Agu
03

Aku        :“Anak-anak...”

Mereka :“Siap!”

Adalah kalimat yang selalu ku lemparkan pada kelas 4 ini, sebuah kelas unik yang ramainya luar biasa, tidak bisa diam, riuh, dan suka ngobrol. Namun sangat mudah membuat mereka terdiam dan mengarahkan konsentrasi pada satu arah, yaitu aku. Cukup dengan memberi kode “Anak-anak...” yang jika ternyata belum begitu mempan aku segera diam, mata menatap mereka dengan sorot mata tajam, sambil mengadahkan tangan plus menggerakan jari tanda menghitung, spontan mereka bereaksi. “Ibu menghitungggg.... dudukkkk... diammm!!!,” triak mereka sahut menyahut dan beberapa detik kemudian suasana kelas tenang, semua siswa duduk di kursi masing-masing, menatapku dan menunggu sesuatu. “Bagus! Kalian berhasil mengalahkan rekor kelas 6. Di kelas 6 mereka dapat segera duduk rapih baru pada hitungan ke 10 sedangkan kalian hanya 6 hitungan sudah bisa rapih,” kataku sambil mengangkat dua jari jempol pada mereka diikuti desisan suara ‘Yes!’ dari anak-anak itu. Namun demikian kadang kala dalam kejadian yang sama aku berkata dengan muka (pura-pura) kecewa,”Yah... kok mengalami penurunan? Padahal kelas 3 bisa duduk rapih pada hitungan ke 12, namun kalian baru bisa rapih pada hitungan ke 34.”

Di sini, kelas 4 adalah sekumpulan anak-anak yang memiliki daya saing tinggi. Mereka sangat menyukai kompetisi, terutama yang berbau permainan dan itu sangat membantu ketika kita, seorang guru berhasil mengajarkan kedisiplinan melalui sebuah permainan, insyaAllah mereka akan dengan senang hati mengikuti alur permainan kita.

Berdasarkan uji coba yang dilakukan sendiri didapatkan hasil sebagai berikut:

Cara ini sangat berhasil diterapkan pada kelas 3 dan 4, dan cukup berhasil di terapkan di kelas 5-6. Untuk kelas 1? Sejauh pengalamanku di sini mereka bukannya duduk diam namun justru ikut menirukan pergerakan tangan atau bahkan ada yang bertanya,”Ibu ngapain?”

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!