Jun
02

Sebelum ini aku selalu merasa kalau jarak antara Tasik-Bandung yang biasa ditempuh oleh bus Budiman selama 3-4 jam adalah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan sehingga aku memilih untuk jarang pulang ke kampung halaman dan bertemu keluarga. Namun ternyata, setelah di daerah penempatan perjalanan 3-4 jam adalah perjalanan yang sangat sebentar karena aku terbiasa dengan perjalanan 9 jam lamanya dari kota kabupaten menuju desaku.

Unit Pemukiman Transmigrasi Satuan Pemukiman 3 (UPT SP3) Kecamatan Tambora Kabupaten Bima daerah penempatanku. Terletak 300 km jauhnya dari kota Bima. Untuk menuju kesana dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, biasanya sekitar 9 jam. 7 jam di bus 2 jam naik motor dengan medan yang luar biasa. Daerah transmigrasi di kaki Gunung Tambora yang dibangun tahun 2005 ini memiliki jumlah penduduk yang terhitung sedikit, sekitar 120 KK. Rumah yang ditempatipun kebanyakan masih rumah transmigran, hanya 1 rumah yang sudah menjadi rumah batu yaitu rumah hostfamku.  Warga transmigran disini  diberi rumah serta lahan untuk tempat tinggal seluas 25 are dan lahan usaha 75 are. Untuk memenuhi kebutuhan hidup pada tahun pertama, mereka juga diberi jadud (jatah hidup) yang berupa beras, ikan, minyak, dan makanan pokok lainnya. Transmigran di SP3 berasal dai tansmigran lokal Bima dan Lombok. Bahasa Bima dan Bahasa Lombok menjadi bahasa utamanya. Aku sangat kagum dengan kemampuan anak-anaknya yang fasih berbahasa Bima dan Lombok, sehingga apabila ada satu anak yang berbicara dengan bahasa Bima anak yang lainnyaa menyahut dengan bahasa Lombok. Kemampuan berbahasa Indonesia juga sudah cukup dikuasai penduduk SP3.Daerah SP3 cukup gersang, tidak semua jenis tanaman bisa tumbuh disini. Walaupun begitu, hampir semua penduduk memanfaatkan lahan usahanya sebagai ladang. Ladang-ladang mereka yang terletak cukup jauh dari pemukiman ditanami jambu mete sehingga bijinya bisa ‘dipoke’ (petik) pada musim panas dan pada musim hujan (barat) ditanami kacang tanah, jagung, padi. Banyak penduduk yang masih berladang dengan cara berpindah-pindah. Selain menggunakan lahan usaha yang diberikan pemerintah, mereka menggarap hutan untuk dijadikan ladang. Sungguh menyedihkan ketika memasuki bukan Oktober, banyak hutan atau lahan kosong lainnya yang digunduli atau dibakar untuk dijadikan ladang. Sebenarnya dalam sekali panen jambu mete, para petani menghasilkan biji dalam jumlah yang sangat banyak. Namun karena keengganan untuk mengolah lagi dan ketiadaan alat membuat biji jambu mete yang sudah dipertik dijual begitu saja  seharga Rp 7.500-12.000,-  perkilonya. Padahal jika biji jambu mete sudah dikupas harganya bisa mencapai Rp 80.000,- /kg.

Selain kebun jambu mete dan rumah transmigran, panorama alam disini menawarkan keindahan yang luar biasa.. Gunung Tambora dan Bukit Sori Peto membentengi dari arah Selatan, Laut Flores terbentang di bagian Utara. Gunung dan Pantai bisa dinikmati sekaligus.  Subhanallah! Sungai Oi Marai yang mengalir sepanjang tahun menjadi sumber pengairan utama dan tempat untuk ‘rekreasi’ saat hari raya dan kenaikan kelas. Air terjun Oi Marai dijadikan sebagai pembangkit listrik tenaga air (yang selalu rusak saat musim barat).

 Dalam bahasa Bima, Oi Marai berarti Air yang Berlari. Seperti namanya, sungai Oi Marai mengelir sangat deras dan membelah jalan menuju Kawinda Toi (Desa induk) sekaligus jalur utara menuju kota Bima. Sungai ini dilalui begitu saja karena belum ada jembatan yang dibuat. Pada saat musim barat, sungai Oi Marai mengalir sangat deras sehingga akses SP3 ke arah utara tertutup sudah. Tak ada mobil atau motor yang bisa lewat. Kendaraan yang mencoba melewatinya akan terseret arusnya yang dahsyat. Musim barat memang dahsyat, hujan besar disertai angin kencang yang mengguyur terus-terusan dari mulai bulan November-Maret menyebabkan jalanan rusak dan tanah longsor. Bahkan membuat bendungan PLTA Oi Marai jebol sehingga listrik yang mulai menyala tahun 2010 ini rusak sementara setiap musim barat. Biasanya orang-orang baru akan memperbaikinya menjelang bulan Ramadhan (Juni/ Juli) dan kembali akan rusak saat musim barat menyapa sekitar bulan November-Desember.

Cuaca disini  terbilang ekstrim, musim barat yang dahsyat (November Maret)  berganti musim panas yang menyengat (sepanjang bulan Juni-September). Panasnya suhu menyababkan rumput-rumput berestivasi membuat pemandangan mata menjadi savana yang indah berwarna kuning. Selain ketiadaan listrik akibat jebolnya PLTA, sinyal adalah barang yang langka. Untuk mendapat sinyal, aku harus berjalan sejauh 1 Km lebih yang menempuh waktu sekitar 15 menit. Tebing sinyal di tepi pantai Laut Flores menjadi tempat satu-satunya mengais sinyal di SP3. Paling beruntung mendapatkan 1-2 bar sinyal telkomsel. Itu sudah cukup buat update status facebook, tetapi seringnya aku hanya mendapatkan 1 bar yang hanya bisa digunakan untuk telpon atau sms. Itu juga kalau geser sedikit atau duduk karena pegal berdiri setelah menelpon berjam-jam (berlebihan.hehe) sinyal itu akan segera hilang. Dari kesunyian dan kegelapan ini aku belajar  begitu berartinya keluarga. Dulu aku jarang sekali menelpon orang tua untuk sekedar bertanya kabar. Setelah susah sinyal, orang tua adalah orang pertama yang akan aku hubungi setiap ke tebing sinyal.Aku tidak setiap hari ke tebing sinyal, paling sering dua hari sekali.

Oi Marai dijadikan juga sebagai nama sekolah tempatku mengajar. Aku mengajar kelas 5 dan kelas 6. Di kelas 5 menjadi pengajar pelajaran matematika, B.Indonesia dan IPA sekaligus walikelasnya sedang di kelas 6 menjadi guru bidang studi pelajaran B.Indonesia. Murid SDN Oi Marai cukup sedikit, dari kelas 1 samai kelas 6 hanya 40 orang saja namun diklaim kepala sekolah sebanyak 69 untuk mendapatkan dana bos yang lebih banyak. Aku selalu melihat semangat membara dari mata anak-anak SDN Oi Marai. Semangat luar biasa untuk datang ke sekolah dan mempelajari sesuatu. Namun sayang, semangat ini kadang memudar oleh kehadiran guru yang tidak bisa dibilang rajin. 3 Orang PNS termasuk kepala sekolah, 5 honor daerah, 2 sukarela dan 1 guru bantu pusat (aku) harusnya sudah cukup untuk mengajar 6 kelas yang siswanya paling banyak 11 orang di setiap kelasnya. Tetapi, jauh dari harapan. Nama tinggallah nama, tugas tinggallah tugas. Hanya 2-3 orang guru yang rajin masuk sehingga tak jarang kami mengajar 2-3 kelas sekaligus setiap hari. Transparansi dana bos, tidak lolos kategori 2 untuk jadi PNS, buangan politik, masalah pribadi, gaji yang sedikit merupakan beberapa penyebab guru-guru enggan mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengajar.

Aku menemukan siswa-siswa cemerlang disini. Rosita yang ceria, cerdas dan enerjik. Atun yang tomboi, tapi perasa. Selia, gadis lombok yang keras kepala tapi penyayang. Hijrah yang aktif dan selalu ingin diperhatikan, dll. Semua anak memang punya potensi yang luar biasa! Tugas seorang guru adalah menggali, mengembangkan, memfasilitasi potensi mereka sampai mereka berada di tempat yang tepat. Seharusnya aku begitu, tetapi masih belum optimal. Selia, Atun dan Rosita mengikuti olimpiade sains kuark dan mereka mampu berkompetisi sampai semifinal. Ima mengikuti lomba bercerita di kabupaten. Sepertinya tugasku sebagai guru hanya mampu di meng’asimbojo’kan mereka, belum mampu meng’tmii’kannya. Tetapi prestasi bukan segala-galanya. Kebiasaan positif anak-anak yang lebih aku harapkan. Seperti Haryadin dan Roy yang mulai terbiasa solat fardhu dan menjadi imam kami (aku dan anak-anak) apabila solat dzuhur sepulang sekolah. Walaupun semua penduduk SP3 islam, tetapi untuk ibadah solat fardhu atau sekedar adzan di mesjid masih belum ada kesadaran.

Aku tinggal di rumah tansmigran Bima. Mama Sei yang nama aslinya Samsiah dan Bapak Emo alis Amin. Kebiasaan masyarakat Bima adalah memberikan nama panggilan dengan mengambil nama kecil mereka. Mungkin aku kalau tinggal di Bima akan dipanggil Neno J. Aku sangat menyukai makanan Bima yang bernuansa asam. Sepertinya setahun ini sisi lidahku yang lebih peka dibanding ujung dan depan.

Di SP3 hanya dua orang yang berprofesi sebagai nelayan sehingga jarang sekali ada ikan untuk dijadikan lauk. Walaupun warga SP3 mempunyai puluhan ayam, kambing dan sapi tetapi mereka hanya akan menyembelih untuk acara pernikahan, kelahiran, sunatan, kematian saja. Untuk makanan sehari-hari jarang menyembelihnya paling hanya ayam kalau memang sudah sangat mendesak. Bahkan diantara puluhan sebegitubanyaknya warga SP3 dan sebegituberjibunnya kambing dan sapi, saat idul adha tidak ada satu orangpun yang berkurban. Lauk (protein hewani) untuk penduduk SP3 adalah hal yang harus ada tetapi paling susah ditemukan. Uta karamba (ikan kecil yang dikeringkan) biasanya menjadi alternatif pilihan, itu juga kalau ada. Kalau tidak ada biasanya parongge (daun kelor) adalah uta mbeca (lauk sayur) yang menjadi favorit karena memang berlimpah.

Selain merasa cocok dengan masakan orang Bima, aku juga merasa tertarik dengan bahas Bima yang mempunyai beberapa kata homofon dengan bahasa Jepang. Menurutku bahasa Bima seperti perpaduan dari kata-kata dalam bahasa Jepang dan bahasa India. Bunyi akhiran –ai atau –au yang dibaca jelas atau huruf konsonan terakhir pada suatu kata yang dibaca mati membuat bahasa Bima menjadi bahasa yang sepsial.

Setahun menjadi PM adalah setahun yang luar biasa bagiku. Aku mendapat kesempatan untuk mempelajari banyak hal. Mempunyai keluarga baru yang menerimaku apa adanya, dinamika pertemanan dan kehidupan sosial, mempelajari karakter orang-orang yang unik, bersyukur dan bersabar dalam segala kondisi, menikmati perubahan alam yang sungguh dahsyat, melawan diri sendiri dari kesepian, kegelapan dan kesendirian.

Aku baru belajar sedikit, sedikit sekali. Namun aku harus kembali. Jatahku untuk belajar sudah habis.

Aku akan kembali, melanjutkan setitik mimpi. Kembali untuk lebih berbakti, dan berkontribusi. Semoga, aku bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berkontribusi untuk peradaban yang lebih baik.

4 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!