Apr
22

Ibu kita Kartini, Putri sejati

Putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa

Pendekar kaumnya, harum namanya

Wahai Ibu kita Kartini putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Lagu di atas menjadi pembuka acara Perayaan Hari Kartini di sekolah kami. Lagu itu dinyayikan oleh dua puluh orang siswa perempuan dan laki-laki, siswa kelas lima. Dengan memakai kebaya, sanggul, lengkap dengan make up-nya, para siswa perempuan terlihat cantik dan anggun. Di wajah mereka (para siswa) terpancar semangat Kartini, seperti photonya yang ada di buku sejarah atau di poster-poster.

Siswa laki-laki juga tak kalah menarik dengan menggunakan celana panjang yang dilapisi kain sarung, setelan kemeja, dan dilengkapi dengan topi segitiga menjulang ke atas, khas Palembang.

Setelah menyanyikan lagu “Ibu Kartini”, para siswa kemudian menyanyikan lagu  “Terima Kasih Guruku”. Dengan gerakan standar-goyang ke kanan dan ke kiri-mereka melenggak-lenggokkan kepalanya seiring dengan badannya.

Setelah hiburan pertama, acara lomba-lomba pun dimulai. Lomba pertama adalah Peragaan Busana Daerah. Sebanyak tiga puluh peserta, masing-masing berpasangan, bergantian berlengak-lenggok di atas karpet yang digelar di lapangan sekolah, yang setengah becek. Gaya mereka yang lucu-lucu mengundang tawa penonton.  Ada yang bisa bergaya bak model kecil di televisi. Tapi ada juga yang terlihat malu-malu, bahkan kaku.

Lomba kedua dilanjutkan dengan lomba “Menyanyikan Lagu Daerah”. Lagu “Yamko Rambe-Rambe dari Maluku serta lagu Soleram dan Ayo Mama dari Maluku pun didendangkan oleh peserta. Lomba ini tak banyak pesertanya karena keterbatsan pengetahuan anak-anak terhadap lagu-lagu daerah.

Lomba terakhir adalah lomba “Kreasi Modern”. Dengan lincah, anak-anak menirukan dance modern yang biasanya menjadi soundtrack sinetron-sinetron unggulan, sebut saja sinetron Putih Abu-Abu yang tanyang di SCTV.

Para penonton sebagian duduk di bangku, sementara lainnya berdiri di bawah pohon -terdiri dari perangkat desa, orang tua peserta lomba, dan masyarakat umum terlihat sangat antusias. Mulai dari yang pakai baju daster sampai anak-anak kecil yang tidak memakai baju ikut berkumpul di lapangan sekolah. Maklumlah, masyarakat di sini jarang sekali menemukan hiburan. Bisa dibilang, hiburan di desa hanya tiga. Televisi di malam hari-karena mesinnya hanya hidup di malam hari- pasar setip hari Rabu dan orkes/orgen jika ada yang pesta perkawinan. Makanya ketika ada keramaian, masyarakat langsung berkumpul.

Begitulah kami merayakan Hari Kartini. Ini untuk pertama kalinya di sekolah ini memperingati Hari Kartini. Malah, sebagian besar tidak tahu bahwa ada yang namanya Hari Kartini. Sebenarnya, acara ini baru direncanakan tiga hari sebelumnya. Sehingga persiapannya memang ala kadarnya. Pasalnya, saya baru ingat bahwa dua hari lagi adalah tanggal 21 April. Saya pun langsung mengusulkan ke kepala sekolah dan guru-guru agar memperingati Hari Kartini.

Setelah semua setuju, kami pun langsung mengumumkan ke seluruh siswa tentang lomba-lomba yang diadakan untuk memperingati Hari Kartini.. Jadilah, dua hari kami bekerja keras mempersiapkan segala tetek-bengek acara ini.

Sedianya, acara akan dimulai jam sembilan pagi. Tapi sampai jam setengah sembilan kami masih sibuk menyiapkan tempat. Semua pun terlihat agak panik, saat komite sekolah, ketua RT, dan perangkat desa lainnya mulai berdatangan.

Syukurlah, atas kerjasama semua pihak, acara pun berjalan dengan baik. Bahkan di luar perkiraan. Karena rencana awal hanya acara kecil-kecilan, tapi ternayata  peserta lomba tiba-tiba bertambah. Begitupun penonton yang berdatangan cukup banyak. Sehingga acara pagi itu, tak jauh beda dengan perayaan perkawinan di desa ini.

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!