Korps Pengajar Muda

Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda: ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi.

Mar'atis Sholikhah

Anak bungsu dari dua bersaudara ini merupakan seorang Sarjana Psikologi yang menempuh studi S1-nya di Universitas Indonesia. Keinginan besarnya selagi masih muda adalah menjejak tanah-tanah baru dan belajar dari alam maupun manusianya. Saat kuliah, gadis yang akrab disapa Atis ini mulai merasakan realita masyarakat secara intensif ketika ia melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (K2N) di Kabupaten Lebak, Banten. Pengalaman yang diukir bersama teman-teman K2N membuat dia kecanduan untuk mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. 

Pada awal tahun 2018, Atis berangkat menjadi Pengajar SD di Kabupaten Pangandaran dalam rangkaian kegiatan Gerakan UI Mengajar. Di sana Atis bertemu dengan guru honorer yang gajinya terbatas namun memiliki semangat yang tinggi untuk mengajar. Atis juga bertemu dengan wali murid yang antusias menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Pada saat yang sama Atis merasakan kepuasan tiada duanya dalam membersamai murid belajar hal-hal baru. Atis semakin tertarik untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Pada Juli 2018, Atis terpilih menjadi Kakak SabangMerauke (KSM) untuk mendampingi Adik SabangMerauke (ASM) berkegiatan di Jakarta. Berkat SabangMerauke, Atis berinteraksi secara intensif dengan ASM dan Famili SabangMerauke (FSM) yang berbeda latar belakang dengannya. Atis belajar lebih jauh mengenai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan. Atis semakin percaya bahwa Indonesia sangat kaya dan beragam dan masyarakatnya harus terus memperjuangkan kesatuan dan persatuan.

Pada Agustus 2018, Atis mengikuti kegiatan Nganget Internatonal Workcamp di Dusun Nganget, Kabupaten Tuban bersama mahasiswa Indonesia dan Jepang. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Leprosy Care Community Indonesia ini bertujuan untuk meengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta. Atis mulai membuka mata bahwa orang yang pernah mengalami kusta sangat rentan terhadap pengucilan walaupun sudah dinyatakan sembuh. Anak-anak di sana juga rentan mengalami diskriminasi akibat sejarah keluarga mereka. Padahal, anak-anak tidak pernah dapat memilih dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Atis berkesimpulan bahwa segenap warga negara adalah orang yang dapat membantu anak-anak tumbuh bahagia dan menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab.

Dimanapun seorang anak lahir dan tumbuh, dia pantas untuk dihargai dan diperjuangkan. Oleh karenanya Atis memilih untuk terlibat dalam gerakan dan menjadi Pengajar Muda di SD Inpres Kabau Darat, Desa Kabau Darat, Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kepulauan Sula.

Connect