Apr
09

Namanya Misbahuddin, muridku kelas V. Tubuhnya tinggi, lebih tinggi dari tubuhku, kakinya panjang hanya saja tidak seimbang antara kanan dan kirinya. Sebetulnya pandai hanya saja terkadang kurang percaya diri.  Anaknya pemalu tapi di baliknya aku yakin dia adalah salah satu mutiara yang terpendam. Ayahnya seorang pandai besi yang sudah dikenal di kampung kami. Sehari-hari dia dan kakaknya yang sudah putus sekolah membantu ayahnya membuat parang dan pisau.

Saat itu tanggal 22 November 2012, Misbah, panggilan akrabnya, sudah dua hari tidak masuk sekolah. Tak kulihat juga wajah Misbah setiap lewat di depan rumahnya. Bahkan saat aku singgah di rumahnya pun tak kudapati ia disana. Kemana perginya anak itu ya?

Ada perasaan tidak enak untuk bertanya kepada Indoknya yang terlihat kerepotan mengurus anaknya yang masih kecil-kecil. Di sisi lain juga ada kesungkanan untuk bertanya kepada adiknya, Sartika, yang setiap malam menginap di rumahku. Ah kutebak saja dia lupa pergi ke sekolah. Mungkin dia benar-benar lupa.

Alasan-alasan murid tidak datang ke sekolah akhirnya kudapati persis seperti di cerita-cerita yang pernah kudengar sebelum aku menjadi guru di desa. Mereka tidak datang karena malas, ikut orang tua ke gunung, ikut orang tua ke kebun, ikut melaut, ikut panen, menggembala sapi, bahkan bekerja sebagai pengangkat batu. Wajar jika mereka begitu karena memang pemahaman orangtua yang kurang mengenai dunia pendidikan. “Aiih rupanya belum juga ditahu kalau sekolah itu penting mi…phaiiikkk” gerutuku dalam hati dengan bahasa Mandar.

Keesokan harinya senyum khas Misbah kulihat di dalam kelas. Kudekati ia dan kutanya, “kenapa nak dua hari tidak masuk sekolah?” lalu Misbah menutupi wajahnya dengan gaya malu-malu sambil berbisik “Aiih tidak ditahu bu…eee anu bu saya pergi angkat batu!”. Lalu dia berusaha menjelaskan dengan bahasa Mandar mengenai kegiatan angkat batu yang membuatnya tidak masuk sekolah.

Sebagai wali kelasnya, aku berbisik “Misbah, kau boleh angkat batu, menggembala sapi, pergi ke ladang, panen kemiri, Ibu tahu semua yang kau lakukan baik Nak tapi lakukan setelah pulang sekolah. Pagi kau bisa ke ladang lalu sekolah dan sorenya kau juga bisa ke ladang juga. Iyo di? Pilih mana kau jadi bos tukang angkat batu atau pengangkat batunya?”. Misbah hanya tertunduk diam . Hatiku mulai gemetar jangan-jangan ada ucapanku yang kurang tepat. Ah sudahlah kelas harus segera dimulai agar kegalauanku berakhir.

Seperti biasa, aku memulai kelas dengan berdoa dan menulis diary.  Iya diary, karena aku ingin tahu perkembangan jagoan-jagoanku. Semua anak menuliskan ceritanya, mulai dari pukul berapa mandi, ganti baju, menggosok gigi, bermain dengan adik, mencari ikan di laut, angkat batu, menggembala sapi, dan cerita unik serta polos lainnya.

Sampailah aku di sebuah tulisan yang cukup membelalakkan mataku, “Kemarin dua hari saya tidak sempat ke sekolah karena pergi angkat batu di sungai. Maafin aku ya Bu tidak sempat sekolah. Mulai hari ini sampai depan saya akan selalu ke sekolah dan tidak angkat batu lagi saat sekolah.”

Deg deg, aliran darahku naik dengan cepat. Masih tidak menyangka Misbah akan menulis kalimat seperti itu di diarynya. Bagaimana aku bisa tidak sayang kepadanya? terang saja aku semakin menyayanginya, selain aku tahu betul kondisi keluarganya.

Beginilah kehidupan anak-anak di sini, sekalipun mereka tidak masuk sekolah sebenarnya kegiatan yang dilakukan semata untuk membantu keluarga, membantu meningkatkan perekonomian keluarga namun sayangnya mereka tidak paham mengenai cara mengatur waktu dan prioritas kehidupan.

Anak-anak itu selalu menjawab dengan polos dan jujur alasan mereka tidak masuk sekolah ataupun secara tiba-tiba pergi dari sekolah, jawabannya sangat sederhana, “angkat batu, menggembala sapi, panen kemiri, ke gunung membantu po’o (nenek) mencari ubi kayu, mengasuh adik, dan serentetan alasan jujur lainnya.” Tidak mungkin aku menyalahkan keadaan mereka. Orangtua sudah diberi pemahaman namun masih belum ada perubahan. Lalu aku mau bicara apa?

Sejak hari itu hingga saat ini, sudah berselang 4 bulan. Betul sekali Misbah tidak lagi pernah membolos untuk bekerja. Aku menjadikannya sebagai Kapten Keamanan di kelas. Besar harapanku Misbah berani memiliki cita-cita yang tinggi............

3 Komentar
  • I. Farida
    Subhanallah...
    Disaat banyak anak-anak yang sibuk dengan iPad, Tablet, dan gadget2 mereka.
    Masih ada, dan bahkan ternyata sangat banyak sekali anak-anak yang jangankan merasakan memiliki gadget2 mahal itu, bermain kelereng dgn teman sebayapun belum tentu bisa. Barakallah...
    Semoga cita-cita misbah dan seluruh anak Indonesia will be come true :)
  • Nurul
    terharuuuuu!!!! kereeen sekali dgn mereeka yang sulit tapi tetaaap semangaat bersekolah :)
  • Mega Tala Harimukthi
    I.Farida : Alhamdulillah Ibu/Mbak, anak-anak di sini selalu memberikan semangat bagi saya. Aammiinn semoga Alloh mudahkan dan berkahkan jalan Misbah meraih cita-citanya. Aammiin Ya Mujiib :)

    Mbak Nurul : Subhanallah sekali memang mereka..Semangatnya luar biasa! :)
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!