Jan
30

 

"...(ini ceritanya Quote)..."

-Sutan Sjahrir

(nah, biarlah nama salah satu bapak pendiri bangsa itu yang menjadi kisi-kisi atas tulisan saya dan quote di atas. Boleh kan kasih kisi-kisi juga seperti KPU kemarin? :p )

*

Saya akan mengawali tulisan ini dengan cerita rekan saya beberapa waktu lalu di Pegunungan Bintang, namanya Citra. Ia bercerita tentang tiang bendera sekolahnya yang patah di saat muridnya ingin sekali melaksanakan upacara. Lantas apa yang terjadi? 5 menit sebelum dimulai, salah satu murid - namanya Dobalikus Kalakmabin - bergegas pulang ke rumah mengambil parang dan masuk ke hutan. Tak lama kemudian ia datang kembali sambil menggotong kayu yang didapat. Mereka tancap sama-sama di lapangan, upacara dimulai. Sederhana (?).

Cerita itu mungkin mengingatkan kita juga akan aksi Joni yang memanjat tiang demi membetulkan bendera yang tersangkut agar upacara tetap berlangsung tengah tahun lalu di NTT.

Dan bagi saya sendiri, juga mengingatkan kepada banyak kisah lain dari teman-teman Pengajar Muda yang sedang bertugas di 11 titik yang (kata orang) jauh dari Jakarta (tapi sebenarnya masih Indonesia yakan??). Di sana jamak sekali ditemui cerita tentang pertaruhan dan perjuangan untuk meraih sesuatu yang mungkin bagi kita di sini sederhana, tetapi sesungguhnya hal tersebut merupakan kemenangan-kemenangan bagi mereka, dan juga Indonesia.

Saya bisa menyebut beberapa di antara jutaan cerita seperti: anak SMA yang setiap hari harus PP (pulang pergi) ke sekolah menyeberangi ombak musim utara dari pulau Batu Berian ke pulau Serasan, murid yang sabar menanti surat-surat balasan dari kakak sahabat pena di negeri Cina, pelan-pelan lobi kanan kiri dan menggalang bantuan untuk bisa mendirikan PAUD di kampung Baisore, memutuskan untuk berangkat sekolah di antara dua rute yang sama terjal (menerobos pesisir hanya jika air surut atau menyusuri dua bukit yang licin pasca hujan), seorang bapak yang bersuka cita keluar desa berjam-jam agar mendapat sinyal untuk menelpon anaknya yang bersekolah di luar, berusaha belajar menembus gelap di kala listrik telah padam 3 bulan karena BBM untuk menyalakan diesel sudah habis, dan banyak kisah lainnya - atau dalam makna sesungguhnya - banyak kisah perjuangan lainnya masih terjadi di sudut negeri yang mungkin tak pernah kita lihat di line today/ IG stories kita.

Apa yang saya pelajari dari kisah tersebut? Sepertinya besar pertaruhan/ perjuangan lah yang akan mempengaruhi besar kemenangan dan rasa puas yang dirasa.

Coba kalau kita ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kita merasa benar-benar menang? Kapan terakhir kali kita merasa lega atas pencapaian hari ini? Dan memulai esok hari dengan suka cita? Atau..kapan kita merasa makan nasi dan membaca buku terasa begitu penuh syukur dan nikmat? Serta melaksanakan upacara yang rasanya begitu khidmat karena sebelumnya baru saja melihat sendiri potongan "scene" perjuangan seorang anak membawa kayu untuk ditancap di depan mata kita sendiri?

Tapi mungkin saya bodoh sekali jika percaya teman-teman (terutama di umur muda ini) sudah cukup capek menghadapi macetnya Jakarta, galau berkepanjangan ketika sinyal wifi kedat kedut, kzzlll di-cancel abang ojol berkali-kali di kala hujan, emosi tingkat dewa dengan sesaknya KRL Bogor - Jakarta, atau mungkin makan hati unfriend-unfriend di tahun politik. Mungkin bodoh sekali saya jika punya prasangka bahwa teman-teman, Anda semua, saat ini tak memiliki bayangan lain untuk memenangkan Indonesia selain melalui pemilu yang akan berlangsung sebentar lagi (saya yakin Anda pun sudah mempelajari betul tentang kandidat kan?).

Karena toh nyatanya sampai sekarang, banyak sekali teman Anda, teman kita, yang memilih untuk terjun melebur ke masyarakat, dan bersama masyarakat memenangkan Indonesia sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, satu loncatan demi satu loncatan lain yang lebih jauh. Dari tahun ke tahun, secara estafet mereka bekerja bergantian untuk memenangkan Indonesia dari sudut-sudut yang mungkin namanya saja asing bagi mereka sebelumnya. Dan mereka pun sama seperti teman-teman. Ada yang baru lulus dari kampus yang baik, dari jurusan yang sangat beragam, setengahnya pun pernah bekerja di lantai-lantai yang tinggi di Sudirman - Kuningan, atau beberapa dari start-up hits juga..

Oleh karena itu, saya di sini sebenarnya hanya ingin menantang dan mengganggu teman-teman semua dengan satu pertanyaan,

"Gelisahmu tentang negeri ini lebih besar dari sekedar galau tak ada sinyal dan yakin kegelisahan tersebut hanya bisa dilunasi dengan ikut berjuang secara langsung?"

Masuklah. Daftar sekarang. Saya mendesak Anda agar tidak menyesal karena pernah melewatkan once in a lifetime opportunity ini. Karena waktunya pun sudah sangat mendesak, besok kami akan tutup. Tapi sejarah pun membuktikan, waktu yang sempit serta desakan-desakan acap kali mendorong lahirnya keputusan besar dan arah baru bagi negeri kita bukan?

Karena seperti yang dikatakan Sjahrir pada quote di atas, "Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan dimenangkan".

Sekian.

Salam hangat,

 

Satria

Indonesia Mengajar

bit.ly/DAFTARPM18


0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!