Feb
03

Minggu kedua di Sawang Akar. Hari-hari diminggu kedua ini saya lalui dengan berusaha mengenal masyarakat disekitar tempat saya tinggal. Hari raya Iedul Adha sangat membuat saya memiliki alasan untuk silaturahmi dan masuk ke setiap rumah di desa ini. Mungkin? Ya, sangat mungkin. Desa tempat sekarang saya tinggal tidak sebesar desa di Jawa, desa ini mungkin hanya seluas RT jika dibandingkan dengan di Jawa. Dengan luas desa yang hanya kira-kira satu RT ini sangat mudah bagi seseorang untuk mengenal dan menjadi akrab satu sama lain, ditambah lagi dengan jumlah penduduk di desa ini hanya sekitar 400 jiwa tentu akan sengat sering satu individu berinteraksi dengan individu yang lain. Tidak aneh jika masyarakat kampung ini relatif lebih kompak apabila dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak.

Masyarakat yang tinggal di desa ini kurang lebih 99% berasal dari suku makian. Masyarakat suku makian sangat menyukai aktivitas berkebun. Cengkeh, pala, coklat, dan sagu adalah komoditas unggulan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat suku makian. Dari aktivitas berkebun juga masyarakat memperoleh pisang, umbi, dan singkong yang menjadi makanan pokok sebagain masyarakat sebagai pengganti nasi dan sagu. Namun demikian, jika malam tidak sedang purnama, sebagian masyarakat melaut berkelompok menggunakan bagan. Tidak banyak memang penduduk yang memiliki bagan karena teknik tangkapan ikan dengan cara ini tergolong mahal.

Di minggu kedua ini pula, beberapa penduduk berusaha saya akrabi, salah satunya Pak Ismat. Pak Ismat adalah kepala komite sekolah. Selain dari Pak Mus, bapak Piara saya, dari beliau juga mula-mula saya belajar tentang kebiasaan suku makian. Menurut pak Ismat, tidak ada perbedaan adat-istiadat yang mencolok kampung ini dengan di Jawa. Tidak ada pula pantangan-pantangan yang harus diperhatikan baik-baik. Menurutnya, aturan-aturan yang berlaku di kampung ini tidak jauh berbeda dengan ditempat-tempat lain. Tidak ada yang spesial khusus hanya berlaku dikampung ini. Selama kita bersikap santun, tidak suka mengomentari cara hidup masyarakat kampung ini, menerima perlakuan mereka terhadap kita dengan ikhlas, suka menyapa dan melempar senyum, meski pakai ukuran orang jawa, masyarakat suku makian sudah sangat senang dan akan memperlakukan kita dengan wajar.

Dari pak Ismat juga saya mengetahui kalau masyarakat desa ini sangat membutuhkan pembangkit listrik tenaga matahari. Saya pikir juga demikian, kondisi malam hari kampung ini sangat gelap, jika malam tiba tidak ada aktivitas apapun yang dilakukan masyarakat. Saya pernah menghitung dari sekitar 70 rumah memang tidak lebih dari 10 rumah yang menggunakan genset sebagai alat penerang di malam hari. Rata-rata penduduk menggunakan loga-loga, sejenis pelita minyak tanah yang terbuat dari botol softdrink yang diberi sumbu dari kain, sebagai alat penerangan. Malam itu juga saya sempatkan silaturahmi ke beberapa rumah penduduk yang memakai loga-loga dirumahnya. Hampir semua penduduk yang saya kunjungi mengeluhkan kondisi malam yang gelap gulita tanpa penerangan yang cukup karena mereka terpaksa mengeluarkan biaya tambahan membeli minyak tanah untuk mengisi loga-loga.

Di desa terpencil, masalah ketersediaan listrik memang sama peliknya dengan masalah ketersediaan guru bagi SD terpencil. Mungkin banyak alasan dari para pembuat kebijakan sehingga listrik belum bisa masuk di desa ini dan desa-desa yang lain yang serupa dengan desa ini. Tapi jujur, saya sangat menyukai gelapnya malam desa ini. Malam di desa ini betul-betul terasa diciptakan untuk istirahat. Tidak ada hingar bingar suara televisi, musik dari mp3, VCD dan atau DVD player. Saya juga suka kesederhanaan kampung ini, tidak ada gaya yang neko-neko, tidak ada waktu sia-sia nonton gosip, dan satu lagi saya jadi tidak frustasi karena berita-berita korupsi dan skandal-skandal pejabat yang sering ditayangkan di TV.

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!