Jun
22

Dulu, bahagia menurut Agung Rangkuti begitu eksklusif dan rumit. Traveling ke tempat keren, foto ala selebgram, makan enak, pakaian dan gaya rambut terkini, tidur di kasur empuk, punya banyak teman, dapat pengakuan sosial, ingin diterima dan dihargai.

Dulu, sebelum ia menjadi Pengajar Muda XII di Kepulauan Yapen, Indonesia Mengajar. Kesempatan satu tahun melihat Indonesia di pelosok timur, mengubah definisi bahagia Agung.

"Sekarang dan seterusnya, bahagiaku sederhana. Sesederhana menikmati sagu bakar yang "dicolo" ke teh manis di pagi hari. Menikmati foto selfie berkali-kali dengan anak-anak. Menebar senyum setiap hari kepada mama-mama di desa.

Bahagiaku tidak serumit yang dulu. Nyatanya, pulang ke dalam diri untuk mensyukuri apa yang ada di sekitar lingkungan kita, akan lebih membahagiakan daripada memaksakan apa yang jauh di depan mata."

Mari mewujudkan kehadiran Pengajar Muda di lapangan dengan menjadi mitra Indonesia Mengajar. Seperti PT Everbesindo Surya Jaya yang mendukung kehadiran Agung Rangkuti di Kepulauan Yapen. Karena pendidikan Indonesia adalah misi besar kita bersama.


0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!