Jul
13

“Siapa yang sudah bosan dengan segala permasalahan pendidikan yang mendera negeri ini?” sebuah pertanyaan yang sempat dilemparkan kepada kami, para calon pengajar muda XIV, saat tiba di senayan bawah. Bagiku sendiri sebagai salah satu anak asli Indonesia yang dahulu juga merasakan proses pembelajaran di sekolah selama 12 tahun, pertanyaan itu seperti menyentil kenangan lama. Mungkin layaknya seseorang yang ditanya mengenai kisah kasih bersama mantan terdahulunya, enggan mengulik masalah apa yang ada, namun menatap optimis untuk masa depan yang lebih baik.

Pelatihan intensif sekitar 6 minggu lebih rasa-rasanya mengukir memori baru untuk bekal di kemudian hari. Saat setiap peserta dikelompokkan menurut daerah kabupaten penempatannya dan setiap individu akhirnya berangkat menuju desanya masing-masing. Sendiri kita tegar, bersama kita kuat. Ketika engkau merasa sedang sepi di jalanmu, ingat saja bahwa banyak temanmu yang juga berjuang dengan tantangannya. Meski setiap jalan tidak selalu sama tantangannya, malah hampir-hampir tidak bisa disamakan antar satu sama lain, namun sungguh setiap dari kita berjalan menuju ke arah yang sama. Bukankah kita semua memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan di awal tadi, ketika setiap peserta menapakkan kakinya maju ke depan yang menunjukkan kita punya jawaban serupa.

Satu bulan sudah kita diterjunkan di kabupaten penempatan. Pasti sudah banyak cerita juga masing-masing dari kita. Begitupun aku. Senandung nada dari suara seberang saat kalian menelpon atau beberapa lirik tulisan saat kalian mengirim pesan dan memberi kabar sungguh menjadi bahan bakar semangat kami satu kelompok penempatan dalam mengisi hari-hari di daerah. Juga teruntuk teman-teman seperjuangan penempatan satu tahun ke depan, keluarga yang menghangatkan dan saling mendukung satu sama lain.

Pelajaran demi pelajaran kita belajar. Saat awal kedatangan ke desa dan sekolah, saat bertemu dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, saat awal tinggal bersama anak-anak, rasa-rasanya diri ini yang lebih banyak belajar ketimbang mengajar mereka. Mungkin disitulah kita bisa menikmati perjalanan ini, ketika belajar dan berbagi bisa dikerjakan secara beriringan. Kalo kata opung buaya, “Sambil berjalan menebar jaring, sambil menyelam minum air”. Bukan begitu kawan?

3 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!