Jan
05

"There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle." Albert Einstein

Saya ditempatkan di desa Tengganau, kecamatan Pinggir, kabupaten Bengkalis. Desa ini terletak kurang lebih dua atau tiga kilo meter dari jalan raya utama. Hamparan sawit dan karet di sepanjang jalan menuju desa, dan masih berlanjut jauh sampai ke daerah yang lebih dalam. Tempat ini adalah surga, surga bagi para pengusaha sawit dan karet. Beribu-biru hektar sawit dan karet memenuhi sepanjang desa, bahkan sepanjang kecamatan Pinggir, dan masih banyak lagi. Tempat ini juga surga untuk warga yang tinggal disini. Daerah ini adalah rumah mereka. Sesederhana apapun rumah kayu yang mereka miliki, tanpa listrik dan hanya berbekal sebuah mesin diesel tua yang dinyalakan saat pukul enam sore dan sepuluh malam saat menjelang tidur.

Lahan perkebunan dimiliki oleh pengusaha dari daerah lain, atau sebuah PT yang membuat perumahan sendiri di daerah sekitar dua kilometer dari rumah yang saya tinggali. Rumah-rumah sederhana yang terkota-kotak, listrik yang dinyalakan sesuai aturan PT, 6 sore sampai 10 malam.

Terdapat dua sekolah terdekat dari desa Tengganau, sekolah dimana anak-anak warga mengenyam pendidikan mereka. SD Negeri 28 Tengganau dan SD 02 Balai Pungut merupakan SD terdekat dari tempat tinggal mereka. Namun demikian, jarak yang harus ditempuh menuju SD tersebut masih tidak dapat ditempuh  dengan jalan kaki. Jaraknya berkisar antara 2 sampai 3 kilo dari rumah mereka. Dipagi hari, para orang tua akan mengantar anak-anak mereka kesekolah sebelum bekerja di perkebunan.

Mereka, orang tua ini, berjauh-jauh dan meluangkan waktu untuk mengantar anak mereka ke sekolah, sungguh tepat jika kitakan bahwa para orang tua ini menitipkan anak-anak mereka ke sekolah untuk dididik menjadi pribadi yang berkarakter dan untuk menjadi seseorang yang kelak bisa memberikan kebahagiaan untuk orang tuanya. Menjadi seseorang yang bisa dibanggakan.

Namun... sejauh ini, pendidikan yang mereka dapatkan masih belum bisa membawa mereka menuju tempat yang lebih tinggi. Pada akhirnya, mereka akan berakhir mengikuti jejak sang orangtua or worse... atau juga bekerja pada perkebunan milik orang lain... dan masih merupakan suatu impian bahwa perkebunan sawit dan karet yang maha luas itu adalah milik anak-anak desa sendiri...

Motivasi belajar adalah kunci keberhasilan... baik dari sang orang tua maupun guru-guru yang telah dititipkan oleh sang orang tua untuk mempersiapkan masa depan buah hati mereka...

Dukungan dari seluruh pihak sangatlah diperlukan. Apalah artinya saya seorang diri yang masih nol dalam mempelajari kehidupan ini untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Saya hanya bisa berusaha semampu otak dan tenaga saya. Saya ada disini dengan sebuah misi untuk membantu mereka meraih mimpi, namun saya sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa selama orang tua, guru, dan lingkungan tempat mereka berada tidak memberikan dukungan dan perhatian yang penting adanya.

Pagi ini, saya melangkahkan kaki ke sekolah, SDN 028 Tengganau, untuk pertama kalinya. Saya belum mengenal siapapun kecuali sang kepala sekolah. Namun tanpa saya duga, saya disambut hangat oleh makhluk-makhluk kecil yang bersahutan menyapa dan memanggil ‘ibu...’ kemudian tersenyum malu-malu, ada juga yang lari bersembunyi lalu mengintip dari balik jendela kelas.

Inikah binar mata mereka?

Inikah senyum kecil mereka?

Sungguh ajaib efek sebuah senyuman kecil dan sederhana namun tulus bagi jiwa seseorang. Bagi jiwa saya. Kemudian saya kembali memikirkan esensi kehadiran saya. Saya disini bukan untuk membantu mereka meraih mimpi, namun untuk memberikan hak-hak mereka. Bahwa mereka berhak memperoleh pengetahuan akan alam ini. Bahwa mereka berhak atas kesempatan-kesempatan kehidupan yang lebih tinggi. Saya bukanlah tokoh utamanya. Merekalah tokoh utamanya. Saya bukanlah ibu peri, namun merekalah peri-peri kecil nya yang dengan serbuk-serbuk ajaib mampu mengemparkan dunia... mampu merubah Indonesia.

(Tulisan ini saya tulis di Kadur, Rupat Utara. Sekitar satu bulan setelah saya meninggalkan Tengganau untuk bertugas di pulau Rupat. Dan sungguh malam ini, saya merindukan mereka. Saya rindu kehidupan di Pinggir. Saya rindu berkhayal akan misteri yang tersembunyi di pohon-pohon sawit dan karet. Saya rindu panasnya yang terik dan air sumurnya yang sejuk. Saya rindu terperangkap dalam obrolan bahasa Melayu di rumah dan berusaha menebak-nebak yang mereka bicarakan. Saya rindu bermain game di laptop masing-masing dengan Wanti, adik angkat saya. Saya rindu masakan rumah yang sangat pedas namun membuat ketagihan. Saya rindu makan malam dengan sambal Jambal dan ikan asin. Saya rindu deru mesin diesel saat malam tiba. Saya rindu terperangkap (lagi) dalam obrolan bahasa Batak di sekolah dengan guru-gurunya. Saya rindu membuat alat peraga mengajar dibantu dengan ibu dan keluarga saya. Saya rindu murid-murid SDN 028 Tengganau dan sapaan mereka... )

Hanya dalam waktu satu bulan mereka mampu membuat saya merindukan hari-hari bersama mereka. Sedangkan saya, satu bulan yang saya lalui dengan mereka, belum melakukan banyak yang mampu membuat mereka mengingat saya. Saya merencakan untuk mengunjungi mereka pada bulan Februari 2011, akankah peri-peri kecil itu masih akan menyapa saya lalu bersembunyi?

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!