami—ada yang sangat rajin ibadah sekaligus rajin bekerja tapi ada juga yang sedikit bekerja banyak bicara dan keseringan tidur. Semua seakan lengkap tersedia. Benar-benar seperti kumpulan cerpen favorit saya. Satu rumah, beragam manusia, beraneka cerita.

Jujur, kedatangan orang-orang tersebut bagi saya pribadi membawa banyak pelajaran dan perubahan. Mereka secara tidak langsung mengasah nurani dan empati saya menjadi semakin tajam. Kerja keras mereka. Perjuangan hidu mereka. Dan tentunya kegigihan mereka membuat saya tidak pantas jika tidak selalu bersyukur setiap harinya. Semangat mereka menular kepada saya. Saya semakin yakin, hal ini juga yang mungkin menjadi pertimbangan bapak sebagai kepala keluarga untuk selalu menerima tamu yang singgah ke rumah kami. Bisa jadi bapak memberi ruang kepada kami untuk belajar dari mereka. Mamak pun juga pernah mengatakan, “coba kalau kita jadi mereka”. Dari situlah saya belajar bahwa sebagai manusia kita harus selalu ringan tangan dan berprasangka baik. Roda hidup itu berputar. Siapa tahu kita berada dalam kondisi yang mereka alami. Datang ke tempat dimana kita tidak punya saudara bahkan kenalan satupun. Sendiri. Sekali lagi, ini semua soal hati, cinta, dan empati. Selamat datang di rumah kami J

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!