Sekelumit Pembuka: Catatan FKPD 2019

Oleh: Afif Alhariri Pratama | 24-10-2019

Cuaca di Bima sedang panas-panasnya. Saya melihat HP, mengecek info cuaca, dan mendapatkan angka 34 derajat celcius di keterangannya. Listrik sedang padam. Kipas angin yang membantu menghalau cuaca panas kini terdiam kaku di pojok ruangan. Pintu dibuka lebar-lebar berharap ada tamu masuk berupa angin segar yang menyapa. Meski hanya sepersekian detik saja.

Tetapi di tengah-tengah cuaca yang sedang panas-panas itu saya menemukan kesejukan. Wajah bapak-ibu penggerak pendidikan yang sedang sibuk mengerjakan worksheet Design Thinking for Social Innovation. Mereka berdiskusi, memberikan pandangan, sesekali tertawa-tawa karena mengingat pengalaman-pengalaman menyenangkan saat bergerak untuk pendidikan di daerahnya. Keseruan ini dikumpulkan dalam sebuah forum bernama Forum Kemajuan Pendidikan Daerah 2019 yang dilaksanakan di Bima (21-24 Oktober 2019)

Mereka bapak-ibu yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Aceh Singkil, Natuna, Musi Rawas, Muara Enim, Musi Banyuasin, Hulu Sungai Selatan, Sabu Raijua, Kepulauan Sula, Maluku Barat Daya, Kepulauan Tanimbar, Konawe, Banggai, Kepulauan Sula, Bima, Kepulauan Yapen, dan Pegunungan Bintang Papua. Mulai dari staf ahli bupati, asisten tiga bupati, kepala dinas, kepala bidang, kepala sekolah, guru, pemuda pendiri taman baca, polisi, pendeta, dan berbagai latar belakang lainnya. 

Kesejukan pemandangan itu membawa imajinasi saya liar ke udara. Saya membayangkan anak-anak Indonesia di masa depan akan semakin menyenangkan. Mereka berangkat ke sekolah akan bertemu guru-guru terbaik, melihat kepala sekolah yang keren, berteman dengan anak-anak yang dididik oleh orang tua hebat. Ketika pulang di jalan akan melihat polisi yang peduli, pendeta yang sejuk, dan anak-anak muda kreatif. Kesempurnaan itu didukung oleh pihak pemerintah daerah yang supportif dalam mendukung kebijakan kemajuan masyarakat.

Tiba-tiba saya tersenyum. Melihat lilin harapan yang menyala. Kemudian listrik kembali menyala. Sungguh semesta begitu ajaib skenarionya.