09
Hari ini saya mendapat kejutan yang menyenangkan. Dua orang Pengajar Muda angkatan pertama: Faisal Effendi dan Rusdi Saleh datang ke kantor Indonesia Mengajar menjelang kembali ke daerah penempatan mereka. Lebih mengejutkan lagi, Faisal mengeluarkan dua kotak telur asin Brebes dari tasnya.
Telur asin yang dibawa Faisal memang unik. Aku seolah melihat wajah ibuku di sana. Ya, aku memang suka telur asin. Tetapi, kesukaanku pada telur asin mungkin tidak akan pernah mengalahkan kasih sayang ibu kepadaku: beliaulah yang memperkenalkanku dengan 'makanan ajaib' itu.
Ketika aku kecil, ibu pernah menekuni usaha rumah tangga: produksi telur asin. Produknya dijual di sejumlah pasar di Yogyakarta. Kalau ada yang pernah melihat telur asin dengan stempel bergambar Donal Bebek dengan label "Syah Product", hampir bisa dipastikan itu produksi dapur kecil di rumahku. Pilihan ibuku menekuni usaha rumah tangga itu ternyata mempunyai beberapa pertimbangan filosofis: selain untuk menyemai jiwa wirausaha dan memperkuat ekonomi rumah tangga, ibuku tidak ingin jauh-jauh dari putra-putranya yang masih kecil.
Di sela-sela kesibukannya itu, ibuku masih sempat mengajariku membaca, mengeja kata-kata dan memperkenalkan Indonesia lewat peta yang ia belikan kepadaku waktu kecil. Aku bisa membaca ketika usiaku belum ada lima tahun. "Mungkin karena dulu sering makan telur asin, ya Bang," ujar ibuku suatu waktu. Aku tersenyum. Yang jelas, kesukaanku yang dimulai dari makan telur asin rusak (karena pecah ketika direbus) itu, tidak mengenal kata 'dulu'. Telur asin selalu mengingatkanku kepada ibuku, hingga hari ini. 1)
Ibuku memang berhenti memproduksi telur asin ketika kami mulai beranjak besar. Di samping karena pernah sakit yang membuatnya keguguran dua adik terkecilku, beliau akhirnya memutuskan bekerja sebagai pekerja sosial di sebuah NGO internasional. Ya, ibuku--sang produsen telur asin itu--memutuskan bekerja di lembaga yang bertujuan mendorong anak-anak kecil di Kabupaten Gunung Kidul untuk bersekolah. Dalam sistem lembaga itu, sejumlah orang tua angkat di luar negeri akan menyekolahkan anak-anak SD di kabupaten yang dulu dikenal kering dan gersang itu. Ibuku yang ikut menghubungkan mereka. Beliau menjalaninya selama hampir 14 tahun: setiap hari ia sedikitnya menempuh jarak 80 km dengan sepeda motor dan angkutan umum untuk menjalankan passionnya.
Passion itulah yang diturunkan ibu kepadaku. Terpisah jarak dengan Pengajar Muda yang sedang ditempatkan, di sinilah aku sekarang: di kantor Indonesia Mengajar di Jakarta, mendukung mereka melalui upaya serius memperkenalkan gerakan ini kepada publik. Harapan saya, agar semakin banyak yang peduli pendidikan di negeri yang dulu daerah-daerahnya hanya aku kenal lewat peta ini.
Aku juga terpisah kota dari ibuku yang saat ini menikmati usia tuanya bersama ayah. Beliau kini tidak membuat telur asin, tetapi kini membuat jamu untuk mengisi waktu. Mudah-mudahan beliau bahagia di Yogya. Hari ini, aku mensyukuri lagi bahwa produsen telur asin--perempuan perkasa itu-- mengajariku membaca dan mengenal Indonesia sejak kecil.,
**** (09.09.2011, satu hari menjelang usia 71 tahun ibuku)
Catatan:
1. Di kemudian hari, aku belajar tentang indahnya menekuni usaha makanan. "Dalam kondisi sepahit apapun, makanan itu bisa kita makan," ujar Lee Iacocca dalam autobiografinya "IACOCCA". Ia mengenang masa kecilnya di mana ibunya membuat salah satu gerai pizza pertama di Amerika di masa krisis di tahun 1930-an. Seorang icon besar yang pernah menjadi CEO Ford, Chrysler dan Coca Cola itu membuatku semakin yakin: ibuku menyayangiku.

3 Komentar
mutmainnah
Tahukan para Pengajar Muda? Demi mencukupi biaya hidupku yang bersekolah diluar, Ayahku menjahit sampai pagi setiap harinya, disaat semua orang tertidur lelap akan terdengar suara machine motor yang diinjak ayahku hingga semua pekerjaannya selesai, Ayahku tidak hanya menjahit baju akan tetapi juga menjahit jala ikan untuk kapal yang jumlahnya ribuan meter..Subhanallah, airmataku berderai saat mengingatnya.
Hingga menjelang aku tamat SMA, aku masuk ke UNDIP dari jalur khusus, akan tetapi terpaksa aku lepaskan karena masalah biaya, aku terpaksa pulang ke desa. tapi kemudian aku kembali melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta di Medan, aku paksakan keadaan itu walaupun orang tuaku tidak sepenuhnya sanggup secara materi, hingga pada 2010 akhir kuliahku kelar..
Alhamdulillah, kini aku telah bekerja dipengolahan limbah minyak bumi di Riau dan Insya Allah akan melanjutkan magister di jogja dan sekali lagi, setelah mengetahui keputusanku, ayahku adalah orang yang paling semangat, kadang aku merasakan semangatnya melebihi yang aku punya.
Tahukah Pengajar Muda, sampai saat ini yang membuatku sedih bahwa di daerahku pendidikan masih belum berkembang dengan baik, sejak 2004 rata-rata pemuda desa berlomba untuk menjadi honorer yang tujuan akhirnya ingin menjadi PNS. Aku pernah terkejut tentang tenses yang dikerjakan adikku,formulanya salah namun ketika ingin kuperbaiki dia bilang itulah yang diajarkan guru mereka. memang mayoritas guru honorer yang ada disana adalah putra daerah yang sekolah didesa juga, dan sebelumnya kemampuan merekapun kurang memadai.. bukankah seharusnya seorang guru adalah orang yang pintar, yang cerdas,dan mengetahui banyak hal bukan cuma untuk bergaya atau mengejar jabatan tetap sebagai PNS akan tetapi itulah realita yang terjadi di desa-desa di pelosok negeri.
Dengan adanya program ini, Segala Puji Bagi Allah Yang menggerakkan putra-putri terbaik bangsa untuk mencerdaskan anak-anak bangsa yang tak tersentuh kesejahteraan yang seharusnya. semoga program pengajar muda ini akan sampai ke desa saya, kami menunggu Pengajar Muda di Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Terima Kasih
Israr Ardiansyah
Selamat kepada Anda yang sangat percaya akan arti penting pendidikan di tengah segala kesulitan yang ada. Anda akan terus berhasil dan menginspirasi orang-orang terdekat di sekitar Anda. Semoga pula, Tuhan selalu melindungi dan memudahkan kita memenuhi janji kemerdekaan kita ini: mencerdaskan saudara sebangsa.
Doakan pula, Indonesia Mengajar terus tumbuh dan berkembang sehingga kita semua bisa segera memenuhi harapan banyak pihak. Meskipun begitu, diharapkan banyak inisiatif lain yang dikembangkan oleh berbagai pihak lain dengan cita-cita yang sama memajukan pendidikan Indonesia.
Salam dengan segala hormat...
membacaindonesia
Tinggalkan komentarmu