Korps Pengajar Muda

Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda: ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi.

Adzhani Fatimah Az Zahrah

Di bawah naungan Indonesia Mengajar, perempuan berdarah Jawa, Ternate, dan Betawi yang bernama lengkap Adzhani Fatimah Az Zahrah ini lebih akrab dipanggil dengan panggilan Adiz. Ia merupakan anak kedua dari 4 bersaudara dari pasangan Bapak Agus Sudarmadi dan Ibu Nurlaila. Ia merupakan seorang sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, dengan menempuh program studi Jurnalistik.

Sejak sekolah, Adiz sudah tertarik dengan dunia cerita dan tulis-menulis. Hal tersebut menurun dari sosok lelaki yang selalu ia kagumi dan menjadi nomor satu dalam hidupnya, Ayahnya. Ketika SMA (2011), cerita pendeknya yang berjudul Bujur Sangkar dan Murglemasuk ke dalam jajaran 20 besar di kompetisi E-LoveStory yang diadakan oleh nulisbuku.com. Ketika kuliah pun, Adiz menjadikan menulis sebagai ladang untuknya mencari uang tambahan. Ia menulis cerita maupun berita untuk media onlineatau cetak. Ikut dalam Indonesia Mengajar, Adiz membawa sebuah misi, yaitu untuk mengumpulkan beragam cerita dari ujung negeri.

Besar di keluarga yang peduli dengan pendidikan dan aktif berkegiatan sosial membuat Adiz turut memiliki semangat yang sama. Semasa kuliah, Adiz pun menjadi bagian dari komunitas Jatinangor Edu Caredan menjadi pengajar bidang seni di salah satu sekolah dasar di Jatinangor. Semasa kuliah, Adiz juga menjadi penyiar di Radio Mahasiswa Unpad. Pada saat yang sama, ia juga dipercaya menjadi Manager of Creative and IT Productiondi radio tersebut. Selain itu, ia juga mengurus desain artistik untuk majalah fakultasnya, dJatinangor.

Selepas kuliah, Adiz kembali ke Jakarta dan bekerja di salah satu media aggregator sebagai koordinator kontributor. Karena menyukai tantangan, belum setahun ia bekerja, ia sudah dipercaya untuk mengepalai (menjadi manager) salah satu divisi di kantornya. Namun pencapaiannya tersebut masih dirasa kurang pas oleh Adiz. Ia masih ingin berkontribusi secara nyata untuk perbaikan masa depan bangsa. Karenanya, ia memutuskan keluar dan mengejar apa yang diinginkan hatinya melalui Indonesia Mengajar.