Agu
03

Sabtu, 29 Januari 2011

Subuh 04.00 hujan mulai turun dengan derasnya. Seakan tak mau berhenti, hujan tersebut semakin menderas menjelang adzan subuh pun setelahnya. Hingga pukul enam pagi suasana di desa tempat tinggalku ini nampak sepi dan gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan maupun kegiatan dan hal tersebut berlangsung hingga pukul 06.30 dimana hujan sedikit mereda. Menjelang pukul tujuh pagi mulailah ada sedikit aktivitas di luar rumah oleh warga, yakni berangkat ke sekolah ataupun mengantar anaknya ke sekolah.

Bagi masyarakat disini, hujan di pagi hari pertanda mereka tidak dapat melakukan aktifitas rutin sehari-hari, yakni menoreh getah karet. Hampir sebagian besar warga yang ada di sini adalah petani karet. Hujan di pagi hari ini tak ayal membuat mereka melakukan istirahat sedikit lebih lama, karena memang tidak ada yang dapat dilakukan. Apalagi di pulau Bengkalis ini. Terkadang ketika turun hujan, bahkan sinar mataharipun tak dapat menembus awan karena saking tebalnya awan hitam yang singgah tepat di atas pulau ini. Seberapa derasnya? Jangan di tanya. Curah hujan yang banyak tak jarang menimbulkan banjir yang bahkan dapat mengubah jalan menjadi sungai setinggi mata kaki seperti yang aku alami di hari sabtu ini.

Sudah hampir satu minggu tidak turun hujan. Beberapa tangki penyimpanan air bersih milik wargapun sudah mulai mengering karena air tak tercurah dari langit, dan kinilah saatnya mengisi tangki kembali dengan air jernih yang tercurah dengan berlimpah ini.

Karet adalah komoditi utama di sini. Hingga saat ini harga 1 kg getah karet dapat mencapai dua puluh ribu rupiah dan dalam seminggu-jika tidak turun hujan di pagi ataupun siang-petani karet dapat mengumpulkan getah karet hingga berlasan kilo. Pun jika dia aktif menoreh, dalam satu minggu puluhan kilo getah karet dapat di hasilkan dari kebun-kebun mereka. Namun penghalang terbesar adalah hujan di pagi hari. Menurut seorang petani karet yang juga merengkap sebagai guru di sekolah tempat ku mengabdi kini, pohon karet dapat menghasilkan getah yang banyak ketika di toreh di waktu subuh. Dan karena hal tersebutlah, beberapa guru yang juga memiliki profesi lain sebagai petani karet beberapa diantaranya selalu berangkat ke kebun untuk menoreh terlebih dahulu dan pulang ke rumah untuk membersihkan diri dari bau getah karet yang amat sangat ‘wuah’ sebelum beranjak menuju sekolah.

Hujan... melewati jalan yang telah beralih fungsi menjadi sungai...

Deru motor yang ku pacu mirip motor kampanye. Suara keras mengelegar dan terkesan cukup sangar adalah motor yang ku pinjam saat ini untuk menuju ke ibu kota kecamatan guna persiapan olimpiade tingkat kecamatan yang InsyaAllah akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Yang lebih sangar lagi, ni motor adalah motor ‘ajaib’ yang ku pinjam tempo hari untuk bertualang ke dusun tempat PM Tika berada, Belas. Yak, ini adalah motor pinjaman tanpa rem tangan dan rem kaki yang tak terlalu ‘makan’. Beberapa kali memakai motor ini nampaknya aku sudah mulai mahir menggunakan berbagai jenis kendaraan beroda dua pinjaman dengan berbagai keunikan yang dimilikinya hingga si pemilik tak lagi khawatir ketika aku meminjam motor-motor unik mereka.

Selepas sholat Dhuhur aku segera mempersiapkan beberapa buku matematika yang nantinya akan dipergunakan sebagai panduan untuk membuat soal olimpiade tingkat kecamatan. Seperti biasa, sebelum beranjak dari rumah aku selalu berkeliling mencari bapak atau ibu asuh untuk pamit (sekaligus ijin tuk meminjam kendaraan). Kali ini aku mendapat pinjaman berupa motor honda keluaran tahun 90-an dengan sedikit keunikan, yakni rem tangan hanya berlaku sebagai pajangan. Pernah secara iseng ku tanyakan mengenai sebab musabab rem tangan si motor ini kehilangan fungsinya sebagai rem tangan dengan senyum lebar ibu asuhku menjawab,”Dulu pas ibu masukin ke dalam rumah remnya natap (terbentur_red) sudut pintu sehingga remnya potol (terputus_red)”.

Selat Baru adalah akhir dari perjalanan siang ini, namun demikian aku harus mampir ke Brancah untuk menjemput seorang Pengajar Muda yang bernama Intan sebelum menuju ke tempat tujuan. Jalan dari Ulu Pulau (nama daerah tempat tinggalku) menuju Brancah sebenarnya sudah cukup menantang ketika dilalui dalam keadaan cuaca normal. Jalan kecil yang berkelok dan tak rata. Beberapa lubang di jalan yang memperlihatkan rangka besinya yang terkadang si rangka besi ini tumbuh menjulang hingga pengguna jalan harus ekstra berhati-hati untuk melewatinya. Jalan yang sudah sangat rusak hingga harus ditaruh beberapa batang pohon kelapa agar kendaraan beroda karet dapat melalui jalan tersebut. Dalam keadaan cuaca normal semua itu sudah menjadi tantangan tersendiri dan kini aku seorang diri harus melewati jalan itu seorang diri selepas hujan besar.

Satu simpang telah ku lalui dan tantangan medan yang sesungguhnya baru terlihat di depanku kini. “Bu Nandaaa...,” triak salah satu muridku dari dalam rumah panggungnya. Ku balas sapaanya sekalian melempar senyum pada orang dewasa di samping si anak itu yang mungkin adalah ibunya dan kembali ku lemparkan pandangan ke arah depan untuk fokus melihat jalan. Tak berapa lama kemudian, ku hentikan laju kendaraan. Menoleh ke arah belakang. Lalu celingukan. Sepi tak ada orang, ditambah dengan alih fungsi jalan menjadi sungai dadakan. Oh tidakk...

Terdapat beberapa jalan yang beralih fungsi menjadi sungai dadakan siang ini. Dua diantaranya cukup panjang dan sedikit dalam. Sadar bahwa motor yang ku bawa adalah motor pinjaman serta kontur jalan yang beralih fungsi menjadi sungai dadakan adalah jalan berlubang curam aku terdiam. Sempat ku berpikir berbalik memutar arah melewati dusun Belas dan menyeberangi jembatan sungai Liung untuk sampai ke tempat Intan. Namun dengan pertimbangan bahwa mungkin saja sungai Liung meluap karena hujan mengurungkan niatku untuk berbalik arah. Satu-satunya cara hanya melewati jalan ini. Aku terdiam dan berpikir sejenenak hingga akhirnya Allah dengan cara-Nya memberi sebuah petunjuk. Samar-samar dari kejauhan terlihat seorang pengendara sepeda motor tampak cakap dan lihai melewati sungai dadakan ini. Belok kiri, arahkan motor ke kanan lalu ambil posisi tengah dan ‘goal!’ si pengendara motor ini tiba di ujung dengan selamat. Mumpung masih terlihat gelombang kecil tanda air segera ku ikuti arah laju motor tersebut dan berhasil!

Hal yang sama aku lakukan saat menghadapi hal yang sama dilokasi yang berbeda. Kali ini tantangan yang harus ku hadapi memang sedikit lebih berat karena jalan berair merah ini adalah jalan yang memang banyak terdapat lubang bahkan ada satu-dua lokasi yang mana di dalam lubang tersebut terdapat besi tumbuh. Lama tak terlihat orang berkendaraan akhirnya ku putuskan untuk memacu motor ini dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Walau sesekali ‘kejeglong’ lubang namun Alhamdulillah lubang-lubang tersebut hanyalah lubang kecil yang tak berbonus besi tumbuh. Sampai di ujung jalan segera ku ucap syukur dan melanjutkan perjalanan yang masih 2/3 jalan menuju ke rumah Intan.

Sesampainya di rumah Intan aku melihat jam. Ternyata jalan yang biasa ku tempuh dalam waktu kurang dari 30 menit kini ku lalui selama lebih dari 1 jam?! Subhanallah...

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!