Sep
05

Bangunan sekolah tiga lokal itu berdiri hening di antara kantor-kantor perangkat dusun yang terbengkalai. Riuhnya anak-anak bermain jadi satu-satunya penanda aktivitas sekolah itu tetap berdenyut sementara bangunan yang lain lumpuh fungsi. Prasasti semen dekat pagar beri terang sekolah itu punya nama: SDN Oi Marai, Kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Letaknya di tepi jalan batu yang menyusuri kaki anak gunung, menghadap ke Laut Flores.

Matahari baru menghangatkan pagi, mengganti dingin yang dihembuskan angin gunung sepanjang malam. Saya mengayun langkah satu-satu menuju sekolah, menapaki jalan perkampungan yang sepi ditinggalkan penghuninya. "Bu Guru!" terdengar seruan memburu dari belakang. Ternyata Jun, siswa kelas 1. Dia berlari tertatih lalu menyambar tangan kanan saya, menggamitnya cepat. Kami berjalan bersisian menuju sekolah.

Jun termasuk generasi pertama anak yang terlahir di kampung transmigrasi berusia enam tahun ini. Ayahnya berasal dari Kota Bima, mencari nafkah di Oi Marai sebagai nelayan dan petani kacang mete. Selain transmigran lokal dari Bima seperti keluarga Jun, ada pula pendatang dari Lombok. Mereka punya sudut mata yang sipit, sebagian berkulit terang dengan rambut kemerahan, lainnya berkulit gelap dengan rambut legam.

Tambora merupakan daerah tujuan transmigrasi di Nusa Tenggara Barat. Kepadatan penduduknya yang paling rendah di Kabupaten Bima maupun Dompu membuatnya ideal sebagai lokasi pemindahan penduduk dari tempat yang sudah kelewat sesak. Selain peserta transmigrasi lokal, ada pula transmigran dari suku Timor, Bali, Minang, Jawa, sampai Sunda. Di sini mereka melebur dan menyandang identitas baru sebagai orang Tambora.

Kelompok anak Lombok biasa bermain dipayungi rindangnya pohon sambi besar di depan sekolah. Di lapangan, beberapa murid lelaki sedang menggambari pasir, yang wanita seru mengobrol bergerombol di pojokan. Sementara, petugas piket sibuk menggosok lantai kuat-kuat, menghilangkan kotoran sapi dan kambing dari keramik teras. Ternak di Tambora memang dilepas liar sehingga selalu buang kotoran di mana saja.

Saya dan Jun berpisah di dekat pohon, segera dia melesat ke arah kelasnya. Lantas saya meniti undakan batu menuju ruang kelas 6 yang terletak di sebelah atas. Kesembilan murid saya sudah lengkap menunggu. Subhan, Ruhil Hidayat, Laeli Isnaen, Haryati, Ernawati, Riansyah Anwar, Hariyanto, Suharni dan Jerni Jakaria. Demikianlah kami memulai pagi, hari sekolah terakhir sebelum libur memasuki Bulan Ramadhan.

Hari itu kami belajar menulis Daftar Riwayat Hidup. Mereka kebingungan mengisi tanggal lahir. Entah mengapa, murid-murid saya tak satupun yang punya tanda bukti resmi mengenai kemunculannya ke dunia. Alhasil, waktu lahir mereka pun dikira-kira sekenanya. Alasannya, dulu orang tuanya sembarang menulis tanggal kelahiran di dinding atau balik pintu. Begitu rumah dilabur atau mengganti pintu, hilanglah sejarah itu.

Karena itu, murid-murid saya tak pernah hirau kapan dia berulang tahun. Apalagi, rewel menuntut kado atas perayaan kelahirannya. Secara kebetulan, saya membuka buku rapor Haryati untuk mencari tanggal lahirnya dan menemukan bahwa dia berulang tahun pada hari itu. Maka ketika ternyata Haryati berulang tahun ke-12 tepat tanggal tersebut, mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan kikuk karena tak terbiasa.

Selain tak banyak menuntut, anak-anak Tambora pun amat sigap membantu orang tua. Setiap pelajaran usai, ketiga murid laki-laki itu selalu menunggui saya selesai beres-beres. Kadang proses ini lebih cepat karena murid wanita sering berinisiatif menyusunkan alat tulis saya. Setelah saya keluar, tanpa diperintah siapapun mereka memastikan semua jendela tertutup dan mengunci pintu agar kelas tak dimasuki ternak.

Saya jadi teringat cerita Edward Suhadi di Halmahera Selatan yang dia bagikan saat pembekalan Pengajar Muda (PM) angkatan II, dua hari sebelum kami diberangkatkan. Dia amat terkesan ketika seorang bocah Halsel membantunya membersihkan celana tanpa diminta. Kurang lebih, dia berujar bahwa anak-anak di daerah penempatan PM lebih penolong dibanding anak-anak kota yang cenderung manja dan egois.

Anak-anak Tambora tumbuh dibesarkan alam. Mereka belajar berjalan di atas bongkahan padas, berlari di antara belukar ilalang, berenang di jeram deras, dan berburu burung di hutan. Nyaris tanpa televisi, video game, boneka Barbie, iklan-iklan konsumtif, jajanan warna-warni, mode baju terkini, atau telepon genggam tipe terbaru. Keterbatasan hidup perlahan membentuk mereka menjadi pribadi yang sederhana sekaligus meringankan.

Namun sekarang mereka pun mulai mengerti bahwa ada masa depan lebih baik yang bisa diperjuangkan. Ketika hari pertama belajar dengan saya, Rian tadinya bilang dia tak punya cita-cita. Sekarang dia bisa menulis bahwa ingin menjadi "montir/ahli teknik bengkel". Subhan dan Anto bercita-cita jadi tentara, Ruhil ingin menjadi wartawan, sementara Eli, Suharni, Erna, Jerni, dan Haryati kompak ingin menjadi dokter.

Mereka anak-anak Tambora, energi saya. :)

3 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!