Sep
23
Gue, Kamu, Saya, Elo, Anda, Kula, Awak, Dikau, Kowe, Dalem, Antum Beberapa kata memiliki makna yang kurang lebih sama. 'Saya ', 'aku ', dan ' gue' adalah salah satu contohnya. Tapi, seperti judul di atas, bahasa juga memiliki rasa. Maka, bukan hal yang dianggap sopan ketika kita menggunakan ' gue' ke guru kita, juga bukan hal yang nyaman di telinga saat kita menggunakan ' saya' saat ngobrol di warkop dengan kawan akrab kita. Ada di komunitas yang menggunakan bahasa Jawa tentu hal baru untuk saya, yang lahir dan besar di Jakarta. Awal datang ke sini, saya tidak terlalu paham apa itu 'reti ', 'kuwi ', atau sekedar apa beda 'madang ' dengan 'mangan ' . Ketidakpahaman itu tentu mendatangkan keterkejutan tertentu. Apa lagi saat merasa dibicarakan oleh para folks ini dengan 'de - e' (dia) . Tapi, ternyata keterkejutan itu juga dialami oleh beberapa teman yang berasal dari Jogja atau daerah sekitarnya. Apa pasal? Sederhana, 'rasa' dalam penggunaan bahasa Jawa di sini seperti agak hilang. Tak ada pilihan kata yang berbeda, antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orangtua. Tidak ada 'tilam ' atau 'tiyang '. Tidak ada ' kula' atau 'dalem' , hanya ada 'aku ' atau 'inyong' . Maka rasa menjadi lebih hambar dalam berbahasa. Di Amerika atau di Eropa, tidak ada sapaan 'mas' atau 'abang' . Panggilan terhadap orang yang lebih tua langsung menyebut nama. Suasana egaliter lah yang muncul dalam interaksi. Lalu, apakah absennya pilihan kata yang beda (halus -biasa-kasar ) di masyarakat Jawa Rupat ini bisa diartikan bahwa prinsip egaliter dipegang teguh oleh mereka? Jawaban saya setelah beberapa bulan di sini jelas; tidak. Rangga Septyadi
1 Komentar
  • alex
    Untuk Pengajar Muda (PM) 1 dan 2, dimana saja berada., pembawa pesan pertama dari Gerakan Indonesia Mengajar ke pelosok Nusantara. Setelah selesai mengabdi, adakah mimipi/ keinginan/ rencana untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat GIM menjadi gerakan bersama yang diketahui dan dimiliki semua rakyat Nusantara serta menimbulkan niat tulus dari rakyat di Nusantara ini untuk berpartisipasi dalam Pendidikan, baik secara langsung maupun tidak.
    Karena untuk menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, hanya dengan pendidikan. Dan pendidikan membutuhkan dana dan gerakan bersama, karena tanpa itu, kita tidak dapat menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, dan akhirnya Mutiara Nusantara akan hilang ditelan waktu.
    Akankan ini terjadi lagi dan lagi, tanpa bisa kita cegah dan hancurkan?.
    Sanggupkah Mutiara Nusantara kita, menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan itu dengan kekuatannya sendiri ?.
    Jadikan GIM sebagai pembuka jalan tetapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya karena tanpa adanya bantuan dari kita, rakyat nusantara lainnya, Mutiara Nusantara akan menemui kesulitan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu dirinya, mari kita bantu mereka, bisakah PM 1 dan 2, sekali lagi berpartisipasi menemukan jalan keluarnya.
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!