Mengarungi Jalan Asinua-Lalowata Malam Hari Karena Sepucuk Surat
Oleh: Nur Azizah Nasution,
Cerita Pengajar Muda
Saat sore di hari ke-5 aku berada di desa Asinua Jaya, ibu angkatku di desa (Ibu Yuyun) memberikan aku sepucuk surat yang katanya berasal dari @roidanana yang dititipkan lewat gurunya. Kak Nana berada di desa Lalowata, kecamatan Latoma. Ohya, mungkin ada sebagian dari kalian yang belum tau bahwa kecamatan Asinua dan Latoma masih belum ada listrik dan jaringan telepon, maka dari itu kami berkomunikasi dengan menggunakan surat untuk pertama kalinya.

Aku membaca isi suratnya dan memberitahukan kepada ibu angkatku. Ada sesuatu hal yang tak bisa kuceritakan disini secara rinci, hal tersebut membuatku gundah gulana, dan membuatku ingin menjemputnya. Ibu dan bapakku sepakat, bahkan menyarankan aku untuk menjemputnya malam itu juga. Akhirnya aku dan ibu bertemu dengan Alshar dan Feri (pemuda desaku), aku meminta tolong mereka untuk mengantarku ke desa Lalowata karena aku tidak tau jalan sama sekali kesana. Alhamdulillah mereka mau membantuku. Ibu menyarankanku untuk membawa Qur'an kecil dalam tas untuk berjaga, karena perjalanan dengan motor ini tidak akan mudah, jalanan yang rusak parah, tidak ada lampu jalan, dan banyak jurang di kiri-kanan jalan. Bapak memintaku membawa headlamp untuk membantu penerangan motor.

Akupun berangkat setelah magrib mencari Kak Nana yang aku sendiri tak tau dimana alamatnya saat itu. Gila ya? Memang. Hanya dengan sepucuk surat aku, Alshar, dan Feri bisa mengarungi jalanan berbahaya. Yang membuat aku tenang di sepanjang jalan adalah sinar dari bulan dan jutaan bintang-bintang. Indah banget! Kalian harus lihat sendiri kesini! Sungguh, langit itu takkan kalian lihat di tanah Jawa.

Aku sampai di desa Lalowata dan diantar salah satu warga desa yang tau keberadaan kak Nana. Aku bertemu kak Nana, kami berpelukan, terharu, berkaca-kaca pula mata kami. Rasanya seperti rindu karena sudah lama sekali tak jumpa. Aku memberitahukan maksud kedatanganku untuk menjemput kak Nana, dia kaget kenapa bisa aku sampai sebegitunya. Dia menjelaskan kepadaku maksud dari suratnya, dan aku baru paham.
Kami senyum-senyum saja, antara ingin ngakak karena agak salah paham dan ingin nangis karena terharu bisa bertemu.

Akhirnya setelah berdiskusi cepat, kak Nana ikut aku pergi ke desaku (desa Asinua Jaya) dan menginap semalam dirumah orang tua angkatku. Ibu dan bapakku penasaran, kami menceritakan secara jelas. Setelah menerima saran bapak, ibu, dan diskusi antara aku dan Kak Nana, kami memutuskan untuk pergi ke Unaaha siang hari setelah aku mengajar di sekolahku (SDN Asinua Utama). Kami mencari tumpangan, namun tak ada yang lewat. Beruntung Mama Okta (disini kalau menyebutkan nama orang tua siswa dengan menyebutkan Papa/Mama lalu nama anak pertamanya) mau ke Unaaha, kami pun diajak untuk menumpang di mobilnya. Daaaan, jadilah foto ini hihihi. Begitulah cerita awal-awal kami berkomunikasi dengan surat.
Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Anak-Anak dan Kotak Ajaib di Kepala Mereka

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran