Apr
27

Hari-hari terasa cepat kulalui di akhir-akhir masa penugasan di Fakfak, Papua Barat. Saat kupindah foto-foto dari kamera ke laptop, kulihat sudah 11 folder kubuat, berarti April ini memasuki bulan ke-11, tersisa 1 bulan efektif aku bertugas di SDN Tarak, Distrik Karas.

Jauh sebelum aku datang di sini, memang sudah terpikir akan membuat sesuatu yang bisa memutar memori saat aku sudah pergi. Seperti dulu saat bermain bersama anak-anak di Merapi, aku membuat semacam puzzle ukuran 2×1 meter berisi foto-foto selama mengungsi. Rencananya akan kubuat seperti itu juga selama aku di Papua.

Untuk membuat hal serupa, sejak kedatanganku di pulau yang mirip kapal ini aku mengabadikan setiap kegiatan yang dilakukan, per hari, per bulan.

April ini, aku mulai melihat-lihat foto-foto lagi. Ternyata banyak sekali hal-hal yang tersimpan di memori.

Dari sekian banyak foto yang kusimpan, foto kegiatan bersama anak-anak lah yang paling membuatku berkesan. Aktifitas mereka saat belajar mengajar di kelas, maupun saat kita bermain dan berpetualang di alam bebas, sangat membuatku berdecak. Dari foto-foto itulah aku berinisiatif untuk membuat sebuah proyek dengan pasukanku.

“Kalian pernah tahu ada istilah buku angkatan?”, tanyaku di kelas.

Krik kriiiik….

Hening mengepung kelas kami.

“Buku angkatan itu buku yang berisi kenangan saat di sekolah, biasanya dibuat oleh satu angkatan macam kalian”, kataku, berusaha memasukkan istilah baru ke anak-anak.

Masih belum paham juga ternyata.

“Bentuknya seperti ini, tetapi isinya biodata dan foto-foto kalian.”, aku mengambil buku SOP Pengajar Muda.

“Oh, iyo. Pak guru atur sudah”, Ridwan mulai berbicara.

“Jadi, foto-foto kalian itu kan banyak di pak guru pu laptop. Nanti pak guru kelompokkan foto-foto itu per anak, di buat per halaman, nanti dikumpulkan dalam satu buku. Setiap anak akan mendapatkan satu buku itu. Bagaimana?”, aku terus meyakinkan anak-anak.

“Setujuuuuuuuu!”, semua anak akhirnya berteriak.

“Baik, pak guru minta tolong, ini proyek rahasia. Jangan bicarakan dengan orang lain selain kelas 6. Kalau rahasia ini bocor, pak guru beri sanksi ikat di pohon kelapa di depan sekolah”, kataku sambil tertawa bersama anak-anak.

Aku mulai mencari-cari ide bagaimana desain yang tepat untuk membuat buku angkatan pertama di sekolah ini. Aku tak punya ilmu desain, dan tak pernah mengurus buku angkatan model apapun.

Ya sudah, akhirnya kumainkan semampuku. Kupilih foto-foto dari profil siswa yang kubuat. Lalu dikompilasi dalam satu halaman untuk masing-masing anak.

Menjelang ujian sekolah, kepala sekolah memutuskan untuk meliburkan anak-anak selama 3 hari dengan alasan untuk menenangkan pikiran mereka.

Saat itulah aku bergegas menyelesaikan amanat anak-anak tentang buku angkatan mereka. Sambil bekerja, aku tunjukkan proses pembuatan buku angkatan kepada mereka.

“Asliiii… bagus e”, seru Ruslan. “O, itu foto waktu kitong main di belakang pulau sana”, Kartini menyahut. “Ko lihat Andi itu e, belajar di kelas layooo…mulut sampai menganga begitu. Hahahaha”, Supri mulai berargumen.

Contoh isi buku angkatan, profil Andi Baruan

“Ini belum selesai, baru sampai Muhamad, nanti pak guru teruskan sampai Ona, kalau sudah selesai baru kita cetak. Ingat e, ini rahasia, jadi jangan dibicarakan ke siapapun.”, aku kembali mengingatkan.

“Siaaaaap pak guru”, seru anak-anak.

_____________________________

Pulau Tarak, 12 April 2012.

2 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!