Jan
14

 "Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu: Kami semua berbeda... Namun perbedaanlah yang membuat kami disebut sebagai PELANGI"

 

Saya lahir dan besar di tanah Jawa. Berbahasa Jawa. Keluarga dan lingkungan pendidik Saya semua Jawa...

Hari ini, Saya mempunyai Kakak seorang suku Makean. Yang berbahasa Makean, lahir dan hidup dalam adat suku Makean...

Lalu, kakak ipar Saya adalah seorang dari bumi Gorontalo. Berbicara dalam dialek Holondalo yang kental...

Kalau saya bilang "Pripun kabare?", Kakak Saya bilang "Kabar Habato?", dan Kakak Ipar Saya akan bilang "Wolulu habiri?"

Terbayangkan bukan, betapa berwarna-warni hari-hari kami. Layaknya pelangi dengan segala keberbedaannya.

Adalah satu ikatan yang mempertemukan simpul-simpul persaudaraan diantara kami semua. "Saudara Rasae"... Begitulah orang Maluku menyebut istilahnya.

Suatu sore saat mengasar ikan, Ibu Opien bercerita pada Saya tentang istilah Saudara Rasae bagi orang Maluku. "Saudara Rasae tu, depe ikatan lebih-lebih dari saudara kandung". Dalam adat orang Maluku, jika dua orang yang sama sekali bukan keluarga mengikat janji untuk menjadi Saudara Rasae, maka ikatan di antara keduanya adalah sama dengan saudara kandung. Bahkan lebih.

Mengapa sama seperti saudara kandung? Karena hukum adat diantara kedua orang saudara rasae ini sama dengan hukum saudara kandung dalam agama. Seperti misalnya... Antara saudara rasae, diharamkan menikah. Hingga anak-anak keturunan dari saudara rasae juga tidak diperbolehkan menikah layaknya ikatan sepupu kandung dalam keluarga. Dalam hal pembagian warisan, secara adat saudara rasae bisa termasuk dalam ahli waris keluarga saudara rasaenya. Oleh karenanya, ketika dua orang telah mengikat diri menjadi saudara rasae, maka wajib diketahui oleh keluarga besar masing-masing.

Mengapa dikatakan melebihi saudara kandung? Karena tanggungjawab untuk saling melindungi dan menjaga satu sama lain antara saudara rasae adalah janji yang bahkan antar saudara kandung tidak mengikrarkannya.

Orang Maluku mempercayai, saudara rasae itu memiliki ikatan yang lebih erat dengan tanggungjawab yang juga lebih berat. Dibandingkan ikatan apapun...

Di awal tahun 2012, pada tepat 2 bulan saya menjadi warga pulau kecil ini, saya merenungkan tentang hal-hal yang telah saya lalui selama dua bulan di sini. Senyum, tawa, tangis berganti-ganti oleh banyak hal. Namun selama itu, ada 2 orang yang dengan setia senantiasa di samping saya. Menjadi partner kerja, menjadi sahabat, menjadi kakak, menjadi lawan berpikir tentang banyak ide.

Dialah Engku Udin dan sang istri, Ibu Opien...

Hari-hari kami lewatkan dalam banyak peristiwa... Kami pergi mengail, kami mengecat tembok sekolah, kami terdampar di tengah laut saat perahu mogok, kami berdebat soal pembangunan perpustakaan, kami lembur dalam malam-malam bercahayakan pelita untuk koreksi ujian, kami bermain congklak, kami menikmati hari-hari yang kadang penuh kekonyolan satu sama lain.

Mereka juga selalu ada bagi saya... Mereka yang tengah malam tergopoh-gopoh mencari bidan desa saat saya keracunan ikan, mereka yang semalaman menjaga dan mengompres badan saya yang menggigil, mereka yang tidak tidur hanya karena ingin memastikan saya tidur lelap saat sakit, mereka yang selalu menunggui saya pulang untuk makan sampai mereka sendiri tidak makan hingga larut, dan mereka yang selalu lebih bersedih dari saya sendiri saat saya mendapati satu masalah.

Ya, merekalah saudara rasae saya.

Malam Jum'at 12 Januari 2012, dalam tradisi bebaca yang mengundang beberapa warga dan tokoh desa, Saya dan Engku Udin saling berjanji sebagai saudara rasae. Yang sekaligus Ibu Opien sebagai kakak ipar saya.

Kami bertiga, orang yang semula tidak saling mengenal, orang yang terlahir di pulau yang saling bersebrangan, orang yang berbicara dalam bahasa yang saling tidak mengerti, orang yang lahir dan hidup dalam adat yang sama sekali berbeda, namun seperti halnya pelangi... Kami mejalin tenun-tenun persaudaraan itu dari ragam perbedaan satu sama lain dari kami.

Dari pulau kecil ini, saya memotret indahnya rajutan tenun kebangsaan.

Dari pulau kecil ini, saya belajar banyak tentang makna indahnya perbedaan.

Dari pulau kecil ini, Bhineka Tunggal Ika tak hanya menjadi sekedar retorika.

Karena saya, dia, mereka.. Indonesia!

Kamu? :)

 

-dari bawah pohon ketapang, 13 Januari 2012-

1 Komentar
Tinggalkan komentarmu

atau login dengan akunmu:

Belum punya akun? Daftar sekarang!