Korps Pengajar Muda

Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda: ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi.

Hitznaiti Zaidini' Khul Husna

Gadis asli Jawa ini memiliki nama lengkap Hitznaiti Zaidini’ Khul Husna. Orang-orang disekitarnya biasa memanggilnya Husna. Lahir di Semarang 21 tahun yang lalu bertepatan dengan malam tahun baru. Memperoleh gelar sarjana dari jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Mengenyam pendidikan di Teknik Geologi membuat Husna memiliki hobi menjelajah dan memahami alam. 

Melihat Indonesia merupakan negara yang bukan hanya kaya akan sumber daya alam namun juga kaya akan bencana membuat Husna konsen mengaplikasikan keilmuannya untuk kegiatan sosial di bidang mitigasi kebencanaan. Hal itu terwujud dalam keterlibatannya di organisasi Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia (SM-IAGI) yang salah satu konsen kegiatannya yaitu penyuluhan mitigasi bencana di wilayah rawan bencana. Di kampus, iamengikuti organisasiHimpunan Mahasiswa Teknik Geologi UGMsebagai bendahara umum, dan Sentra Kerohanian Islam Geosalmasebagai Ketua Divisi Kemuslimahan.Selain itu ia juga aktif sebagai asisten Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia.  

Semasa menjalani perkuliahan,Husna juga berkontribusi didunia penelitian. Hal ini di wujudkan dengan beberapa karya ilmiah yang di publikasikan di beberapa jurnal. Karya ilmiah tersebut antara lain dipresentasikan dalam acara Seminar Nasional Kebumian 10, Jurnal Pengabdian Masyarakat, International Conference Science and Technology, dan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition.

Mengikuti Indonesia Mengajar merupakan salah satu mimpi yang ingin dilakukan Husna semenjak pertama kali mendengarnya 6 tahun yang lalu. Keinginan yang kuat untuk mengabdi itulah yang membuatnya langsung ingin mengikuti gerakan ini sesaat setelah lulus dan ditempatkan di Kepulauan Yapen, Papua Barat.