Jan
05


Terjebak dalam percakapan bahasa Melayu... menebak-nebak apa yang sedang dibicarakan. Are they talking about me?


Terjebak dalam percakapan bahasa Batak... umm,,, cuma tahu arti piti (baca: uang) doang


Pertama kali saya mengajar di SDN 028 Tengganau sangat terasa efek bahasa yang saya gunakan. Saya mengajar dengan bahasa Indonesia yang lengkap, bisa dikatakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dimana, anak-anak tidak terbiasa berbicara dan mendengarkan seseorang berbicara dengan bahasa Indonesia seperti saya.


Biasanya guru-guru mengajar dengan bahasa Melayu atau Batak, dan kalaupun menggunakan bahasa Indonesia, logat atau cengkok-cengkok nada dalam kata-kata tetaplah dengan cengkok bahasa daerah.


Jadilah saya hari ini, berbicara dengan bahasa Indonesia, dan anak-anak kelas 6 memperhatikan dengan sorot mata yang jelas sekali bahwa mereka berusaha memahami kata-kata saya sekaligus merasa aneh dengan penggunaan bahasa Indonesia dan logat saya.


Saya mendapati bahwa seperti itulah raut muka dan sorot saya ketika saya berada dalam percapakan bahasa Melayu maupun Batak. Raut muka heran dan berusaha memahami apa yang dibicarakan.


Ditatap seperti itu oleh anak-anak ini, saya merasa aneh dan kikuk. It’s like I wanna say,’ alright, stop looking at me like that. I’m not alien, I’m speaking in human language here’.


Dan mungkin, perbedaan bahasa dan logat saya inilah yang membuat anak-anak kelas 4, tidak memperhatikan instruksi saya untuk tertib. Well, mungkin bayangkan saja logat orang Jawa (me) dan orang Batak (bahasa sehari-hari anak-anak).


If only I speak the language, akankah tujuan belajar dan mengajar saya akan lebih mudah tercapai? It’s kinda likely.


Akan belajar bahasa Batak dan logatnya, meskipun akan merasa sedikit aneh dan canggung. Sayangnya tidak ada kamus bahasa Batak atau buku ‘Menguasai bahasa Batak sehari-hari’. Maka, nampaknya saya akan butuh kursus privat.

1 Komentar
  • alex
    Untuk Pengajar Muda (PM) 1 dan 2, dimana saja berada., pembawa pesan pertama dari Gerakan Indonesia Mengajar ke pelosok Nusantara. Setelah selesai mengabdi, adakah mimipi/ keinginan/ rencana untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat GIM menjadi gerakan bersama yang diketahui dan dimiliki semua rakyat Nusantara serta menimbulkan niat tulus dari rakyat di Nusantara ini untuk berpartisipasi dalam Pendidikan, baik secara langsung maupun tidak.
    Karena untuk menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, hanya dengan pendidikan. Dan pendidikan membutuhkan dana dan gerakan bersama, karena tanpa itu, kita tidak dapat menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, dan akhirnya Mutiara Nusantara akan hilang ditelan waktu.
    Akankan ini terjadi lagi dan lagi, tanpa bisa kita cegah dan hancurkan?.
    Sanggupkah Mutiara Nusantara kita, menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan itu dengan kekuatannya sendiri ?.
    Jadikan GIM sebagai pembuka jalan tetapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya karena tanpa adanya bantuan dari kita, rakyat nusantara lainnya, Mutiara Nusantara akan menemui kesulitan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu dirinya, mari kita bantu mereka, bisakah PM 1 dan 2, sekali lagi berpartisipasi menemukan jalan keluarnya.
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!