Des
15

Kamis, 18 November 2010

Hari ini adalah hari yang penuh dengan kejutan. Betapa tidak? karena sekarang masih buram mengenai jadwal kerja di sekolah tempat saya mengabdi dan berbagi akhirnya saya memutiuskan untuk melengkapi data base sekolah. Jadilah saya menayakan dan bertanya-tanya dengan kepala sekolah mengenai data apa saja yang mungkin bisa terisi pada hari ini. Di tengah poroses penggalian data tiba-tiba seorang guru menyapa dan berkata,”Bu, kelas enam kosong dan sekarang jam pelajaran matematika. Ibu bisa masuk dan mengisi di situ.” Tawaran tersebut segera ku iyakan mengingat aku memang masih meraba-raba mengenai tugas tetapku di sini selama satu tahun. “Iya bu,” jawabku. “Lalu materi apa yang akan saya ajarkan di sana?,” tanyaku kemudian. “Nanti bisa di lihat di kelas bu. Ada bukunya di sana,” kata ibu itu menimpali. Oh oke... kataku sembari melangkah meninggalkan kantor guru tersebut.
Sesampainya di depan kelas enam langkahku terhenti. Aku melihat sosok anak laki-laki yang tingginya bahkan melebihiku. Si anak laki-laki ini segera menghampiriku dan bertanya,”Masuk bu?” dengan mata penuh harap. “Iya,” jawabku santai namun sesungguhnya dalam hati dag dig dug karena tidak tahu materi apa yang akan ku bawakan. Satu lagi pengalaman yang ku dapat dari sekolah ini yaitu harus siap kapanpun dan apapun. Sangat kontras dengan keadaan saat pelatihan dimana bahkan kami harus lembur demi membuat RPP. Di sini? Jangankan RPP, waktu untuk membuat persiapan diruang kelas pun nampaknya tak tersedia. Maklum saja aku adalah guru serabutan yang bidang kerjanya sekalipun baru aku tahu ketika jam itu, menit itu.
“Kelas enam masukkk.... Kelas enam masukkk....,” triak anak laki-laki di depanku tadi sembari berkeliling memberitahu teman-temannya. Kemudian, dari arah yang tak jauh dari lokasi anak laki-laki itu terdengar teriakan serupa dan kemudian saling sahut menyahut. Akupun berniat menunggu di dalam sembari mempersiapkan materi ajar yang hingga detik itu pun ku tak tahu apa yang harus di ajarkan. “Oke Nanda, lakukan dulu hasil belakangan,” kataku dalam hati guna menguatkan diri.
Kelas itu besar namun disusun dengan format kelas kecil. Hem, kelas yang efektif. CBSA sangat mungkin bisa dilakukan di sini. Kelas 6 SDN 08 Bantan tengah memiliki 14 murid yang terdiri dari 3 murid laki-laki dan 11 murid perempuan. Kecuali 1 orang murid laki-laki yang ku temui di depan tadi, semuanya nampak malu-malu. Ketika aku duduk di depan kelas, segera semua mengerumuniku dan bertanya dengan antusias,”Belajar apa bu guru? Belajar apa bu guru??” yang ku lihat dari mata mereka adalah mereka nampak antusias dan haus akan ilmu. Kontras dengan keadaanku saat sekolah dimana justru akan berkata,”Yess...” ketika guru tidak hadir dalam kelas. Mungkin mereka sudah terlalu sering menanti datangnya guru sehingga ketika ada guru yang mengisi kelas mereka, mereka akan dengan senang hati segera berhambur untuk masuk ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak... Asalamu’alaikum wr wb,” kataku membuka kelas itu. Walau hanya berjumlah 14 anak, mereka dengan semangat menjawab salamku. Setelah selesai berdoa akupun berkata,”Sekarang materinya apa anak-anak?” sebenarnya pertanyaan ini adalah pertanyaan aneh mengingat aku adalah seorang guru namun justru bertanya mengenai materi yang di pelajari oleh muridnya sendiri. “Matematika buuu...,” jawab mereka serempak. “Oke, sekarang matematika tapi materinya apaaa?” tanyaku lagi. Lalu beberapa anak mendekat menuju mejaku dan berkata,”Bukunya ada di lagi bu, ada tandanya...” Oh oke... Aku mengambil buku itu lalu ku buka bagian yang memang sengaja di lipat. “Yang ini?” tanyaku sembari menunjuk materi mengenai satuan volume. “Iya bu,” jawab anak-anak yang berdiri di depanku. Segera ku putar otak dan akhirnya mendapatkan ide,”Ada PR kah?,” tanyaku. “Ada buu...” jawab mereka. “Sekarang PR-nya di kumpulkan ke meja ibu,” perintahku kemudian. Ke-empatbelas anak-anak tersebut satu-persatu mengumpulkan PR ke meja guru. Setelah mereka mengumpulkan PR aku meminta mereka untuk maju menuliskan jawaban PR yang sudah mereka kerjakan tadi. “Ayo siapa yang mau maju mengerjakan soal nomer satu?,” tanyaku bersemangat. Krik.. Krik... Krik... Tak ada jawaban dari arah manapun. Ku ulang pertanyaan itu sekali lagi sembari melirik seorang anak yang nampaknya ingin maju namun malu-malu. “Oke, jika tidak ada yang mau maju ibu akan tunjuk, “ kataku sembari mengeluarkan tip-ex. “Tip-ex ini akan ibu putar. Jika ujungnya mengarah salah satu dari kalian maka yang di tunjuk harus mau maju,” kataku lagi dan kali ini di sambut dengan gemuruh dari tempat yang semula hening itu.
Satu putaran dan menunjuk pada seorang anak perempuan yang duduk di ujung, dia maju dan di susul dengan anak lain yang terpilih oleh ujung tip-ex. Satu demi satu anak-anak tersebut maju dan akhirnya semua soal berhasil terjawab walau dengan cukup banyak campur tangan dariku untuk membenarkan jawaban yang salah sekaligus memberitahukan langkah-langkah yang tepat. Dari bahasan PR tersebut aku jadi mendapat gambaran bahwa murid-murid kelas 6 SD tersebut sebagian besar belum memahami cara sederhana dalam menalar materi ataupun rumus yang diberikan. Akhirnya aku pun menulis rumus di papan tulis sembari membuat soal secara lisan yang wajib di jawab anak-anak yang belum mendapat kesempatan maju saat menjawab PR tadi. Mereka nampak lebih antusias. Berani bertanya dan berani menjawab walaupun masih belum betul. Saat ada seorang anak berhasil menjawab aku berinisiatif untuk mengajak anak-anak lain memberi energi ‘Supermen wushh’ sebagai bentuk reward positif yang biasa kami lakukan ketika pelatihan selama 2 bulan. Namun tidak berhasil karena saking pemalunya mereka. Akhirnya aku mengubahnya dengan memberikan reward berupa ‘two kleps’ untuk anak-anak yang berhasil menjawab. Anak-anak kelas itu pun nampak lebih nyaman atasnya.
Kegiatan berlanjut dengan permainan cerdas cermat mengenai satuan volume. Di sini aku memang sengaja membagi mereka ke dalam kelompok kecil supaya mereka dapat membantu satu sama lain pun aku dapat memetakan kekuatan dan kelemahan mereka. Berhasil! Dari lomba cerdas cermat tersebut, keempat belas peserta pada awalnya malu-malu, dengan cepat berubah menjadi antusias. Mereka saling berebut menjawab. Mengacungkan jari dan belajar satu sama lain. Poin positif disini adalah aku berhasil merubah mereka dari semula pendiam menjadi aktif dan berani maju. Bahkan saat bel berbunyi pada pukul sembilan lebih lima belas mereka tetap meminta tambahan dua soal untuk permainan cerdas cermat itu. Mereka bisa! Dari gambaran kelas ini aku semakin percaya bahwasanya tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanyalah murid yang tidak tekun belajar atau guru yang tidak tahu bagaimana caranya mengajar. setelah selesai mengajar di kelas itu anak-anak kemudian menghambur ke arahku dan bertanya,”Nanti ibu masuk lagi yaaaa...”

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!