Mar
12

 

Minggu pagi di Trans hujan turun rintik-rintik menunda sinar mentari untuk bersinar di pagi ini. Rencana lari pagi bersama anak-anak yang telah dibuat sejak jauh hari pun terancam batal, padahal saya sudah berpakaian training lengkap siap olahraga. Namun sekitar pukul setengah 7 pagi, Dani dan dyas datang dengan sepedanya untuk menjemput saya. Setelah itu, datang pula Ricky, Bibing dan azis memanggil dari jauh karena malu untuk datang ke rumah. Akhirnya, gerimis tidak menghalangi niat mereka untuk berolahraga bersama saya pagi ini. Kami pun kemudian berjalan kaki tanpa tujuan, yang penting menghirup udara pagi. Ketika anak-anak bertanya kita mau kemana, kami baru memutuskan bahwa kami akan ke sawah.

Jalan-jalan pun dimulai. Setiap melewati rumah anak murid pun saya tidak ragu untuk mampir sekedar berkenalan dengan ibu mereka sekaligus menjalin silaturahmi. Begitu hampir tiba di sawah, rencana pun berganti. Kami ingin memancing juga. Saya hanya mengangguk sambil senyum-senyum karena tidak bisa menolak mereka. Tiba di sawah, pemandangannya begitu indah, namun ternyata airnya sedang kering sehingga rencana memancing gagal berganti dengan rencana pergi ke sungai dimana sungai tersebut terletak lebih ke dalam lagi, hanya satu arti, perjalanan semakin jauh. Oke, sekali lagi saya hanya mengangguk dan tersenyum mengikuti niat mereka. Berjalan melewati sawah, pohon kelapa, bertemu semut krangkang, bekicot, dan anak kucing yang terus mengikuti kami. Akhinya kami tiba di ujung perjalanan ini, anakan sungai Kandilo (sungai yang membentang di Paser) sudah terlihat di depan mata. Anak-anak langsung memancing. Anak laki-laki menjat pohon ramayang (nama buahnya gitu kalau tidak salah :P ) untuk mengambil buah tersebut. Tapi, nyamuk disini banyaaak sekali sodara-sodara, walaupun begitu anak-anak tetap bersemangat mengambil buah. Ketika saya diberin oleh mereka, heem..rasa buah ini masam sekali!! Kemudian ada sepasang kakek dan nenek yang menyeberang dari seberang sungai menggunakan perahu. Anak-anak yang melihat itu langsung excited ingin menaiki perahunya dan menyebrang tapi tentu saja tidak jadi karena kasihan mbah nya.

Ketika itu, terdengar suara teriakan memanggil-manggil nama saya..”Ibuk ajeeng! Ibuk ajeeeeng!” saya yang tidak tahu siapa yang berteriak dan tidak tahu dari mana suara itu berasal, tetap menjawab “ibu disini! Ibu disini!” dan tiba-tiba saja segerombolan anak datang menerjang dermaga kecil yang sudah terisi oleh saya dan beberapa anak. Betapa terkejutnya saya. Darimana mereka tahu saya ada disini, itu yang ada di otak saya. Namun itu semua tertutup oleh rasa senang dan bahagianya saya mengetahui bahwa mereka ternyata semangat untuk mengikuti olahraga pagi. Mereka yang baru datang langsung ikut sibuk mengambil buah padahal mereka tidak tahu nama dan bagaimana rasa buat tersebut. Setelah itu, kami semua diajak ke pondokan sang kakek dan nenek untuk memakan buah tersebut dengan garam. Kami pun duduk di teras pondok sambil memotong buah dan mencocolnya dengan garam. Semua anak langsung mengernyitkan dahi karena rasa buah yang asam. Tanpa malu, mereka pun meminta air putih kepada nenek. Setelah buah hampir habis, kami pun ijin pamit dan tidak lupa berterimakasih atas kebaikan sang nenek dan kakek. Kami berjalan pulang dengan terik mentari yang sudah lumayan tinggi, menandakan bahwa sudah lewat pagi. Anak-anak pun berjalan cepat dan tidak lupa sambil bermain,entah bermain tebak-tebakan, berjalan sambil lompat-lompat, dan bernyanyi-nyanyi. Setelah lewat sawah dan mulai masuk jalur dusun, kami pun berpisah sesuai jalur rumah masing-masing. Tidak lupa mereka berpamitan dan saya mengucapkan terima kasih. Saya pun pulang dengan gembira, karena walaupun lari pagi tidak berhasil namun bermain bersama mereka tidak kalah mengasyikkan bahkan sampai membuat lupa waktu :D

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!