Sep
27

Ada sekitar empat obat yang kudapat dari dokter sore ini, dengan satu jenisnya adalah berbentuk tablet dengan warna hitam pekat seperti arang. Satu bulatan ini adalah obat mujarab. Tepatnya merupakan obat yang harus segera ku minum dua jam, setelah terlahap tiga obat yang lain paska mengisi makanan ke perutku yang sejak tadi sudah terkuras habis karena muntah. Aku muntah-muntah, pening seketika, dan sakit perut. Tepatnya aku keracunan makanan. Sebuah fenomena alam yang pertama kali terjadi dan semoga terakhir kali ini saja aku rasakan.

Sebenarnya aku tahu bahwa hari ini dan hari-hari sebelumnya adalah ujian sekaligus anugerah yang Tuhan berikan kepadaku, untuk menguji seberapa kuat diriku dalam meniti garis kehidupan yang Ia berikan. Bagaimana tidak? Sudah terhitung kurang lebih satu bulan, Me’tua dan Bapak Piara meninggalkanku untuk menghadiri anak keduanya yang pada tanggal 17 September lalu, diwisuda di Malang. Namanya Mira. Katanya ia adalah anak yang rajin lagi ramah. Berkat ketekunan dan kegigihannya, ia dapat melanjutkan sekolah di Fakultas Mipa Jurusan Kimia Universitas Brawijaya, Malang. Jauh-jauh tinggal di Maluku akhirnya berhasil juga anak ini ke Pulau Jawa untuk mengemban ilmu menggapai cita. Maka, pantaslah jika kedua orang tuanya mau berkorban sekuat tenaga hanya untuk melihat peletakan toga, sekedar lihat seonggok senyum bahagia.

Untuk pergi menghadiri wisuda, Bapak menjual motor agar bisa mendapatkan biaya untuk ongkos perjalanan yang begitu jauh dari pulau ini menuju Malang. Tergolong sebagai keluarga yang kurang mampu, Bapak lebih memilih menggunakan kapal laut untuk berlabuh menuju pulau Jawa. Jangka waktunya tentu bukan satu, dua hari, atau paling lama satu minggu. Bukan, bukan itu. Jangka waktu standarnya adalah dua sampai tiga minggu. Itupun baru berangkat menuju Malang, belum terhitung untuk perjalanan pulang. Tapi apa mau dikata? Bukankah ini hidup, dan bukankah ini moment wisuda? Sebuah ceremonial yang mengharuskan orang tua untuk dapat menyaksikan sendiri peletakan toga tanda kelulusan seorang anaknya. Menghadirinya akan terasa haru. Pilu. Bahagia. Tak dapat diungkapkan kegembiraannya lewat kata-kata. Mungkin begitu juga dengan gambaran diriku yang ditinggal berdua saja dengan anaknya. Stay in line, tetap waspada di muka rumah menjaga kedua anak terkecil mereka.

Hidup itu keras dan itulah fakta kehidupan.

Hidup sendiri tidak ada yang melayani memang tak enak. Memasak sehari tiga kali. Menyetrika bajuku dan baju mereka. Menimba air ke sumur yang jaraknya begitu tinggi dan selalu membuat tanganku mengepul karena saking beratnya. Menyapu halaman pekarangan yang begitu luas di sekeliling rumah. Memastikan tanaman tak mati karena panas yang begitu menyengat. Mengepel dalam rumah yang selalu badaki karena bercakan kaki yang terkena pasir. Memanggil-manggil Dani kecil untuk mandi. Mengejar-ngejar anak ini untuk pergi ke sekolah. Membantu mereka untuk mengerjakan PR. Menyisir pantai untuk mendapatkan ikan. Mencari bumbu dapur di pasar dekat pantai. Bersama-sama bermain di laut. Mencari bia (red:kerang) untuk makan bila tak ada ikan dan telur. Memetik kelapa, mangga, atau pisang di kebun sana. Memanjat dan membawa hasil kebun tergopoh-gopoh karena beratnya. Mencuci belanga yang tak kunjung hilang karena bercakan putih yang begitu tinggi kadar kapurnya. Mencuci piring yang tak pernah ada habisnya, dan yang terpenting adalah mendengarkan cerita dan imajinasi luar biasa dari kepala mereka. Secara tiba-tiba tugas mulia ini aku emban, dan tentu beberapa hari sempat membuat tubuhku panas seketika.

Pada hari-hari ini, hari-hari kepergian mereka, sebenarnya pernah terlintas olehku untuk sejenak bernapas seperti biasa. Sejenak melakukan pendinginan, tak lagi lari maraton, tak lagi berenang gaya kupu-kupu, tak lagi melakukan smess seperti dalam permainan bulu tangkis atau sekedar terburu-buru mengejar angka 15 dalam permainan tenis. Melihat banyak anak muda yang jogging di sore hari dengan memandangi langit cerah sambil memandangi ciptaanNya sepertinya akan terasa begitu indah. Tapi tentu hal tersebut hanya bisa menjadi omongan belaka, atau mungkin bisa menjadi suatu kesia-siaan yang fana. Ah, manusia memang selalu tak pernah istiqomah untuk bersabar, mengemban tugas-tugas mereka di dunia! Dan atas kurang bersabarnya diriku menuai pahala pada beberapa waktu lalu, akupun diuji olehNya dengan sebuah refleksi atas amal-amalku. Aku diuji bertubi olehNya, jauh hari sebelum aku keracunan tomat tanimbar yang tak biasa untuk dijadikan juice sebagai pelengkap makanan pembuka.

Ujian itu adalah datangnya tamu yang tak pernah disangka. Ia begitu istimewa. Ia istimewa karena ia mengingatkanku untuk berefleksi atas amal-amalku. Ia adalah gambaran masalah riil di masyarakat yang harus secara langsung aku hadapi. Tamu istimewa itu adalah orang mabuk. Orang mabuk datang ke rumah kami, mengganggu, kemudian menahan kami dalam rumah tanpa bisa berteriak ataupun lari untuk sekedar meminta bantuan.

Hidup itu keras, maka gebuklah! Sebuah ungkapan optimis yang selalu kusuka dari buku Ipung karya Prie JS. Tapi sayang! Badan si pemabuk begitu besar dan tak mampu kami menggebuk nya. Kalaupun sekedar menggebuk badannya, bukankah dia adalah seorang pria (red:ikhwan)?

Lama aku bertengger dengannya, berdialektika ngalor-ngidul tak jelas kemana arah juntrungannya. Makian anjing, babi, binatang, semua keluar dari dalam mulutnya. Perintahnya untuk mengunci semua pintu dan menyambiti murid-muridku yang datang untuk les mate-matika juga telah membuat kami salah tingkah harus berbuat apa dan bagaimana. Teriak takut digampar, lari takut dikejar, gebuk takut dibalas, nangis takut akan tambah dimaki. Intinya hanya perasaan takut.

Namun setelah satu jam kami berkutat dengannya di dalam, entah mimpi atau petuah darimana, tiba-tiba ada seorang ibu yang ingin pergi bacuci ke sumur belakang dekat rumah. Suara yang berisik berisi makian dan bantingan pintu yang keras, mengagetkan si ibu untuk datang sekedar melihat. Kami terselamatkan. Pemabuk diceramahi dan iapun lari pergi. Dan bagaikan seorang pendekar kami hanya mampu bergerak saat acara penutupan. Lumayan walau hanya sekedar menutup pintu dan jendela dengan sangat rapat.

Dalam refleksi ini, tak selamanya memang hidup itu harus selalu digebuk! Hidup itu keras maka seharusnya hidup itu digarami, dibanting, diinjaki, dikuliti, dimasak, direbus, dididihkan, dipecahkan, diperas sampai keluar santan-santan kanilnya seperti membuat santan untuk kolak. Berada sendiri berdiri disini memang tak enak. Tapi, sendiri untuk mengabdi adalah jauh lebih lezat karena dapat membuat kita jauh lebih kuat. Tempaan hidup sebagai PM tak seberapa dibanding tempaan masyarakat yang sudah lama hidup di negara yang berdaulat. Mau sampai kapan menangisi malam yang tak kunjung pagi? Mau sampai kapan berteriak pada awan yang tak kunjung putih? Cahaya itu telah ada pada orang yang sabar menanti. Sabar menanti sebuah kepastian datangnya mentari. Sabar menanti, kapan tanggal pasti sebenarnya Me’tua kan datang lagi.

*Adaut, 24 September 20011. Pada awalnya semua orang bangga dengan pilihannya, tapi akhirnya tak semua orang setia pada pilihannya. Saat ia sadar bahwa yang dipilih mungkin tidak sepenuhnya seperti yang diimpikan. Karena yang sulit dalam hidup ini, bukan memilih. Tapi bertahan pada pilihan. Sedikit waktu mungkin sudah cukup untuk menentukan pilihan. Tapi untuk bertahan pada pilihan tersebut, bisa jadi harus menghabiskan sisa waktu usia yang dimiliki. Seperti itulah satu kata yang begitu mudah diucapkan tapi begitu sulit untuk diamalkan, yaitu “Istiqomah.” (al-ustadz).

1 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!