Jul
18

<div class="wp-caption alignnone" style="width: 310px">

Kelas Baca di Pustaka

Cerita kali ini tentang mereka, kumpulan anak-anak yang sedang melancarkan kemampuan bacanya, selanjutnya saya sebut sebagai kelas baca.

Semester genap telah berlalu. Anak-anak kelas baca menggenapkan belajarnya di semester ini, seminggu sekali mereka (yang belum lancar membaca) berlatih. Kelas 2 di hari Kamis, kelas 1 hari Sabtu. Dengan menggunakan modul baca yang diadaptasi dari sebuah buku, saya dan teman pengajar muda di SD dusun sebelah (Nanda Yunika Wulandari) mengadakan kelas baca di SD masing-masing.

Kelas baca hari Kamis yang sebagian besar anak suku Asli (suku Akit), kadang diawali dengan mencari-cari dan sedikit memaksa mereka untuk tetap mau belajar. Kelas 2 ini masuk siang (jam 10), namun mereka sudah datang sejak pagi (jam 7.30). Jeda waktu inilah yang digunakan untuk belajar baca. Mencari-cari mereka di sudut luar sekolah, memaksa mereka turun dari pohon lalu mengajak ke pustaka. Tak jarang mereka minta belajar di sekitar arena bermain mereka, di bawah pohon atau di dekat lapangan sekolah. Tapi menyenangkan mengiringi perkembangan baca mereka.
Selepas kelas 6 perpisahan, maka ruang kelas 6 kosong sehingga mereka dapat menempati ruangan itu dan masuk pagi. Oleh karenanya baca diganti siang selepas sekolah saja, semoga mereka tetap mau bertahan walau sebentar.

Progresnya memang berbeda antara anak satu dengan yang lainnya. Secara umum ada dua kelompok, yaitu kelompok anak yang memiliki potensi dan mulai tampak hasilnya. Kelompok yang kedua adalah kelompok anak yang perlu dibimbing lebih keras sekaligus ia malas datang ke kelas baca. Suatu kali, Rika namanya, saat diajak ke kelas baca ia berkata “Aku tak payah belajar baca lagi lah Bu, kata Bu Ana (Bu Wali kelasnya) aku dah pandai baca. Ibu tanyalah sama Bu Ana”. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti kelas baca hari itu. Ketika diklarifikasi ke wali kelasnya, memang ada kemajuan dalam Rika membaca di kelas. “Tapi Rika tetap perlu belajar baca lagi”, kata sang wali kelas saat mengetahui cerita tentang Rika yang tak mau lagi belajar baca karena merasa telah mampu. Rika termasuk kelompok yang pertama, selain Cici kakaknya yang juga kelas 2, Pawet dan Amin. Sisanya sekitar 4 anak lainnya termasuk pada kelompok kedua.
Mereka belajar mulai dari mengenal huruf; konsonan dan hidup, sampai akhirnya mengeja suku kata dan membaca kalimat, di tingkat yang lebih tinggi saya cek kepahaman terhadap informasi yang ada di bacaan tertentu.

Belum lama ini, Rika dan Cici setiap kali kelas baca berlangsung, ia tak lagi mengajukan modul baca yang memang dibagikan satu anak satu modul. Mereka meraih sendiri buku pelajaran di perpustakaan, memilihnya, membuka halaman yang ingin mereka baca dan menyetorkan bacaannya kepada saya. Saat yang lain masih dengan modul bacanya, Rika dan Cici memabaca buku pelajaran dengan keinginan dan inisiatif mereka sendiri. Padahal beberapa minggu sebelumnya mereka masih mengeja suku kata, perlahan dan kadang mengulanginya karena belum sempurna. Di hari itu pula saya cek kepahaman Rika dan Cici terkait informasi yang ada di bacaan tersebut, semua pertanyaan saya yang mengarah pada isi bacaan dapat mereka jawab dengan benar. Hmm, Rika, Cici kalian sejatinya pandai.. sang wali kelas menceriterakan bahwa Rika sekarang rajin, dan sangat bangga untuk membaca di depan kelas.

Selalu senang melihat sosok-sosok Rika bermunculan, melejit kemampuannya sejalan dengan potensi sejati mereka..potensi cerdas, potensi rajin, teliti, santun dan potensi-potensi lainnya..
Di tahun ajaran baru ini melihat Rika dan Cici di halaman kelas tiga. "Kami kelas tiga, Bu". Selalu senang...

<div class="wp-caption alignnone" style="width: 310px">

Rika, Cici dan siswa kelas baca

1 Komentar
  • alex
    Untuk Pengajar Muda (PM) 1 dan 2, dimana saja berada., pembawa pesan pertama dari Gerakan Indonesia Mengajar ke pelosok Nusantara. Setelah selesai mengabdi, adakah mimipi/ keinginan/ rencana untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat GIM menjadi gerakan bersama yang diketahui dan dimiliki semua rakyat Nusantara serta menimbulkan niat tulus dari rakyat di Nusantara ini untuk berpartisipasi dalam Pendidikan, baik secara langsung maupun tidak.
    Karena untuk menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, hanya dengan pendidikan. Dan pendidikan membutuhkan dana dan gerakan bersama, karena tanpa itu, kita tidak dapat menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, dan akhirnya Mutiara Nusantara akan hilang ditelan waktu.
    Akankan ini terjadi lagi dan lagi, tanpa bisa kita cegah dan hancurkan?.
    Sanggupkah Mutiara Nusantara kita, menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan itu dengan kekuatannya sendiri ?.
    Jadikan GIM sebagai pembuka jalan tetapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya karena tanpa adanya bantuan dari kita, rakyat nusantara lainnya, Mutiara Nusantara akan menemui kesulitan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu dirinya, mari kita bantu mereka, bisakah PM 1 dan 2, sekali lagi berpartisipasi menemukan jalan keluarnya.
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!