Cerita Cahaya Ramadhani


Sep
07
Ini memang bukan kisah tentang kemenangan, kawan. Ini kisah jalinan persahabatan. Persahabatan yang kian tersulam sejalan pekan. Ternyatanya, kisah kami tak henti. Selepasnya, terus berjalan bulan demi bulan. Membahagiakan. Inilah kisah 30 hariku bersama Zul Fadli. Namun ternyata, lebih dari pada itu.
Apr
14
Bermula dari sebuah amplop kertas yang rupanya tak lagi mulus. Tebakanku, sepertinya amplop ini telah dikirim cukup lama atau mengalami perjalanan jauh. Keduanya benar. Menilik pada tulisan di muka amplop, surat ini berasal dari sebuah sekolah asing nun di Timur Indonesia sana. Titimangsanya pun tak lagi baru, hampir setahun lalu. Entah apa aralannya sehingga amplop ini baru tiba di alamat yang dituju. Siapa sangka, dari amplop kumal itu aku dan ...
Mar
12
Maka nak, Lamkaruna ku, bocah tengil berkepala telurku, kan kuproyeksikan dirimu dalam kepalaku bahwa: seseorang yang akan berdiri di mimbar megah dengan jutaan umat yang mendengarkan setiap ucapannya dengan hikmat di masjid yang paling kesohor itu adalah dirimu. Dan kuyakin itu kan mewujud kelak dalam hidupmu.  Mencintai juga berarti merelakan. Maka, aku merelakan Lamkaruna.

Mar
11
“NAMA SAYA INNAMUHAMAD ZANIL.HOBI SAYA MAIN BOLA. CITA –CITA MENJADI POLISI.UMUR SAYA 12 TAHUN. SAAT INI AKU BERADA DI KELAS 6.AKU LAHIR DI PANTE BAHAGIA. ORANGTUA SAYA BERNAMA ARIVIN DAN AMINAH.PEMAIN BOLA YANG PALING AKU SUKAI ADALAH KRISTIANO RONALDO.NAMA KAKAK KU ADALAH ROSMAWATI. AKU SUKA NASI GORENG. MINUMAN KESUKAAN KU ADALAH AIR SUSU. SEHABIS MANDI, AKU MAKAN SARAPAN  HABIS  MAKAN AKU BERANGKAT SEKOLAH.” 
Mar
09
Bagi mereka, belajar adalah duduk tegak, mulut terkunci, tatapan lurus ke papan. Bagi mereka, belajar adalah dengarkan segala ceramah guru, menyalin apa yang ada di buku, apa yang didiktekan bapak-ibu. Bagi mereka, belajar adalah kerjakan soal, tuliskan jawaban yang benar–entah bagaimana caranya pokoknya yang penting jawabannya benar,  dan antre untuk mendapatkan seulas ponten di bukunya. Bagi mereka, itulah belajar. Harus seperti itu. Yang lain, bukan.

Des
15
Saya terhenyak. Ada penglihatan yang tak biasa di perjalanan perdana saya menuju Gampong* Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara: kawanan kera liar! Baru kali ini saya melihat kera-kera yang bisa melenggang santai di jalanan desa yang berupa tanah berkerikil. Melihat itu, saya—yang  berada di dalam mobil bersama kepala sekolah–hanya bisa mangap amat lebar. Yakin, muka saya pasti jelek sekali waktu itu. Sedangkan Pak Din, kepala sekolah ...